Maksudnya ke Jakarta, Eh Kepentok di Depok

389
Niatnya ke Jakarta
Photo by Akmal S. Sabiq on Unsplash

Bagi orang desa seperti saya, yang selalu takjub melihat Kawasan SCBD dan Monas di televisi, rasa-rasanya hidup di Depok merupakan variabel yang tidak pernah terpikir di otak saya. Saat saya kecil, saya membayangkan betapa bangganya bisa bekerja di Kementerian atau BUMN di Jakarta, tanpa pernah memikirkan kalau saya bekerja di Jakarta, di mana saya akan tinggal.

Bahkan hingga kuliah selama 7 tahun pun tak pernah terpikirkan di otak saya. Keadaan ini didukung oleh kantor pertama saya yang menyediakan kamar gratis untuk karyawan. Waktu itu saya nyaman-nyaman saja meski ada 4 orang dalam satu kamar.

Kehidupan Baru

Sehingga saya baru mencari kontrakan atau rumah setelah saya setahun bekerja, itu pun karena “disuruh” oleh supervisor yang menilai saya memerlukan ruang privat agar tidak stress karena setiap hari tidur dan bekerja di rumah yang sama.

Mulailah saya mencari kontrakan. Akan tetapi, melihat harga kontrakan dan kost di daerah Tebet Timur waktu itu yang seharga 2 juta per kamar, atau yang di bawah 1 juta tapi kumuh, saya langsung putus asa.

Pernah terpikir kembali ke kampung saja, untuk apa bekerja susah payah tapi seperempatnya untuk membayar kontrakan yang tidak menyajikan sejuknya pohon dan suasana yang hening. Belum lagi masalah keamanan kalau parkir kendaraan, drama barang hilang, hingga datang godaan memakai tinder karena akhirnya punya kamar sendiri. Waduh.

Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk nebeng tinggal di rumah kontrakan teman saya. Kontrakan teman saya cukup luas, mungkin luas tanahnya setengah hektar. Setengah bangunan dibuat rumah, setengahnya lagi taman.

Numpang Hidup

Kamar-kamarnya pun cukup luas, dengan parkiran yang bisa menampung tiga mobil. Bahkan teman saya ini bisa mengajak saudara-saudaranya, teman-temannya di kampung untuk hidup serumah, salah satunya ya saya ini.  Sayangnya lokasinya agak jauh dari kantor, yaitu di Depok.

Bagi perantau asli Jawa seperti saya, awalnya saya merasa jarak dari kantor saya di Tebet ke kontrakan di Depok sangat jauh. Ditempuh selama 1-1.5 jam perjalanan, karena macet di Lenteng, Pasar Minggu, Kalibata dan Pancoran.

Waktu itu saya belum begitu mengenal Jakarta. Belum tahu ada juga orang yang tinggal di Bogor tapi kerja di Mangga Dua, atau tinggal di Sawangan, Depok tapi bekerja di Pluit yang membutuhkan 4-5 jam perjalanan pulang-pergi. Bahkan mungkin ada yang lebih jauh lagi.

Tapi waktu, merupakan variabel yang dikorbankan kelas pekerja demi biaya kontrakan yang lebih murah, demi suasana malam yang lebih tenang, lingkungan yang lebih nyaman, meski hanya bisa dinikmati saat weekend. Dinikmati sambil tidur seharian, karena otot-otot tubuh berdemonstrasi menuntut haknya untuk istirahat dipenuhi.

Sungguh menderita jadi perantau di Jakarta, dan saya bersimpati pada orang yang dari lahir tinggal Jakarta. Semoga mereka tidak menderita seperti yang kami rasakan. Jarak dari rumah ke kantor lumayan dekat.

Tidak hidup berpindah-pindah kontrakan. Ketika bisa membeli rumah pun tidak tiba-tiba tergusur oleh pemilik tanah yang baru, karena ternyata meski tanahnya sama, tapi sertifikat tanahnya ada banyak.

Namun kalau perantau dan orang yang dari lahir tinggal di Jakarta mengalami hal yang sama. Wah masih mending tinggal di Yogyakarta. Mayoritas tanahnya dikuasai Sultan dan punggawa kerajaan, dan memang dari dulu tanah di Yogyakarta milih leluhur-leluhur mereka.

Rakyat sudah jelas kebagian tugas untuk ngontrak dari satu tempat ke tempat lain. Makanya rakyat sudah siap tergusur. Bahkan biar praktis rakyat kalau bikin rumah dari kayu saja, biar kalau pindah rumah mudah dilipat lalu disusun kembali, atau rumahnya digotong bersama-sama oleh orang satu kampung.

Baca juga: Menjadi PNS: Antara Mimpi dan Euforia Orang Tua Belaka

Kembali ke Daerah

Masih mending lagi tinggal di daerah, apalagi dengan APBD rendah seperti Wonosobo. Di kampung halaman saya. Orang-orangnya tidak takut digusur, karena tidak ada yang mau menggusur. Apartemen tidak ada. Hotel sedikit. Industri tidak ada. Tol tidak ada. Jalur Kereta pun tidak berfungsi.

Sehingga Anda bisa membeli rumah layak dengan tanahnya di bawah 100 juta. Sudah bisa hidup tenang, nyaman, sunyi dan jauh dari polusi asap dan suara kendaraan. Memang enak tinggal di Wonosobo, tapi ya lowongan pekerjaan tidak banyak.

Tapi sebenarnya tidak apa-apa. Zaman sudah berubah, urbanisasi seharusnya bukan menjadi masalah lagi. Asal memiliki smartphone dan kuota internet, setiap daerah memiliki akses atas informasi yang sama.

Harusnya sudah tidak ada anak daerah yang tertipu lagi oleh glorifikasi Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Tidak seperti saya dulu yang didoktrin televisi oleh pemberitaan-pemberitaan tentang Jakarta.

Dan tentunya saya berharap banyak industri menerapkan work from home, sehingga Anda dapat bekerja dari daerah yang lebih sejuk dengan kontrakan yang lebih murah, meski kantor Anda berada di Jakarta atau bahkan di Singapura.

Penulis: Affix Mareta
(Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)