Ibu Kota Baru Indonesia Resmi Bernama “Nusantara”

390
Ibu Kota Baru Indonesia Resmi Bernama “Nusantara”
photo by pikiran-rakyat.com

Pada tanggal 18 Januari 2022, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) resmi mengesahkan Rancangan Undang-undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) menjadi Undang-undang (UU). Dengan waktu yang dapat dikatakan cukup singkat yaitu selama 42 hari sejak tanggal 22 Desember 2022, jajaran pimpinan dan para anggota DPR-RI merampungkan pembahasan RUU tersebut.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa menjelaskan bahwa pemerintah sudah memberikan nama untuk ibu kota negara (IKN) baru yang terletak di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Nama Ibu Kota tersebut ialah Nusantara. Nama itu juga dipilih langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Menurut penjelasan Suharso, ada alasan tersebut mengapa Nusantara yang menjadi nama IKN. Nama Nusantara dinilai sudah dikenal sejak dulu dan iconic di dunia internasional. Nusantara menurutnya sebuah konsep kesatuan yang bersedia mengakomodasi kemajemukan itu dan ibu kota Indonesia dengan nama itu mengungkapkan realitas yang ada.

Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Panitia Khusus (Pansus) RUU IKN, 8 fraksi yakni PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, Demokrat, PAN, PKB, PPP, dan PKB menyetujui RUU IKN menjadi UU. Sementara Fraksi PKS merupakan satu-satunya fraksi yang tidak menyetujui hasil pembahasan RUU IKN.

Baca juga: Digital Lifestyle Dan Revolusi Industri

Ketua Panitia Kerja (Panja) IKN, Ahmad Doli Kurnia dalam wawancara kepada para wartawan yang dikutip dari kompas.com menjelaskan bahwa Panja bertekad mengebut pembahasan RUU IKN agar segera dapat menjadi payung hukum agar para investor mau terlibat mendanai pembangunan ibu kota baru.

“Dalam pembicaraan tingkat 1 pada rapat kerja bersama pemerintah pada 18 Januari 2022 pada pukul 00.30 WIB dengan agenda mendengarkan pandangan mini fraksi-fraksi, pendapat komite 1 DPD RI dan pemerintah telah disepakati bahwa ibu kota negara diberi nama Nusantara yang selanjutnya disebut ibu kota Nusantara,” kata Doli yang dikutip dari detik.com.

Mengundang Pro dan Kontra

UU IKN yang mengesahkan landasan hukum bagi pemindahan ibu kota dari yang sebelumnya berkedudukan di Jakarta ke wilayah Kalimantan Timur ini mengundang perdebatan yang cukup serius di berbagai kalangan.

Suharso Monoarfa menjelaskan bahwa pemerintah telah memanggil para akademisi, ahli bahasa, ahli sejarah, kemudian mereka yang punya otoritas untuk memberikan knowledge kepada pemerintah yaitu para pakar itu, untuk memilih kata-kata yang paling tepat.

Sehingga penggunaan istilah Nusantara sebagai nama ibu kota yang beru merupakan ide yang paling tepat dan akan membawa harapan agar dapat menggambarkan kenusantaraan kita semua, Republik Indonesia serta mampu meningkatkan eksistensi Indonesia di kancah internasional.

Dukungan untuk penggunaan istilah Nusantara salah satunya datang dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar. Dikutip dari detiknews,com, Muhaimin menjelaskan bahwa ia sangat mengapresiasi penggunaan istilah Nusantara ini dan menyiratkan bahwa Presiden Jokowi Peka terhadap sejarah bangsa Indonesia

Sementara itu, Politikus Partai Gerindra Fadli Zon dalam akun Twitter pribadinya mengungkapkan istilah Nusantara ini kurang cocok jika dijadikan nama ibu kota baru. Fadli menjelaskan bahwa Nusantara memiliki pengertian sendiri sebagai wilayah Indonesia, serta ada lagi istilah wawasan Nusantara yang memiliki etimologinya sendiri.

Pemilihan istilah ibu kota baru tersebut menjadi topik pembicaraan publik Tanah Air. Kata kunci seperti Nusantara dan Jakarta masuk trending topic Twitter Indonesia pada hari Selasa, 18 Januari 2022. Kata Nusantara telah disebut 25,6 ribu kali dan kata Jakarta sudah 38,4 ribu cuitan.

Tak sedikit warganet Indonesia khususnya di Twitter yang mendukung keputusan ini, serta menolak dan mempertanyakan tujuan, manfaat dan esensi pemilihan istilah Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara di bagian Kalimantan Timur itu.

Ulasan Singkat tentang Asal Usul Istilah “Nusantara”

Menurut beberapa sumber yang ada, istilah Nusantara ialah sebuah istilah yang berasal dari perkataan dalam bahasa Jawa kuno, yaitu nusa yang bermakna “pulau” dan antara yang bermakna. “luar”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring sendiri disebutkan bahwa nusantara adalah sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Pada era tahun 1900-an, tersebut dihidupkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif untuk negara bekas wilayah Hindia Belanda. Sekalipun nama “Indonesia”  disetujui untuk digunakan sebagai nama resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia, kata Nusantara tetap diabadikan sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia.

Penggunaan istilah ini sejatinya pada zaman kuno dipakai untuk menggambarkan kesatuan geografi-antropologi kepulauan yang terletak di wilayah Asia Tenggara (termasuk Semenanjung Kra). Namun di era modern, istilah “Nusantara” hanya spesifik digunakan untuk merujuk kepada wilayah kepulauan Indonesia secara khusus.

Sebutan Nusantara pertama kali digunakan pada masa Kerajaan Majapahit, atau sekitar abad ke-14. Bukti bahwa penggunaan istilah Nusantara lahir pada masa Majapahit dapat dilihat dari isi Sumpah Palapa, yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada pada 1336.

Dalam sumpahnya, Gajah Mada bersikeras tidak akan menikmati kesenangan sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah itu diucapkan saat pengangkatannya menjadi Patih Amangkubumi Majapahit.

Sumpah Palapa berbunyi, “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa.”

Artinya, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa.”

Kebanyakan sejarawan Indonesia percaya bahwa konsep kesatuan Nusantara bukanlah pertama kali dicetuskan oleh Gajah Mada dalam Sumpah Palapa pada tahun 1336, melainkan dicetuskan lebih dari setengah abad lebih awal oleh Kertanegara pada tahun 1275.

Sebelumnya dikenal konsep Cakrawala Mandala Dwipantara yang dicetuskan oleh Kertanegara, raja Singosari. Dwipantara adalah kata dalam bahasa Sanskerta untuk “kepulauan antara”, yang maknanya sama persis dengan Nusantara, karena dwipa adalah sinonim nusa yang bermakna “pulau”.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid