Internasionalisasi NU dan Potensi Santri di Era Gus Yahya

301
Internasionalisasi NU Gus Yahya
Source: Bayt Ar Rahmah

Salah satu wacana yang berkembang pasca terpilihnya KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU adalah internasionalisasi NU. Publik ingat betul bagaimana Gus Yahya mampu tampil di berbagai forum internasional menyampaikan berbagai perspektif Islam a la Indonesia wa bil khusus a la NU.

Wacana Awal Internasionalisasi NU

Sosok Gus Yahya memunculkan kembali aura yang dibawa oleh Gus Dur yang mudah menempatkan diri di komunitas internasional. Nahdlatul Ulama (NU) pun pada eranya punya gaung di dunia internasional.

Situasi ini memunculkan tanya tentunya, apakah NU dapat tampil lebih atentif terhadap isu-isu internasional dan mengambil peran di komunitas yang lebih global?

Publik tentu tak lupa bagaimana Gus Yahya tampil di sebuah forum di Israel beberapa tahun lalu. Terlepas dari berbagai kontroversinya, beliau tampil dengan tenang dan elaboratif menyampaikan ide-ide dan pengalaman-pengalaman keislaman Indonesia. Gus Yahya membawa kisah-kisah dan ide-ide Islam moderat di negeri tersebut.

Di eranya kini sebagai Ketum Pengurus Besar NU (PBNU), tentu aura internasionalisasi NU ini akan terbawa, baik secara sadar maupun tidak. Publik dan media akan mengaitkan langkah-langkah Gus Yahya di masa lalu dengan rencana dan kebijakannya di NU. Hal ini tentunya, ketimbang dianggap sebagai hambatan, malah harus dilihat sebagai peluang. Peluang yang sangat besar!

NU dan Pergaulan Global

Sebuah entitas, baik itu individu, organisasi, bahkan negara, akan punya pengaruh dan kontribusi secara global jika mampu bergaul dan berkolaborasi di kalangan internasional. Entitas tersebut harus mampu membawa ide dan kontribusi positif bukan hanya untuk isu-isu di daerah atau negaranya, tetapi juga untuk masalah-masalah di pergaulan global.

Indonesia tentu tak asing dengan berbagai organisasi internasional. Berbagai organisasi donor seperti Bank Dunia dan USAID, dan lembaga swadaya masyarakat internasional seperti Transparansi Internasional dan Greenpeace, hadir di Indonesia. Mereka mewarnai perdebatan di ruang publik dan media di Indonesia.

Sebaliknya, tentu telah banyak organisasi asal Indonesia yang hadir di luar negeri. NU pun telah punya puluhan Pengurus Cabang Istimewa di berbagai negara termasuk di United Kingdom atau Inggris Raya. Namun, menjadi pertanyaan, seberapa jauh organisasi-organisasi ini mewarnai perdebatan publik lokal di daerah/negara tersebut?

Harus diakui bahwa peran mereka belum optimal. NU pun demikian.  Telah banyak kader NU yang menjadi tokoh di dunia internasional, termasuk Gus Yahya sendiri. Namun pertanyaannya, seberapa banyak yang seperti beliau dan sesering apa mereka mewarnai lika-liku kehidupan dan media di dunia internasional?

Baca juga: Menyerap Sembilan Nilai Utama Gus Dur

Potensi santri

Apa yang dilakukan tokoh sekaliber Gus Yahya perlu diamplifikasi secara signifikan. NU bisa dan punya peluang besar untuk mengambil peran tersebut, khususnya di era Gus Yahya ini. Eksposur internasional yang telah melekat di diri Gus Yahya adalah peluang besar untuk NU mulai lebih giat menancapkan peran dan kontribusinya di dunia internasional.

Tentu masih banyak permasalahan di dalam negeri yang perlu diperhatikan. Misalnya, level ekonomi dan pendidikan jamaah NU yang secara rerata belum sejahtera.

