Karakter-karakter Pemuda Ideal Menurut Al-Qur’an

492
Foto: iStock

Pemuda adalah aset sebuah bangsa yang tak ternilai harganya. Tak heran apabila kemajuan atau kemunduran suatu bangsa dan negara tergantung pada para pemudanya.

Selain itu, masa muda adalah fase yang sangat vital bagi setiap manusia. Karena di fase inilah yang akan menjadi salah satu kunci masa depan seseorang, apakah kelak menjadi orang sukses dan bermanfaat, menjadi orang biasa saja, ataukah menjadi orang gagal dan menyusahkan orang lain.

Oleh sebab itu, perlu penanaman karakter sejak dini bagi setiap pemuda agar menjadi pemuda harapan masa mendatang. Lalu sebenarnya, apa saja karakter yang ideal bagi pemuda hari ini?

Dalam buku Tafsir Al-Qur’an Tematik: Pembangunan Generasi Muda terbitan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur′an Kementerian Agama RI (2-16: 2011), dijelaskan bahwa Al-Qur′an menyebutkan karakter remaja atau pemuda yang bisa menjadi uswah, teladan, dan sumber inspirasi bagi sesamanya sepanjang zaman.

Mereka adalah orang yang memiliki nilai idealisme, kejuangan dan kepeloporan; dedikasi, loyalitas, dan pengabdian kepada orang banyak; keteguhan dalam mempertahankan iman; dan perjuangan hidup menghadapi kesulitan menuju puncak prestasi. Pemahaman rinci karakter-karakter tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Nilai idealisme, kejuangan, dan kepeloporan pemuda

Idealisme, perjuangan dan kepeloporan pemuda dalam menegakkan prinsip tauhid, tidak ada tuhan selain Allah, di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala, muncul pada ayat yang berikut:

قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ

Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” (al-Anbiya′/21: 60)

Al-Qur′an menjelaskan karakteristik pemuda yang memiliki idealisme, kejuangan, dan kepeloporan dalam menegakkan prinsip tauhid sebagai berikut.

a. Mendapatkan الرشد (ar-rusyd), bimbingan dari Allah

Ibrahim adalah pemuda yang mendapatkan (ar-rusyd), sehingga ia sangat kritis terhadap keyakinan bapak dan kaumnya dan berusaha mendobraknya dengan program pemurnian akidah sebagaimana dijelaskan pada ayat yang berikut:

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ. إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk, dan Kami telah mengetahui dia. (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?”(al-Anbiyā’/21: 51-52)

b. Memiliki pola pemikiran yang logis dan kritis

Ibrahim adalah model remaja atau pemuda yang memiliki pola pemikiran yang logis dan kritis. Ia, dengan semangat idealismenya, menghancurkan berhala-berhala, kecuali satu berhala yang paling besar. Ia menghadapi para pemegang otoritas di Babilonia, yang menyaksikan berhalanya hancur, dengan dialog-dialog rasional. Semuanya tergambar pada ayat Al-Qur’an yang berikut:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (al-Anbiya′/21: 57-58)

c. Bertanggung jawab atas tindakan, berani menerima hukuman

Prinsip tauhid yang diperjuangkan Nabi Ibrahim di tengah-tengah masyarakat penyembah berhala sejak remaja itu telah menumbuhkan tanggung jawab dan keberanian menghadapi segala risiko. Beliau tidak gentar menerima hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup yang diputuskan oleh pemegang otoritas di Kerajaan Babilonia sebagaimana dijelaskan pada ayat Al-Qur′an yang berikut:

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (al-Anbiya′/21: 68)

d. Mendapat perlindungan Allah dari hukuman manusia

Pemuda Ibrahim divonis hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup, namun hukuman itu tidak membinasakannya. Beliau mendapat perlindungan Allah sebagaimana dijelaskan pada ayat Al-Qur′an yang berikut:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ. وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” (al-Anbiya′/21: 69-70).

2. Dedikasi, loyalitas, dan pengabdian kaum muda

Al-Qur′an menjelaskan salah satu profil generasi muda yang ideal, yakni generasi muda yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pekerjaan, memiliki loyalitas kepada mitra kerja, dan pengabdian yang tulus kepada sesama yang membutuhkan, terutama kaum duafa. Profil pemuda tersebut tergambar pada ayat Al-Qur′an yang berikut:

Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatangi ayahnya dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.” Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (al-Qasas/28: 23-26).

3. Keteguhan pemuda dalam mempertahankan iman

Karakter generasi muda yang teguh pendirian dalam mempertahankan iman tergambar pada kisah Ashabul-Kahf yang berikut:

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (al-Kahf/18: 10)

4. Perjalanan hidup dari kesulitan menuju puncak prestasi

Al-Qur’an menjelaskan pola kehidupan remaja yang mengalami kesulitan, tetapi berkat kegigihannya dalam mengubah nasib berhasil meraih puncak prestasi. Semua itu merupakan perpaduan yang simponi dari kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas sehingga roda kehidupan ini berputar sedemikian rupa sebagaimana tercermin pada ayat Al-Qur′an yang berikut:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim. (Āli ‘Imran/3: 140)

Demikian penjelasan tentang karakter-karakter yang ideal bagi pemuda berdasarkan Al-Qur’an. Tentu saja, macam karakternya tidak sebatas itu, namun masih banyak karakter lain kitab suci yang perlu ditelusuri lebih mendalam lagi. (MZN)