Kaum Muda, Gim Online dan Algoritma Sosial

278
Algoritma Gim Online
Photo by Onur Binay on Unsplash

Aplikasi di smartphone Anda dibuat menggunakan kode-kode mesin yang disusun atas algoritma tertentu, dan yang disebut Algoritma merupakan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah. Namun, apakah yang disebut “masalah”? Jika masalah yang dimaksud yaitu masalah-masalah sosial, masalah politik, masalah hukum yang bisa dibantu dengan aplikasi maupun website, tentu bermanfaat.

Etika dan Masalah Teknologi

Misalnya aplikasi m-banking yang memudahkan penggajian, aplikasi jual beli produk UKM, aplikasi pencatatan data penduduk oleh Pemerintah yang terenkripsi dengan baik, tentu aplikasi semacam ini bermanfaat. Namun bagaimana bila yang disebut masalah yaitu profit perusahaan teknologi informasi yang terus turun? Tanpa mengenal etika, programmer dipacu untuk membuat aplikasi agar pengguna ketagihan.

Hasilnya setiap beberapa menit ibu-ibu dibuat selalu mengecek keranjang belanjaan di aplikasi e-commerce atau remaja yang tak henti mengecek notifikasi like, share dan comment atau juga anak-anak yang ketagihan bermain gim online.

Jika teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang, dari sekadar smartphone yang terlihat jelas oleh mata Anda hingga teknologi yang kian subtil misalnya smartphone yang berbentuk kacamata atau pun kontak lensa, maka masalah algoritma di atas masih akan terus terjadi.

Jika para programmer yang tiap tahun dicetak di kampus-kampus maupun lembaga kursus tidak memiliki empati, wawasan sosial dan kepedulian terhadap kaum termarjinalkan, maka mereka akan terus menjadi budak pemodal besar, dan masalah-masalah algoritma di atas akan terus memburuk.

Kehilangan Nalar Imajinasi

Dengan membuat manusia ketagihan sebuah aplikasi di smartphone, daya nalar dan imajinasi manusia dikuasai, sehingga manusia hanyalah alat untuk terus mendapat pundi-pundi uang. Masalahnya kemudian yaitu, saya sendiri mengalaminya.

Dengan kondisi saya yang ketagihan gim online, saya sadar saya dijadikan “alat” oleh perusahaan teknologi informasi akan tetapi saya akan terus bermain gim karena teman-teman saya memainkannya dan terdapat sedikit opsi lain selain menggunakan aplikasi tersebut.

Pandemi menyebabkan saya di rumah saja, menganggur membuat waktu luang saya lebih banyak, dan di sela-sela kegiatan menyapu, mengepel, memasak untuk istri, gim online memberikan rasa senang yang dulu (saat saya masih anak-anak) tidak saya dapatkan.

Bermain gim online saat dewasa merupakan bentuk balas dendam karena saat anak-anak saya dibatasi untuk memainkan nintendo atau play station dengan memperbanyak belajar, agar kita sukses di masa depan, tapi di kemudian hari kita sadar, semua yang kita pelajari tidak membuat kita sukses atau bahkan sekadar makin kaya.

Pemicu Penyakit Mental 

Namun jika dibandingkan teman-teman saya yang lain, tingkat ketagihan saya tidak terlalu parah. Saya tidak serius-serius amat memainkannya. Tidak sampai membeli skin Hero Mobile Legend yang harganya puluhan juta. Tidak pula sampai lupa bermain bersama anak maupun istri. Sudah cukup meski bermain di level yang rendah. Saya juga menyadari tangan saya tidak secepat teman-teman saya, istilahnya “slow finger”. Saya pun cuma bermain 3-4 jam sehari.

Kalau dipikir, memang menyebalkan sih, waktu 3-4 jam yang bisa dimanfaatkan untuk membaca buku maupun beristirahat malah digunakan untuk bermain gim. Mengorbankan waktu untuk sesuatu yang membuat otak makin lelah, mata makin pedih dan emosi makin memuncak ketika kalah atau kawan sepermainan yang tidak bisa diajak berkoordinasi dengan baik, yang katanya juga memicu penyakit mental.

Baca juga: The Social Dilemma: Kisah Tersembunyi di Balik Media Sosial

Hingga di Tiongkok ada wacana membatasi memainkan gim online bagi kaum mudanya, sekitar 3-4 jam dalam seminggu! Wah konyol, kalau saya jadi warga negara Tiongkok, saya langsung minggat ke negara lain!

Saya kemudian berandai-andai, kalau misalnya di Indonesia juga diterapkan pembatasan serupa, apa alternatif kegiatan yang ditawarkan bagi kaum muda. Kalau misalnya membaca, apakah kaum muda kita sudah mendapat akses yang baik terhadap bahan bacaan yang berkualitas? Kalau misalnya agar bisa belajar lebih giat, apakah pendidikan kita sudah cukup menyenangkan sehingga membuat siswa betah di sekolah?

Tawaran Alternatif Solusi

Kalau misalnya agar bisa bermain bertatap muka langsung dengan teman-temannya, apakah bisa dipastikan kaum muda yang tidak bermain gim online bisa terhindar dari narkoba dan tawuran? Ujung-ujungnya yaitu, kalau misalnya Pemerintah benar-benar membatasi gim online, apakah Pemerintah menjamin hidup kaum muda di masa depan dengan adanya universal income dan tempat tinggal gratis yang layak ditinggali?

Oleh karena itu saya sangsi Indonesia (terutama Kominfo dan Kemdikbud) sudah siap membatasi masyarakatnya memainkan gim online. Lantas jika sekadar gim online saja tidak bisa ada regulasi untuk membatasinya, begitu juga dengan aplikasi-aplikasi lain yang membuat ketagihan, meski kita tahu dampak yang bisa ditimbulkan.

Untuk itu, berdasarkan sila pertama Pancasila, kita memang hanya bisa berserah pada maha pembuat algoritma kehidupan, Tuhan yang Maha Esa, atas semua yang terjadi di negeri ini.

Penulis: Affix Mareta
(Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)