Islam dan Pilihan Kehidupan Manusia

204
Islam
Photo by Levi Meir Clancy on Unsplash

Dunia ini dikelilingi oleh pertanyaan pertanyaan dasar dari apa, siapa, kapan, mengapa, kenapa dan bagaimana. Namun diantara pertanyaan dasar itu ada satu pertanyaan yang menjadi senter utama, pertanyaan “kenapa” karena jika semua pertanyaan “kenapa” terjawab maka pertanyaan lain secara tidak langsung akan terjawab pula.

Di dalam Islam pertanyaan “kenapa” dipelajari dalam bagian bab Aqidah. Kenapa harus beragama, kenapa harus Islam, kenapa harus Allah? Pertanyaan se-simple ini akan terasa berat dijawab oleh kebanyakan manusia karena value dari pertanyaan ini merupakan segmentasi proses aqal dalam menemukan jawaban yang paling benar dari setiap pertanyaan.

Tidak bisa dikatan Islam agama paling benar jika tidak diuji secara ilmiah dan keyakinan. Begitu pula dengan kebanyakan umat muslim keturunan yang beraqal jika tidak mencari jawaban paling tepat dan rasional, kenapa harus menjadi Muslim?

Kenapa harus beragama?

Sebelum jauh membahas hal ini, kita harus mengetahui dahulu siapa kita ini ? seorang manusia yang memiliki potensi yang Allah tanamkan atau biasa disebut dengan fitrah. Salah satu komponen yang membedakan manusia dengan hewan adalah PFC (Pre Frontal Cortex) berfungsi dalam berfikir, membedakan suatu hal, dan banyak lainnya, dengan kata lain PFC disebut dengan Akal.

Dengan akal lah kita dapat membedah lebih dalam terkait hakikat beragama, mengapa harus Islam dan berbagai pertanyaann lainnya. Manusia mempunyai naluri ingin tahu yang tinggi, dengan menggunakan panca indera, akal dan jiwanya, sedikit demi sedikit pengetahuannya bertambah sesuai dengan informasi yang masuk pada dirinya.

Jika suatu pertanyaan tidak dapat terjawab maka akan membuat manusia gelisah. Pada saat inilah informasi Allah datang (Agama itu dibutuhkan). Hakikat selanjutnya ada pada fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Banyak kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri.

Hidup manusia bagai lalu lintas, dimana kita ingin berada pada keselamatan namun juga ingin cepat sampai tujuan. Demikian lah manusia sangat membutuhkan peraturan demi lancaranya lalu lintas kehidupan, agama sangat diperlukan.

Dapat disimpulkan alasan pentingnya manusia harus beragama karena dengan agama kita dapat berfikir dan berkeyakinan bahwa informasi yang pasti benar datangnya dari Tuhan. Pada akhirnya beragama menjadi kebutuhan untuk menjaga aqal, hati, hingga menjadi pedoman manusia dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Kenapa harus Islam?

Setelah membahas kenapa harus beragama, selanjutnya menjawab kembali pertanyaan ini dengan landasan kuat yang dilengkapi oleh bukti-bukti kongkrit. Landasan beriman kepada Allah dapat dilakukan dengan cara berfikir. Tak jarang kita jumpai pada prosesnya terdapat pemikiran seperti berikut:

  • Tidak percaya keberadaan Tuhan dan tidak mau beragama
  • Mengakui keberadaan Tuhan, namun tidak percaya agama itu nyata (agnostic)
  • Percaya kepada kedua nya, namun tidak menjalankan perintah dan meninggalkan larangan (obedient)

Menjawab ke-4 pemikiran diatas, maka akan ada beberapa pertanyaan utama : Apakah Tuhan itu ada? Siapakah Tuhan itu? Apa Buktinya? Banyak kita jumpai teori terkait pembuktiaan Tuhan, yang terkenal seperti teori “BIGBANG”. Teori yang menjelaskan bahwa alam semesta datang dari 1 dzat yang lebih berat dari alam semesta, kemudia membentuk seukuran bola tenis, dan meledak dengan memunculkan gas.

Kemudian gas tersebut membentuk Andromeda yang saling bertabrakan dan tarik menarik berdasarkan kekuatan medan magnet yang dimiliki. Secara tiba-tiba muncul-lah DNA/kromosom dan terbentuklah makhluk hidup ber sel 1 yaitu amoeba. Beradaptasi menjadi suatu hal yang lebih kompleks, kemudian menjadi ikan, lalu berevolusi menjadi dinosaurus.

Jika teori ini dipahami, makan manakah yang benar manusia berasal dari evolusi simpanse atau keturunan dari Nabi Adam? Kenyataanya aka nada fakta yang diperanyakan terkait teori “BIGBANG” diatas, bagaimana dinasaurus itu punah? terdapat missing link antar fase kehidupan. Siapa yang memulai “BIGBANG” dan bagaimana hal ini bisa meledak begitu saja?

Dapat dipastikan, pertanyaan diatas tidak dapat dijawab juga oleh pencetus teori-teori tentang alam semesta ini. Tuhan itu pasti ada, semakin kita menafikan keberadaan pencipta, justru fakta keberadaanya akan semakin jelas dan tidak terbantahkan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Fushilat :53

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Jika Tuhan itu ada, siapakah Tuhan itu? Kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan memahami: keberadaan sesuatu menunjukkan adanya Tuhan seperti halnya keberadaan dunia dan ciptaan itu merefleksikan karakteristik penciptanya.

Sehingga apa yang menunjukkan keberadaan pencipta bisa dijawab dengan dalil yang didapatkan dari penangkapan indera yaitu manusia, alam semesta, dan kehidupan. Lalu, kenapa harus Allah? karena Al-Qur’an ialah satu satunya kitab yang dapat mempertanggungjawabkan semuanya.

Nyatanya Al-Qur’an menantang bagi mereka yang masih memiliki keraguan dalam hatinya. Seperti yang terdapat pada [QS Al-Israa: 88], [QS Huud: 13-14], [QS Yunus:38].

Dari penjabaran diatas, dapat saya simpulkan bahwa kita sebagai manusia yang sudah diberi akal oleh sang Pencipta untuk mencari tahu kebenaran dari apa yang kita pilih, termasuk perihal keyanikan yang sangat utama.

Dilahirkan sebagai seorang Muslim merupakan anugarah terindah, mencari kebenaran didalamnya bukan berate meragukannya. Namun, memaksimalkan fungsi akal serta menemukan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena jika kita beragama tapi tidak mengenali nya, maka tanpa sadar bahwa:

“Sesungguhnya keindahan Islam itu terhalangi oleh kaum Muslimin itu sendiri”

Saat kaum Muslim tidak memiliki dedikasi yang besar dan cita-cita yang agung, hal ini bisa terjadi karena tidak ada nya rasa kepemilikian dan pengetahuan yang luas terhadap agamanya.

Penulis: Syifa Rahmah Kurnia