Maaf, Saya Tidak Paham Tulisan Goenawan Mohamad

248
Maaf Saya Tidak Paham Tulisan Goenawan Mohamad
Lokadata

Mengapa Anda ingin membaca buku? Apakah Anda ingin menambah perspektif Anda tentang dunia, menambah pengetahuan Anda atau mencari referensi untuk membenarkan pendapat yang Anda yakini benar? Saya sendiri lebih sering melakukan alasan yang terakhir, saya membaca buku untuk menguatkan argumen yang saya yakini.

Menulis dan Membaca

Itulah mengapa menulis dan membuat buku amat penting, karena bisa menjadi referensi dan penguat tentang apa yang kita yakini. Belum tentu tulisan dan buku Anda langsung dibaca orang, tapi suatu saat bila situasi dan kondisinya mendukung, Andalah yang dicari.

Seperti yang terjadi pada akhir dekade 2000-an, saat saya masih SMA. Bagi kaum feminis liberal yang cenderung absurdis mereka mencari referensi buku bacaan dari sastrawangi seperti Djenar Maesa Ayu dan Ayu utami.

Bagi kaum kanan yang ingin mengerti indahnya narasi tapi masih haus akan alat dan argumen untuk menguatkan keyakinan Islam mereka, novel-novel islami karya Lingkar Pena dan Habiburrahman El Shirazy mungkin bisa jadi pilihan.

Ada lagi kaum santri moderat yang tidak pernah bosan berada di tengah, dan pendapatnya selalu memberi rasa tentram (bukan solusi) yang selalu mengagungkan sastrawan lawas macam Ahmad Tohari.

Kalau kaum kiri? Atau aktivis? Jelas siapa lagi kalau bukan mbah Pram? Padahal mbah Pram tidak kita tahu dengan jelas apakah dia betul-betul kiri  (kalau mau memastikan sendiri silahkan tanya langsung ke beliau).

Metode Pencarian Referensi

Namun itu semua hanyalah secuil contoh mencari referensi untuk menguatkan apa yang Anda yakini pada segmentasi buku fiksi. Belum lagi buku non fiksi? Belum lagi di zaman kiwari media sosial? Dengan amat mudah Anda mencari referensi.

Cukup tanyakan pada robot SIMI atau sentil-sentil handphone tanpa harus memiliki RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap) seperti di zaman saya masih SD.

Saat ini kita diseret aliran informasi untuk makin yakin dengan apa yang kita yakini. Makin taklid, lebih taklid dari santri pada Kyai-nya. Di ujung jalan taklid ini, radikalitas menanti. Tegak dan tak tergoyahkan.

Pertarungan antara “ahli Covid dadakan” dan yang menganggap “Covid 19” sebagai hoaks, merupakan contoh yang nyata. Dua-duanya merupakan korban (atau produk) dari konsumsi media sosial yang berlebihan.

Di Depok tempat saya tinggal, ada ibu-ibu yang tidak percaya Covid, meskipun suaminya sudah dilarikan ke Rumah Sakit karena Covid. Atau teman saya yang selalu menggembar-gemborkan bahaya Covid di media sosial.

Paranoid Akibat Media

Siang berganti malam terus mengunggah konten bahaya Covid dan memperingatkan warga Jakarta agar mematuhi PSBB/PPKM walau Ia sendiri tidak tinggal di Jakarta. Saking banyaknya konten hingga jika Anda ingin skip, Anda harus tap berkali-kali sampai jempol pegal, dan hampir akunnya saya block.

Dua orang ini merupakan contoh bahwa makin lama manusia makin mempercayai dirinya sendiri. Saking percaya-nya hingga menciptakan tembok antara dirinya dan dunia di luar dirinya. Kalau ada orang yang bilang “hilangnya kepakaran”, bukan semata karena jumlahnya yang berkurang karena ukuran kepakaran yang diukur dari popularitas, tapi banyaknya individu-individu semacam ini.

Parahnya lagi jika kemudian mengajak orang lain mengikuti pendapatnya. Lha wong masjid dan gereja saja boleh didatangi semua orang. Tuhan saja mendengarkan semua keluhan hambanya. Ini kok ada manusia yang hanya menerima saran hanya dari kaumnya sendiri, dan tanpa sadar menjadikan dirinya sendiri tuhan.

Makanya saya dari dulu mencurigai semua yang berbau eksklusif. Dari zaman ikut perkumpulan rohaniwan islam semasa SMA saya curiga kok ada ustaznya itu-itu saja, bahkan ada pengajian eksklusif yang berujung kaderisasi paham tertentu.

Baca juga: Perjalanan Panjang Goenawan Mohamad

Radikal dalam Berkarya

Ketika tinggal di Depok juga saya merasa teman-teman saya ada yang moderat banget hingga menganggap selain yang berbau moderat layak dijauhi, dan teman yang sangat liberal (cenderung orientalis) yang menganggap semua kebudayaan timur itu cuma mitos yang harusnya diganti dengan sains dan kebudayaan eropa.

Bahkan hingga bentuk eksklusivitas seperti anggota retail, atau anggota produk/brand tertentu, yang tujuannya membuat Anda makin sering belanja dengan iming-iming diskon.

Namun eksklusivitas bahkan radikalitas itu penting dalam berkarya, kok. Kalau saya tidak eksklusif dan intensif mengikuti komunitas menulis di Yogyakarta semasa kuliah, ya tulisan ini mungkin tidak pernah dibuat.

Saya hanya menjadi penulis blog yang tidak mengindahkan budaya dan politik masyarakat kontemporer Indonesia, negara serta alamnya. Dan pada titik tertentu saya juga harus keluar dari eksklusivitas dunia tulis menulis Yogyakarta, keluar dari komunitas, pindah ke Jakarta, untuk mendapat referensi baru. Lama-lama jadi inklusif.

Inklusivitas harusnya bisa membuat manusia saling menghargai. Contohnya saja, ini contoh loh ya, yang “ahli Covid dadakan” mau menghargai kemungkinan jamu asli Indonesia sebagai alternatif vaksin, dan yang percaya “Covid Hoaks” mau divaksin. Yang agamis menghargai kaum feminis serta LGBT. Gitu kan lebih indah.

Menjadi Inklusif

Agar lebih inklusif saya juga sedang berusaha membaca referensi lain, daripada yang biasa saya baca. Contohnya kali ini saya sedang membaca tulisan-tulisan Goenawan Mohammad. Dari dulu saya belum pernah membaca karya beliau karena sudah merasa angker tiap kali melihat catatan pinggir yang tebal dan berjilid-jilid.

Sang jenius ini tulisannya juga selalu membuat saya pusing. Terlalu banyak istilah filsafat dan referensi dari buku impor yang jauh dari jangkauan saya. Namun demi, supaya, agar, saya luas wawasannya, saya akhirnya memaksakan diri untuk membaca, meskipun setelah saya baca selembar, saya langsung tertidur.

Penulis: Affix Mareta
(Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)