Hidup Hanya Soal Memilih Jalan

444

Ketika saya dulu lima tahun kuliah di Semarang, saya belum sadar betul bahwa jalan rayanya amat lebar. Begitu Covid datang dan banyak jalan dibikin satu arah, Semarang menjadi lengang, terlihat lebih rapi.

Lalu timbul pertanyaan, ke mana orang-orang yang dulu memenuhi jalan raya? Seperti apa nasib mereka kini setelah Covid mereda.

Melewati Masa Sulit

Bagaimanapun Covid lebih kejam dari tuyul dalam mencuri penghasilan masyarakat menengah ke bawah. Tuyul konon hanya mengambil seratus-dua ratus ribu, tapi Covid membuat manusia tidak bisa menghasilkan selembar uang. Jika ada pun, tuyul tak sudi mencurinya karena nominalnya kecil.

Namun semoga saja, masalah penghasilan bukan jadi persoalan penting. Memang sedang ada resesi, sedang masa sulit.

Ya anggaplah penghasilan kecil sebagai latihan prihatin dan puasa, karena kedua hal tersebut katanya membuat kita lebih sehat. Nah kalau lebih sehat kan jadi lebih tahan terhadap Covid.

Apalagi kalau dalam menyikapinya mengambil jalan yang lebih bijak. Seperti ketika saya sedang mengisi bensin di daerah Cikini, Jakarta. Dari dalam mobil saya melihat karyawan SPBU berjoget sambil menunggu pelanggan.

Mengikuti alunan suara dangdut dari pengamen di pinggir jalan. Timbul senyum gembira di wajahnya bahkan ketika sambil mengisikan bensin ke mobil pelanggan tubuhnya masih meliak-liuk seakan tak mau lepas dari asiknya berjoget.

Mungkin tidak sesuai standar keamanan, mungkin melihat manusia berjoget ya hal yang biasa, tapi sore itu, sekitar jam 4, ketika matahari dan polusi bersatu mengukus jalanan Jakarta, apa yang saya lihat menjadi berbekas di ingatan.

Apalagi jam 4 merupakan waktu di mana manusia kantoran sudah malas bekerja, menunda-nunda pekerjaan, memilih bergosip, mulai menata meja kantor, karena jam 5 mereka akan pulang.

Jalan Pilihan Rakyat

Bahkan saking membekasnya, dalam perjalanan pulang, dari Cikini ke Depok, saya masih sibuk mikir “kok bisa gitu ya?”. Kok bisa ada rakyat mengambil jalan lain atas hidup yang tak tentu dan cenderung menderita ini.

Sementara Pemerintahnya tidak pernah mengajarinya. Pemerintah hanya tahu bahwa yang namanya jalan itu ya jalan raya, jalan batu, jalan beraspal, jalan kampung dan jalan tol.

Yang selalu diperpanjang, diperlebar, diperbaiki terutama tiap akhir tahun. Yang dibongkar lagi karena aspalnya jelek, lalu dibangun lagi dengan beton.

Padahal kalau kita membicarakan jalan fisik, tidak hanya jalan raya yang harusnya diperhatikan, ada juga yang namanya jalan kereta api yaitu rel besi.

Semenjak ada rel di Nusantara yang saat itu masih jajahan Belanda, Belanda bisa mengangkut hasil bumi dengan lebih mudah.

Bahkan hingga detik ini sumber daya alam yang diangkut kereta bisa mempermudah pengangkutan logistik maupun batubara, dan biaya jasa pengangkutannya menjadi sumber pemasukan utama PT KAI, sehingga seharusnya tidak usah repot-repot menyediakan kereta penumpang.

Tapi toh baru belakangan ini saja jalan kereta dibuat dobel, baru-baru ini saja dibangun baru, baru-baru ini saja diperhatikan.

Jalan Non Fisik

Selain jalan fisik jalan yang tidak diperhatikan Pemerintah yaitu jalan non-fisik yang diambil manusia ketika sudah terbangun dari masa kanak-kanaknya, berhenti hidup hanya untuk beradaptasi setiap hari tanpa menyadari aliran waktu menyeret hingga ajal tiba.

