Kesalahan Logika yang Bikin Kamu Jadi Bodoh dan Sesat Pikir (2)

169
Ilustrasi: Freepik

Dalam buku berjudul “Kitab Anti Bodoh” terbitan Serambi yang berjudul asli Logically Fallacious: The Ultimate Collection of Over 300 Logical Fallacies), Bo Bennet, Ph.D (2015: 31-32) menjelaskan berbagai contoh kesalahan-kesalahan berpikir seseorang yang mengakibatkan cacat logika dan sesat pikir.

Di antara istilah jenis kesalahan logika adalah argumentum ad fidentia atau dinamakan menyerang kepercayaan diri.

Gambaran:
Menyerang rasa percaya diri seseorang alih-alih argumen dan bukti yang diberikannya.

Bentuk Logika:
Orang pertama menganggap Y benar, tetapi apakah dia benar-benar yakin tentang itu?

Contoh 1:
Wawan: Tadi malam aku mimpi menang lotre. Aku punya tabungan sejuta, jadi aku akan pasang sejuta!
Maman: Kamu tahu, kan, mimpi bukan cara yang tepat untuk memperkirakan masa depan. ltu cuma letupan acak sel saraf.
Wawan: Sepengetahuanku, kamu bukan dokter ahli saraf atau ahli jiwa, jadi bagaimana kamu bisa yakin aku tidak mungkin melihat masa depan dalam mimpi?
Maman: Mungkin saja kamu bisa melihat masa depan, kukira.

Penjelasan:
Meskipun Maman berusaha menyanggah, Wawan berupaya melemahkan argumen Maman dengan membuat tidak yakin akan kedudukannya. Ini merupakan siasat menyesatkan yang digunakan Wawan. Jika Maman terjebak, cacat logika ada di pihaknya.

Contoh 2:
Agus: Kamu mengaku tidak percaya dunia gaib di sekitar kita dan makhluk gaib dapat menembus tubuh kita setiap saat. Bagaimana kamu bisa yakin itu tidak terjadi? Apa kamu yakin 100 persen?
Asep: Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku yakin 100 persen?
Agus: Nah, itu dia! Satu angka untukku! Wakwaw!
Asep: Apa?!

Panjelasan:
Ini merupakan bentuk sesat logika umum yang sering terjadi di antara orang-orang yang berdebat tentang perkara gaib atau perkara lain yang tidak dapat diuji kebenarannya.

Jika nalarnya cetek, Asep mungkin meragukan kebenaran pendapatnya sendiri, bukan karena bukti baru yang diberikan, melainkan karena serangan langsung terhadap rasa percaya dirinya. Keunggulan Agus adalah dia tidak menganut keyakinan dogmatis dan benar-benar menyadari perbedaan kemungkinan dan peluang. (lihat mengacu kepada kemungkinan).

Pengecualian:
Saat seseorang menyatakan kepastian atas perkara yang tidak diketahui kepastiannya, Anda berkewajiban menunjukkannya.

Kiat:
Yakinlah bahwa Anda berpeluang pasti atau sangat berpeluang pasti benar, tetapi hindarilah kepastian dogmatis sebisa-bisanya dalam wilayah di mana kepastian tidak diketahui. (MZN)