Huda Syarawi, Reformis Hak Perempuan Mesir

619
Perempuan Reformis Mesir
Wikipedia

Perjalanan sejarah perempuan muslim hingga saat ini belum menjadi fokus kajian dalam historiografi Islam. Terutama sejarah pergerakan perempuan muslim serta kiprah dan pengaruhnya terhadap kemajuan zaman yang masih asing dari perhatian kajian keislaman, baik taraf nasional maupun global.

Andil Perempuan dalam Pergerakan

Padahal sudah semestinya gerakan-gerakan yang diusung dan diinisiasi oleh para tokoh perempuan menjadi kiblat serta acuan semangat pergerakan dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.

Mesir menjadi awal kebangkitan gerakan perempuan muslim pertama di Timur tengah pada pertengahan abad ke-20, yang diusung oleh beberapa aktivis perempuan kontemporer di Mesir, namun saat itu belum terstrukturisasi dan terorganisir secara masif.

Beberapa tokoh didominasi oleh para penulis seperti, Aisyah Taymuriyah penulis dan penyair Mesir, selain itu ada pula Rokhayat Sakhwat Hussin dan Nazzar Sajjad mempublikasikan perlawanannya terhadap domestikfikasi perempuan dengan melalui cerita fiksi.

Tulisan sebagai Media Perlawanan

Sebagian besar, tokoh-tokoh feminis Mesir menjadikan tulisan sebagai media perlawanan terhadap konstruksi sosial dan budaya yang menindas, sehingga karya tersebut belum bisa bertrnasformasi secara langsung sebagai sebuah gerakan.

Berbeda dengan tokoh aktivis reformis feminis kelahiran Mesir 1879, bernama Huda Sya’rawi. Dengan pemikirannya dan berangkat dari pengalaman hidupnya, ia berhasil membentuk sebuah organisasi besar yakni, Gerakan Persatuan Feminis, atau Egyptian Feminist Union (EFU).

Mengenal EFU

Egyptian Feminist Union (EFU) merupakan salah satu gerakan yang berperan aktif dalam mengupayakan kesempatan pendidikan, hak pilih warga negara, pembaruan hukum keluarga serta pemberhentian pelacuran yang diatur dalam negara.

Gerakan ini bersifat egaliter, bertujuan untuk menumpas subordinasi, diskriminasi, serta menuntut kesetaraan kedudukan perempuan dan laki-laki, baik dalam ruang privasi dan publik meliputi sektor sosial, politik, dan ekonomi. Egyptian Feminist Union (EFU) dibentuk pada 16 Maret 1923 M.

Kiprah Huda Sya’rawi terhadap berdirinya organisasi tersebut tak lepas dari pengalaman dan pengaruh sosio kultural patriarkis yang dialami semasa hidupnya. Ia lahir pada tanggal 23 Juni 1879, di Kota Minya, dan dibesarkan di Cairo, Mesir.

Terlahir sebagai putri dari Muhammad Sultan Pasha yang berkedudukan tinggi, tumbuh di tengah keluarga yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat dan kehidupan politik Mesir, tidak menjadikan kehidupannya sejahtera.  Masa kecilnya ia lalui dengan penuh konflik dan perseteruan politik, terutama pada tahun 1882 saat Mesir berada di bawah kekuasaan Inggris.

Latar Belakang Lingkungan dan Keluarga

Kondisi keluarga yang konservatif dan sarat akan ketidakadilan atas kaum perempuan, membuat Sya’rawi sempat mengalami depresi akibat tidak memperoleh pendidikan formal yang layak sebagaimana kakak laki-lakinya. Keluarga dan lingkungannya sangat tidak mendukung akan pendidikan bagi perempuan. Bagi Sya’rawi, pendidikan dan prestasi intelektual di atas segalanya.

Lingkungan yang didiaminya, dikenal dengan sebutan Harem, membentuk kultur sosial di mana anak perempuan harus tunduk pada aturan pengekangan dengan kepatuhan yang sangat ketat, sementara aktivitas keseharian hanya menjadi hak prerogatif bagi anak laki-laki.

Keresahannya atas nasib masa depan perempuan Harem, menjadi bagian dari motivasi Huda Sya’rawi dalam mengerahkan gerakan EFU (Egyptian Feminist Union) untuk membebaskan perempuan dari kerangkeng konstruksi patriarki di Mesir.

Perempuan dan Kebebasan Berpolitik

Selain dilatarbelakangi oleh lingkungan, faktor lainnya disebabkan oleh keengganan Wafd sebagai partai liberal nasionalis Mesir saat itu untuk memberikan hak pilih perempuan. Konstitusi yang diproklamirkan pada April 1923, membatasi hak pilih hanya untuk laki-laki dan mengalienasi keterlibatan perempuan dalam menentukan kebebasan berpolitik.

Kontribusi terbesar partai Wafd yakni sebatas memenangkan “kemerdekaan” Mesir dari Inggris pada tahun 1923, meskipun pada akhirnya secara mutlak Inggris masih mengontrol hak dalam hal-hal tertentu, termasuk pertahanan nasional dan perlindungan kepentingan asing. Egyptian Feminist Union (EFU) membantu membawa beberapa perubahan yang signifikan bagi perempuan Mesir.

Di tengah pesatnya perkembangan EFU, terjadi peristiwa fenomenal yang tak terlupakan dalam catatan sejarah feminisme Mesir, yang menjadi simbol pergerakan Sya’rawi. Ia bersama para perempuan Mesir menghadiri Aliansi Wanita Internasional di Roma, sebagai delegasi dari EFU.

Tak sendirian, ia, teman dan anak didiknya Saiza Nabarawi, dan Nabawiyya Musa, memperjuangkan haknya untuk mengikuti ujian sekolah menengah dengan menghadiri konferensi Roma pada Mei 1923.

Sekembalinya dari perjalanan inilah Sya’rawi dan Nabarawi melepas cadar sebagai pakaian ‘sakral’ perempuan Mesir, saat mereka turun dari kereta di Kairo. Baginya, hal ini dilakukan demi memenuhi aspirasi masa kecilnya.

Peran Sang Guru

Sejak usia belia, pemikirannya dipengaruhi oleh guru bahasa Perancis-nya seorang perempuan bernama Eugenie Le Brun. Guru tersebut berpesan kepadanya, sebagai kepercayaan masyarakat Eropa pada umumnya bahwa “cadar menghalangi kemajuan wanita Mesir”, hal ini jelas menginspirasi tekadnya untuk suatu hari melepaskan cadarnya sebagai bentuk sebuah pemberontakan.

Namun, jika disandingkan dengan konteks saat ini, sikap tersebut hanya menjadi sekedar hal yang simbolis dari sebuah perlawanan atas kondisi sosial saat ini.

Kemudian, setelah peristiwa kontroversial tersebut, Sya’rawi merancang sebuah konstitusi dan memilih dewan direksi dan komite eksekutif untuk meningkatkan tingkat “intelektual dan moral” dengan memberikan peluang untuk mencapai kesetaraan politik, sosial, dan hukum bagi seluruh perempuan Mesir.

Tujuan terbesar yang menjadi cita-cita gerakan EFU, yakni agar perempuan memperoleh akses pendidikan hingga taraf universitas, kemudian mereformasi undang-undang perkawinan, khususnya undang-undang yang berkaitan dengan poligami dan perceraian, dan menetapkan usia perkawinan minimum enam belas tahun untuk anak perempuan.

Akhirnya sebagai tanggapan atas petisi dari EFU, parlemen mengesahkan undang-undang yang menetapkan usia pernikahan minimum untuk anak perempuan pada usia enam belas tahun dan untuk anak laki-laki pada usia delapan belas tahun. Akan tetapi, keberhasilan untuk mengubah UU perkawinan tidak mengalami kemajuan.

Kontribusi EFU 

Kecenderungan EFU lebih pada bidang pendidikan, hal ini terbukti pada tahun 1923 konstitusi Mesir menyatakan pendidikan sebagai prioritas. Pada tahun 1925 pemerintah menetapkan pendidikan dasar wajib bagi anak laki-laki dan perempuan. Pemerintah juga membuka sekolah menengah untuk anak perempuan.

Tidak hanya menyediakan sekolah yang setara untuk anak perempuan, EFU menginisiasi program bantuan untuk janda dengan memberi bantuan sementara untuk membayar biaya sekolah anak-anak mereka, serta memperoleh perawatan medis.