Fokus NU ke dunia internasional sejatinya bukan untuk meninggalkan masalah seperti itu. Malah, gerak NU di pergaulan global akan memperluas perspektif dan opsi kebijakan NU ke depannya untuk mengatasi masalah dalam negeri. Sebab, dengan bergaul dan aktif di dunia global, akan makin banyak masukan dan bantuan sehingga NU punya lebih banyak energi dan kreativitas untuk bergerak.

Orkestrasi Sumber Daya

Kesempatan ini tentu harus dipersiapkan dan distrategisasi dengan tepat dan bijak. Gus Yahya dan tim PBNU dapat memulai dengan mengonsolidasikan berbagai Pengurus Cabang Istimewa atau PCI NU di berbagai negara. Mereka telah aktif bertahun-tahun di negara-negara mereka bernaung sehingga memiliki banyak pengetahuan global yang PBNU dapat serap.

Selanjutnya, NU perlu melihat kembali kekuatan besar yang selama ini belum optimal perannya di dunia global: pesantren dan santri.

Hingga 2020, jumlah pesantren di Indonesia mencapai lebih dari 28 ribu. Terdapat sekitar 5 juta santri bermukim. Jika definisi santri diperluas menjadi mereka yang tidak mukim, dan mereka yang belajar di taman pendidikan Al-Quran dan Madrasah, maka jumlah santri bisa mencapai 18 juta orang. Juga, terdapat sekitar 1,5 juta tenaga pengajar di berbagai pesantren (Ashari, 2020).

Dari jumlah tersebut, tentu tidak semuanya NU. Namun, dapat dipastikan sebagian besar punya keterkaitan dengan NU dan bisa dijangkau oleh manajemen PBNU.

Dalam konteks optimalisasi potensi internasionalisasi NU, banyaknya santri merefleksikan peran krusial mereka untuk menjadi penopang agenda mulia tersebut. Sebab, merekalah yang hidup dan mendalami bagaimana keislaman a la Indonesia dipelajari, dijalani dan ‘dihidupkan’.

Alihkan sebagian energi

Namun demikian, potensi ini akan sia-sia jika dari sisi PBNU tidak siap. Kesiapan PBNU untuk mengelola potensi ini perlu ditopang kemampuan manajemen progam yang efektif dan efisien. Selain itu, kemampuan bergaul di dunia internasional dalam diri NU juga harus diakui masih perlu ditingkatkan.

Tokoh-tokoh yang memegang tampuk tanggung jawab di PBNU, misalnya Gus Ipul dan Gus Nusron Wahid, dapat lebih aktif melihat dan meramu kebijakan luar negeri yang pondasinya telah nyata ada pada ketokohan Gus Yahya. NU sebagai organisasi harus juga mau naik kelas untuk mengefisiensikan organisasinya dan menempatkan fokus khusus pada dunia internasional.

Secara eksternal, konsultasi dan konsolidasi bersama berbagai PCI NU di atas dapat menjadi langkah awal untuk agenda ini. Sementara secara internal, para santri dan pesantren perlu diberikan eksposur terkait peluang dan potensi peran besar mereka dalam agenda internasionalisasi NU dan paham Islam moderat a la Indonesia.

Kebijakan Alternatif

Misalnya, NU bisa menginisasi program untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dai-dai muda pesantren NU sehingga kelak mereka siap untuk tampil menjadi imam-imam di masjid-masjid di luar negeri.

Agenda ini seharusnya bisa menjadi kebijakan alternatif NU yang seringkali susah lepas dari kooptasi politik dalam negeri. Menjaga agar politik dalam negeri tetap berpihak pada Islam moderat jelas harus terus dikawal oleh NU.

Jangan sampai kekuatan Islam garis keras muncul menjadi kekuatan politik. Namun demikian, sudah saatnya energi NU sebagian dialihkan ke agenda lain yang juga substansial salah satunya internasionalisasi NU tersebut. (*)

Penulis: Muhamad Rosyid Jazuli
(Alumni IPNU, Pengurus PCI NU UK, Mahasiswa Doktoral di University College London, Peneliti di Paramadina Public Policy Institute)