Jalan non-fisik ini dipilih karena sadar bahwa dirinyalah yang menentukan gerak tubuhnya sendiri, pola pikirnya sendiri dan merasa bisa mengendalikan relativitas waktu.

Setelah sadar bisa memilih jalannya sendiri, manusia menimbang-nimbang jalan mana yang akan ditempuh.

Jalan akademis menjadi mahasiswa dengan mengambil konsentrasi apa, jalan karir dengan mengambil pekerjaan sebagai apa, jalan rumah tangga dengan memilih istri yang seperti apa, hingga jalan ibadah dengan memilih mengikuti ustaz yang mana dan aliran apa.

Hingga diputuskan jalan yang ditempuh manusia akan terus ragu. Meski sebenarnya tidak ada jalan yang salah, karena ketika kita menentukan jalan pasti kita sudah tahu tujuannya.

Mencapai Sebuah Tujuan

Kalau tujuan tidak tercapai mungkin karena kita tidak berjalan, terlalu banyak istirahat, bekal yang dibawa kurang banyak atau terlalu berat, atau memang perlu menyerahkan tongkat estafet pada orang lain untuk melanjutkan perjalanan.

Tidak ada jalan yang salah karena ketika Anda memilih jalan menjadi pelajar yang gemar tawuran. Tanyakan pada Pemerintah kenapa budaya berkelahi dengan keroyokan membuat Anda bangga.

Tanyakan juga pada Pemerintah mengapa orang tua Anda tidak bisa memberikan afeksi dan pemahaman yang tepat atas jalan yang Anda pilih.

Tanyakan pada Pemerintah mengapa lebih mengurus kekerasan seksual di kampus sementara tawuran yang melanggengkan toxic masculinity justru tidak terdeteksi?

Tidak ada yang salah juga ketika Anda lulus sekolah, Anda memilih menjadi anggota ormas yang anarkis, bukan jalan Anda atau diri Anda yang harusnya disalahkan.

Namun sebaiknya kita tanyakan pada Pemerintah, kok sampai ada ormas anarkis masih dibiarkan. Sebab tidak mungkin Anda menjadi anggota ormas anarkis, jika ormas anarkisnya lenyap.

Jika selanjutnya Anda tidak memiliki pekerkaan dan nemilih jalan menjadi orang miskin juga tidak salah jika Anda memang memilih hidup serba kekurangan. Toh ada beragam cabang dari jalan miskin, ada jalan miskin bahagia, jalan miskin sengsara, atau jalan miskin yang sufistik.

Yang harusnya Anda tanyakan yaitu apakah itu benar-benar pilihan Anda, atau tidak ada pilihan lain sehingga Anda terpaksa hidup miskin? Jika karena terpaksa, silahkan Anda tanyakan pada Pemerintah kok bisa tidak ada pilihan lain?

Silakan Tanya Pemerintah 

Saya menyarankan Anda menanyakan pada Pemerintah karena memang sudah tugasnya untuk mengurusi hidup Anda. Sebab Anda sebagai rakyat sudah berjasa memberikan jalan bagi calon presiden menjadi presiden, memberikan jalan anggota partai untuk bisa duduk di lembaga perwakilan rakyat.

Sehingga lain kali jangan mau tertipu oleh calon presiden yang menjanjikan Anda jalan fisik berupa jalan raya dan tol, sementara Anda juga butuh kepastian jalan yang non-fisik.

Jika Pemerintah merasa sudah memberikan yang terbaik sementara Anda masih merasa terpaksa memilih jalan yang Anda pilih (karena tidak ada pilihan lain), mungkin sudah saatnya Anda jalan-jalan.

Namanya saja jalan-jalan, jadi harusnya ada banyak jalan yang dilihat, baik jalan fisik maupun non-fisik. Tidak hanya jalan ke tempat makan, kafe atau tempat rekreasi, tapi juga bertanya secara mendalam pada masyarakat sekitar mengenai jalan hidup yang mereka pilih.

Sehingga Anda bisa mendapat petunjuk mengenai jalan baru yang bisa Anda pilih. Dan bangga dengan jalan Anda, seperti naruto, dengan semboyannya “inilah jalan ninjaku!”.

Penulis: Affix Mareta                              (Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)