Selain itu, EFU mengadakan pemberdayaan berupa lokakarya pelatihan kejuruan untuk para perempuan yang kurang mampu secara ekonomi, mereka diajarkan menjahit dan menenun permadani, serta adanya pelatihan apotek untuk perempuan dan anak-anak. Pada tahun 1928, apotik tersebut telah merawat sekitar 19.000 kasus penyakit visceral, penyakit mata, dan ibu hamil.

Baca juga: Perempuan dan HAM; Dalam Kekerasan Gender Di Indonesia

Kampanye Feminisme Arab

Seiring dengan perkembangannya, sejak pendiriannya EFU berhasil berkiprah di kancah Internasional, secara rutin Huda Sya’rawi mengirim delegasi ke pertemuan perempuan internasional. Kebiasaan dan keterampilan organisasi yang diperoleh kemudian digunakan dalam mengkampanyekan feminisme Arab.

Pada tahun 1930-an, ketika masalah di Palestina meningkat, Sya’rawi mengundang kepada seluruh perempuan Arab untuk menghadiri konferensi feminis “Timur Tengah” untuk membahas dan membela perjuangan Palestina. Konferensi tersebut diadakan di Kairo pada tanggal 15 Oktober 1938, dan dihadiri oleh delegasi dari tujuh negara Arab.

Sepeninggal Huda Sya’rawi

Setelah wafatnya Huda Sya’rawi pada 1947 M, mobilisasi EFU mengalami ketidakberdayaan. Pada tahun 1964 M, saat pemerintahan Gamal Abdul Nasir, EFU terpaksa beralih fungsi disebabkan adanya kebijakan peralihan status organisasi-organisasi independen menjadi organisasi di bawah otoritas negara.

Keterlibatan negara melumpuhkan visi dan misi EFU sebagai organisasi akar rumput yang berpihak pada perempuan yang tertindas. Sublimasi gerakan tersebut mengembalikan kemandekan sistem sosial patriarkis yang sebelumnya telah diperjuangkan  untuk dipangkas dan dimusnahkan oleh Huda Sya’rawi.

Hilang dalam Ingatan Sejarah

Sangat disayangkan, gerakan yang telah diperjuangkan oleh Huda Sya’rawi bertahun-tahun lamanya seakan tidak membekas dalam catatan sejarah dunia Muslim. Kembalinya posisi perempuan pada kerangkeng penindasan dan subordinasi sebagai makhluk kelas dua, justru dilegitimasi oleh kolotnya penafsiran ajaran Islam misoginis sebagai pendorong utama di era modern ini.

Reformasi gerakan perempuan Huda Sya’rawi seharusnya menjadi spirit pergerakan untuk membebaskan perempuan khususnya di negara-negara mayoritas muslim yang hingga saat ini masih mengalami keterbatasan untuk memperoleh pendidikan yang setara. Sebagai contoh di Pakistan sebagai negara muslim, terdapat ketimpangan gender dalam lembaga pendidikan.

Pakistan tercatat sebagai negara dengan jumlah anak putus sekolah tertinggi kedua berdasarkan data dari UNESCO. Lebih dari 3 juta diantaranya adalah perempuan. Hanya 54% anak perempuan terdaftar masuk sekolah dasar serta menurun untuk jenjang sekolah menengah menjadi 30%. [1]

Selain itu, diskriminasi yang masih melekat kerap dialami perempuan muslim dalam lingkup sosial. Seperti halnya dalam ruang keluarga yang mendefinisikan ketaatan perempuan muslim sebagai istri dinilai dari seberapa besar ia melayani suami, mengurus anak, dan yang lebih parahnya lagi normalisasi poligami yang dianggap sebagai bagian dari anjuran agama.

Penulis: Giza Gasica
(Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Sumber Referensi:

Ahmed, Leila. Women and gender in Islam : historical roots of a modern debate. New Haven & London: Yale University Press, 1992.
Badran, Margot. HAREM YEARS: The Memoirs of an Egyptian Feminist. New York: The Feminist Press, 1987.
Hamdi, Saipul. Pesantren dan Gerakan Feminisme di indonesia. Samarinda: IAIN Samarinda Press, 2017.
Hawkins, Manuella Bonomi & Kat. BBC News. Juli 18, 2018. https://www.bbc.com/news/av/world-africa-44814874 (accessed Desember 24, 2021).
Lanfranchi, Sania Sharawi. Casting off the Veil: The Life of Huda Shaarawi, Egypt’s First Feminist. London: I.B. Tauris & Co, 2012.