Fikih Muwazanah : Sebuah Upaya Membangun Keberagamaan Yang Beradab

380
Fikih Muwazanah : Sebuah Upaya Membangun Keberagamaan Yang Beradab
Photo by Noorulabdeen Ahmad on Unsplash

Istilah fikih muwazanah ( fikih pertimbangan ) mungkin agak asing di telinga masyarakat muslim, begitupun saya sendiri. Pertama kali saya menjumpai istilah ini ketika membaca kitab ushul fikih kontemporer berjudul “Manahij al-Fuqaha fi Istinbath al-Ahkam” karya DR. Muhammad Usman Syabir. Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan bahwa salah satu syarat seorang ahli fikih yang mampu melahirkan hukum fikih ialah ia harus cakap dalam fikih muwazanah.

 أن يكون الفقيه المستنبط خبيرا بالموازنة بين المصالح والمفاسد المتعارضة وهي ما تعرف (بفقه الموازنات) )

Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut kembali terngiang-ngiang dan membuat saya menjadi lebih penasaran manakala saya membaca sebuah cerita dalam kitab “al-Manhaj al-Sawi Syarh Ushul Thariqah Sadah ‘Ali Ba’alawi”. Sebuah cerita yang menyinggung tentang esensi fikih muwazanah.

Dalam cerita disebutkan (kurang lebihnya) ada dua orang yang memiliki niat baik tetapi dengan cara yang berbeda satu dengan lainnya. Orang pertama mempunyai inisiatif untuk menempatkan sebuah paku di sebuah tembok. Ia bermaksud agar orang-orang tersebut menjadi mudah ketika hendak menggantungkan barang bawaannya. Di pihak yang lain, terdapat orang kedua yang malah berinisiatif untuk mencabut paku tersebut. Hal ini dikarenakan ia khawatir paku tersebut bisa melukai orang yang berada disana.

Kemudian muncul pertanyaan, diantara tindakan dua orang ini, mana yang lebih baik ? Ternyata, yang lebih baik adalah tindakan orang kedua yang mencabut paku. Sang penulis, yakni Habib Zen bin Ibrahim bin Semit menyebutkan alasan dengan sebuah kaedah yang berbunyi ” Meninggalkan kemafsadatan lebih didahulukan daripada mewujudkan kemaslahatan”

 (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح)

“Menolak kemafsadatan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan”

Term Fikih Muwazanah (FM) sependek pengetahuan saya merupakan istilah lama yang muncul kira-kira pada akhir abad 20 atau awal abad 21. Istilah ini satu rumpun dengan fikih awlawiyyat ( fikih prioritas ). Bedanya, kajian FM lebih khusus daripada kajian fikih awlawiyyat. Fikih awlawiyyat dimaksudkan untuk mengurutkan beberapa maslahat (kebaikan) / mafsadat (keburukan) sehingga bisa diklasifikasikan mana maslahat / mafsadat yang berada di rangking 1, 2, 3, dst.

Baca juga: Prinsip-Prinsip Perkembangan Anak Menurut Psikologi Pendidikan

Sedangkan, FM adalah sebuah kajian yang menitikberatkan kepada prinsip-prinsip dasar untuk memilih diantara dua kemaslahatan yang bertentangan ( dipilih mana maslahat yang lebih unggul sehingga harus dilaksanakan), dua kemafsadatan yang bertentangan ( dipilih mana mafsadat yang lebih besar bahayanya sehingga harus dijauhi) , atau kemaslahatan yang bertentangan dengan kemafsadatan (sehingga dipilih mana yang lebih besar dampaknya) .

Salah satu dalil yang menjadi pijakan kajian FM adalah hadist orang badui (a’robiy) yang kencing di masjid. Pada saat itu, para sahabat ramai-ramai ingin menghakimi si badui karena telah kencing di masjid. Tetapi, oleh nabi dicegah dan malah menyuruh para sahabat untuk membersihkan kencing si badui. Disana terdapat dua kemafsadatan yang harus dihindari yakni pertama, buang air di masjid dan kedua, menakuti a’robiy sehingga ia menjauh dari Islam ( apabila para sahabat menghakiminya).

Oleh Nabi, beliau lebih memilih membiarkan si badui kencing daripada membiarkan para sahabat ramai-ramai merundung si badui. Hal ini melihat bahwa mafsadat yang berupa menjauhnya si badui dari islam (akibat dihakimi para sahabat) lebih berat daripada mafsadat yang hanya berupa kencing di masjid.

(اذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما بارتكاب أخفهما ضررا)

“Jika terjadi benturan antara dua mafsadat, maka jagalah yang paling besar kemafsadatannya dengan memilih yang paling ringan kerusakannya”

Selain itu, salah satu contoh fiqih muwazanah (FM) ialah alasan kenapa saat nabi wafat, para sahabat malah sibuk memikirkan pengganti Nabi sehingga pemakaman nabi mundur beberapa hari. Salah satu alasannya adalah terdapat dua kemaslahatan yang bertentangan yakni pertama, pemakaman Nabi dan kedua, pengangkatan pemimpin paska Nabi wafat.

Para sahabat lebih memilih maslahat yang kedua (pengangkatan pemimpin) dengan mengorbankan maslahat yang pertama (pemakaman nabi). Hal ini karena dampak kemaslahatan kedua lebih luas (مصلحة عامة) daripada yang pertama dan juga apabila tidak ada pemimpin, maka akan terjadi chaos di internal umat islam.

