Jenis Bacaan Buku R.A Kartini saat Muda

422

Kartini adalah salah satu perempuan yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 M. Ia dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Ternyata, ada sisi-sisi kehidupan Kartini yang jarang diketahui oleh masyakarat hari ini.

Dalam buku berjudul Sisi Lain Kartini (2016: 8), Prof. Djoko Marihandono, dkk. mengungkapkan sejarah pada 1885 Kartini yang baru berusia 6 tahun dimasukkan ke sekolah dasar eropa atau Europesche Lagere School (ELS).

ELS merupakan sekolah khusus yang diperuntukkan bagi anak-anak Bangsa Eropa dan Belanda Indo. Anak pribumi yang diizinkan mengikuti pendidikan di ELS hanya anak yang orang tuanya menjadi pejabat tinggi pemerintah. Bahasa pengantar di ELS adalah bahasa Belanda.

Soeroto dalam buku Kartini: Sebuah Biografi menjelaskan, kegiatan belajar di ELS mampu diikuti dengan baik, bahkan Kartini termasuk siswa cerdas yang mampu bersaing dengan siswa lainnya. Keberadaan Kartini di ELS menarik perhatian banyak orang Eropa, karena menjadi siswa pribumi yang mampu berbahasa Belanda dengan baik. Kemampuan tersebut diperoleh dengan cara rajin membaca buku dan koran berbahasa Belanda, serta mempraktikkan bahasa Belanda pada saat bermain dan menemui tamu-tamu bangsa Belanda yang datang di kabupaten (Soeroto, 1982: 44).

Singkat cerita, awal 1892 saat Kartini berusia 13 dinyatakan lulus dari ELS dengan nilai yang cukup baik. Kartini sangat berharap ayahnya yang berpikiran maju akan mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikan di HBS Semarang. Kartini berlutut di hadapan Bupati R.M. Sosroningrat meminta izin untuk melanjutkan pendidikan, “Tidak“, itu jawaban yang didapatkan. Jawaban pendek itu sangat menyakitkan, Kartini lari ke kamar dan masuk ke dalam kolong tempat tidur untuk menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaan.

Kartini menyadari bahwa masa kebebasannya menikmati dunia anak-anak akan segera berakhir, karena sesuai dengan tradisi kalangan bangsawan Kartini harus memasuki masa pingitan. Masa pingitan menjadi masa yang penuh dengan kesedihan dan kesunyian, karena tidak ada yang mendukung apalagi membela gagasan-gagasannya untuk membela kaum perempuan (Marihandono, 2016: 12).

Kartini pun sadar menangisi nasib tidak akan menyelesaikan masalah, yang diperlukan saat ini adalah berusaha dan berjuang. Kartini mulai memanfaatkan ruang pingitan untuk memuaskan kegemarannya membaca.

Apabila semua pekerjaan yang menjadi tugasnya selesai dikerjakan, Kartini langsung mengambil buku, surat kabar, atau majalah untuk dibaca. Bacaan dengan berbagai tema semuanya dibaca, sehingga pengetahuan yang baik maupun buruk ada dalam pikirannya.

Prof. Marihandono menyebut, Kartini muda sudah bisa menyeleksi dan mengkritik buku-buku yang dibacanya. Buku-buku yang dinilai menjijikkan akan disingkirkan dengan penuh kebencian, sementara buku-buku berkualitas yang bisa memberikan pengetahuan baru dan baik akan dibaca berulang-ulang dan disimpan secara rapi dalam lemari penyimpanan.

Kartini merasa tidak perlu untuk membaca buku-buku yang menjijikkan dan memuakkan, karena dalam masa pingitan dirinya sudah banyak tahu tentang kehidupan manusia dewasa melalui cerita orang-orang yang ada di sekelilingnya. Interaksi Kartini dengan orang-orang yang berusia lebih tua dan sudah berkeluarga menjadikannya dewasa sebelum waktunya.

Kartini sangat menikmati bacaan-bacaan yang penuh dengan pengetahuan, karena membuatnya lupa akan kesedihan hidup yang harus dijalani. Buku-buku tersebut akan terus dibaca dan dibuatkan catatan kecil yang berisi tema-tema yang dinilai penting. Isi buku catatan mencakup tentang perilaku yang baik, pandangan hidup yang bisa dijadikan contoh, serta jiwa dan pikiran besar, yang nantinya akan dipelajari dan dipahami kembali.

Membaca dan membuat catatan menjadi rutinitas yang membuat Kartini terus bersemangat untuk mewujudkan impian lahirnya persamaan hak dan derajat antara laki-laki dan perempuan. Kartini mempelajari dan memahami pemikiran-pemikiran emansipasi yang berkembang di belahan dunia lain. Pengetahuan tersebut menjadi dasar bagi Kartini dalam mewujudkan terciptanya kesetaraan manusia dan kemanusiaan (Marihandono, 2016: 18-19).

Itulah sekelumit sisi lain dari sekolah dan jenis bacaan buku yang sangat berpengaruh membentuk Kartini sehingga menjadi tokoh perempuan nasional yang selalu dikenang, disegani, dan diikuti, yang kini jejak perjuangannya oleh perempuan-perempuan Indonesia. (MZN)