Kandungan Gizi Kurma yang Bermanfaat untuk Hidangan Sahur dan Berbuka Puasa

330
Ilustrasi: Freepik

Bagi umat muslim, khasiat kurma sudah terkenal sejak zaman dahulu. Bahkan, buah ini dianjurkan dalam hadis sebagai makanan pembuka saat bulan Ramadhan. Sehingga anjuran ini ada dasarnya yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut Suyanti Satuhu dalam buku Kurma: Khasiat dan Olahannya (2010:12-15), orang-orang Timur Tengah percaya bahwa kurma dapat menghilangkan rasa sakit. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan kalium dan asam salisilat yang memang berfungsi sebagai anti nyeri. Kurma juga dipercaya dapat mengurangi risiko terkena serangan stroke, menurunkan demam, dan sebagai penambah energi yang efektif saat puasa karena kandungan gulanya tinggi, yakni antara 75—80%.

Kebutuhan energi untuk metabolisme basal setiap orang per hari adalah 25 kkal/kg berat badan. Sementara untuk aktivitas fisik sehari-hari dibutuhkan tambahan energi sebesar 30% dari energi basal. Pada saat berpuasa, asupan energi dalam tubuh berkurang sebesar 20—30% sehingga tubuh lebih cepat lemas dan lelah.

Oleh karena itu, diperlukan asupan gula yang dapat segera diabsorbsi ke dalam tubuh untuk menggantikan energi yang hilang. Untuk memenuhi kebutuhan energi saat berbuka puasa, seringkali orang lebih suka mengkonsumsi makanan berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Padahal, nasi merupakan sumber karbohidrat kompleks yang memerlukan proses pencernaan cukup lama.

Sebenarnya, makanan yang mengandung gula sederhana lebih cocok untuk berbuka puasa karena energinya siap dipakai oleh tubuh, contohnya adalah buah-buahan. Mengkonsumsi 2—4 porsi buah-buahan yang dilengkapi dengan 3—5 porsi sayuran dapat memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. Kandungan gula sederhana berupa fruktosa dan glukosa yang terkandung dalam buah•buahan siap dipakai oleh tubuh.

Hanya dalam beberapa menit, tubuh akan segera memperoleh asupan energi dan menjadi bugar kembali. Tidak seperti buah-buahan kebanyakan yang merupakan sumber utama vitamin dan mineral dengan kandungan energi rendah, kurma mengandung karbohidrat tinggi sehingga dapat menyediakan energi yang cukup saat berbuka. Sebagian kandungan gulanya terdiri atas gula glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Meskipun kandungan zat gula tinggi (70%), yakni 70—73 g per 100 g berat kering, zat-zat gula tadi sudah diolah secara alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

Fruktosa, misalnya, mudah dicerna dan dibakar oleh tubuh. Fruktosa akan diubah menjadi glukosa dengan cepat sehingga langsung diserap oleh organ pencernaan dan dikirim ke seluruh tubuh, terutama organ-organ pusat, seperti otak, saraf, dan sel darah merah. Fruktosa bersama zat salyolosa akan berpengaruh untuk membangkitkan gerakan peristaltik usus.

Gula yang terkandung dalam kurma rata-rata baru terserap habis dalam tempo 45—60 menit berbeda dengan segelas air, yang mengandung glukosa, akan diserap oleh tubuh dalam waktu 20—30 menit. Inilah alasan mengapa kurma bermanfaat dalam menu berbuka puasa atau sahur karena dapat menunda rasa lapar yang muncul di saat berpuasa.

Kebanyakan varietas kurma mengandung glukosa, yakni jenis gula yang ada dalam darah, atau fruktosa, yakni jenis gula yang terdapat dalam sebagian besar buah-buahan. Namun, satu varietasnya yang bernama Deglet Nour yang tumbuh di Kalifornia hanya mengandung gula sukrosa, yakni gula yang dikenal sebagai gula pasir.

Penyerapan gula kurma di dalam tubuh lebih cepat bila dibandingkan dengan daya absorbsi pati nasi yang memerlukan waktu berjam-jam. ltulah sebabnya kurma merupakan makanan yang sangat baik untuk berbuka puasa karena dapat menyuplai asupan energi secara cepat.

Kandungan vitamin dalam setiap 100 g kurma kering adalah vitamin A sebesar 50 IU, thiamin 0,09 mg, riboflavin O, 10 mg, serta niasin sekitar 2,20 mg. Kehadiran vitamin ini dapat meningkatkan kebasaan Iambung yang terlalu asam setelah 13—14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman.

Vitamin A berfungsi untuk menjaga kesehatan mata, pertumbuhan, reproduksi, imunitas atau kekebalan tubuh, dan pemeliharaan sel epitel. Vitamin A dan niasin memiliki fungsi penting dalam membentuk dan memelihara kulit. Sementara bersama riboflavin, niasin akan membantu melepaskan energi dari makanan.

Kurma varietas Hamraya memiliki kandungan total karotenoid lebih besar dibandingkan dengan varietas Iainnya, kurma yang dipanen 20 minggu setalah polinasi memiliki kandungan total karotenoid lebih tinggi dibandingkan dengan umur 22 dan 24 minggu setelah polinasi. Kurma juga mengandung antioksidan.

Kandungan antioksidan pada buah kurma berbeda antara varietas satu dengan lainnya. Yang termasuk dalam aktivitas oksidan adalah komponen fenolik (cinnamic acid) dan flavonoid (flavones, flavonols dan flavanones). Dari hasil penelitian Hafid Boundries et. al diketahui bahwa kandungan aktivitas antioksidan tertinggi justru terdapat dalam biji kurma, demikian pula dengan kandungan fenoliknya. (MZN)