Di era sekarang, pemahaman tentang fiqih muwazanah tampaknya sangat urgen. Tidak hanya dalam ranah ibadah semata, tetapi kajian FM juga sangat penting dalam ranah ekonomi, politik, dan sosial. Dengan semakin tinggi semangat keberagamaan, maka mau-tak mau, FM harus dikedepankan sehingga tidak terjadi keberagamaan yang brutal tak terarah maupun keberagamaan yang mengedepankan emosional semata.

Salah satu contohnya seperti pemberlakuan uang dinar sebagai mata uang nasional, sistem khilafah dalam tata-negara modern, pemimpin non-muslim dalam negara demokrasi, shalat berjamaah di jalan raya, ngaji quran bersama di trotoar jalan, dan hubungan antar pemeluk agama.

Dalam mengkaji FM, selain harus objektif dan tidak memperturutkan hawa nafsu, seseorang juga harus melibatkan orang-orang yang pakar di bidangnya. Misalkan, dalam masalah bagaimana hukum pembangunan pabrik air mineral di sebuah desa. Selain seorang pakar fikih yang faham tentang maqashid al-Syari’ah, disana harus dilibatkan orang-orang yang pakar di bidang lingkungan, pembangunan desa, ekonomi, hukum, tata negara, dll.

Fungsinya adalah untuk mengetahui apakah maslahat membangun pabrik tersebut lebih kuat daripada maslahat untuk tidak membangun pabrik tersebut atau dengan kata lain apakah maslahatnya lebih besar daripada mafsadatnya. Fungsinya adalah jangan sampai keputusan hukum yang ditetapkan malah menimbulkan masalah baru, alih-alih menyelesaikannya. Termasuk diantaranya adalah hukum pembangunan PLTU di kawasan tertentu, pembuatan waduk / mini market di sebuah desa, aturan pengeras suara rumah ibadah, iuran BPJS, dan sebagainya.

Tak hanya di ranah publik, fiqih muwazanah juga harus difahami dalam ranah-ranah yang bersifat privat. Seperti saat hendak mengeluarkan zakat fitrah. Apakah lebih baik zakat menggunakan uang atau menggunakan beras ?. Atau seperti saat hendak melaksanakan umroh sunnah. Apakah uang tersebut lebih baik digunakan umroh atau diberikan sebagai modal usaha bagi orang-orang miskin ?. Atau contoh yang lain lagi semisal pernikahan. Apakah walimah pernikahan harus dilaksanakan dengan megah atau sederhana saja ?. Atau semisal dalam melaksanakan amal kebaikan, apakah harus di upload ke media sosial atau tidak ?.

Dengan memahami fiqih muwazanah, orang akan lebih bijak dalam menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama. Sehingga, agama akan menjadi sumber kebajikan, keadilan, dan keharmonisan. Hal ini sebagaimana pernyataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab ” I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin “ yang sangat populer :

فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنَاهَا وَأَسَاسُهَا عَلَى الْحِكَمِ وَمَصَالِحِ الْعِبَادِ فِي الْمَعَاشِ وَالْمَعَادِ، وَهِيَ عَدْلٌ كُلُّهَا، وَرَحْمَةٌ كُلُّهَا، وَمَصَالِحُ كُلُّهَا، وَحِكْمَةٌ كُلُّهَا؛ فَكُلُّ مَسْأَلَةٍ خَرَجَتْ عَنْ الْعَدْلِ إلَى الْجَوْرِ، وَعَنْ الرَّحْمَةِ إلَى ضِدِّهَا، وَعَنْ الْمَصْلَحَةِ إلَى الْمَفْسَدَةِ، وَعَنْ الْحِكْمَةِ إلَى الْعَبْثِ؛ فَلَيْسَتْ مِنْ الشَّرِيعَةِ وَإِنْ أُدْخِلَتْ فِيهَا بِالتَّأْوِيلِ

“ Sesungguhnya Syariat Islam dibangun atas dasar hikmah-hikmah dan kemaslahatan-kemaslahatan hamba di dunia dan akhirat. Syariat Islam mencerminkan keadilan seluruhnya, kasih sayang seluruhnya, kemaslahatan seluruhnya, dan hikmah seluruhnya.

Oleh karena itu, apapun persoalan syariat yang keluar dari keadilan menuju kedzaliman, dari kasih sayang menuju kebalikannya, dari maslahat menuju mafsadat, dan dari hikmah menuju kesia-siaan, maka ia bukanlah termasuk syariat islam, sekalipun dipaksa dengan ta’wil.”

Keberagamaan bukan soal semangatnya saja yang kuat, tetapi juga pemahaman yang mendalam. Agama yang dipahami dengan benar oleh pemeluknya akan mewujudkan masyarakat yang sehat dan beradab. Tetapi manakala agama dipahami salah oleh pemeluknya, yang ada hanya memunculkan kegaduhan dan keributan tak berguna.

Beragama dengan dibarengi pemahaman yang benar terhadap FM akan menjadikan agama tidak hanya teosentris tetapi juga antroposentris, tidak hanya eksklusif tetapi juga inklusif, tidak hanya emosional tetapi juga rasional.

دين الإسلام ليس دينا الهيا محضا بل هو انساني وهو دين الإنغلاق و الإنفتاح، وهو دين يزدوج بين ذوق وجداني و عقل علمي

Agama Islam bukan hanya tentang hubungan ketuhanan semata, lebih dari itu Islam juga berisi tentang nilai-nilai kemanusiaan didalamnya.

Wallahu A’lam bi al-Showab

Penulis: Umam Annahar