Dilema Paylater, Inovasi Transaksi Namun Picu Perilaku Konsumtif

249
Paylater
Akurat.co

Sistem pembayaran jangka pendek yang memungkinkan konsumen untuk mendapatkan barang dengan membayarnya di masa mendatang sedang digandrungi kawula muda. Fitur yang ditawarkan PayLater memudahkan konsumen ketika berada dalam situasi mendesak.

Sekilas, pembayaran menggunakan PayLater mirip dengan metode cicilan. Perbedaannya – terutama dengan opsi kartu kredit – terletak pada fleksibilitas opsi PayLater, mulai dari pengajuan yang tidak menggunakan dokumen pendapatan, kredit limit yang terlalu subyektif, sampai tidak adanya joining fee atau biaya bergabung.

Terakhir, mekanisme pembayaran ini sempat menjadi topik paling banyak diperbincangkan di Twitter, setelah seorang warganet mengunggah cuitan untuk tidak tergoda menggunakan PayLater. Cuitan ini ditanggapi beragam oleh warganet: Kubu pendukung beranggapan bahwa PayLater membantu mereka untuk mendapatkan kebutuhan di saat belum memiliki uang.

Sementara, kubu penolak beranggapan bahwa PayLater sama dengan berhutang sehingga lekat dengan risiko bunga tinggi hingga gagal bayar. Belum lagi, PayLater dapat memicu kecendrungan gaya hidup boros dan perilaku implusif dari penggunanya.

Beberapa persoalan yang muncul akibat penggunaan PayLater dan bagaimana konsumen dapat menggunakan inovasi teknologi ini dengan bijaksana.

Menyelesaikan masalah dengan masalah

Meski ternyata dapat mempermudah transaksi, inovasi tak selalu sekedar menyelesaikan masalah, tapi juga menimbulkan masalah baru. Beberapa persoalan muncul terkait alternatif pembayaran ini.

Masalah pertama adalah penggunaan PayLater yang mengakomodasi pembelian impulsif atau konsumsi berlebihan, terutama pada Generasi Z. Generasi Z adalah generasi “digital natives”, atau mereka yang lahir dan besar di era digital.

Beberapa studi menunjukkan bahwa generasi tersebut memiliki kontrol kognitif yang rendah dan perilaku spontan yang dapat mengarah pada potensi konsumsi berlebih atau pembelian impulsif. Perkembangan teknologi finansial mengakomodasi karakteristik ini dengan menawarkan opsi bayar praktis dan membuatnya terkesan seperti keputusan yang mudah.

Masalah kedua adalah keamanan data konsumen di tangan perusahaan pengguna data.

Hal ini belum mencakup masalah teror debt collector atau penagih utang terhadap para peminjam dana di PayLater. Situs media konsumen menampilkan sejumlah keluhan masyarakat terkait teror yang dilakukan oleh sekelompok nomor yang mengatasnamakan salah satu platform belanja online ketika menagih hutang. Tidak jarang, ‘teror’ tersebut dilakukan dengan beberapa nomor yang berbeda dalam satu kali periode penagihan.

Mengapa orang menggunakan PayLater?

Di luar dari segala permasalahan yang ada, PayLater masih menjadi salah satu metode pembayaran andalan bagi generasi muda seperti generasi milenial dan Gen Z. Selain kemudahan fitur, ada beberapa alasan mengapa PayLater menjadi metode pembayaran yang digemari.

Pertama, opsi PayLater terlihat lebih hemat dan masuk akal. Ketika konsumen ingin mendapatkan barang seharga Rp 1.000.000, akan lebih mudah untuk membayar Rp 250.000 sebanyak empat kali. Konsumen memandang hal ini lebih baik – terutama karena fitur PayLater memiliki bunga yang rendah atau bahkan (diklaim) tidak ada bunga cicilan. Kekhawatiran pembeli muda mengenai biaya tambahan yang mengekor pada kartu kredit membuat mereka lebih memilih pembayaran dengan PayLater.

Kedua, fasilitasi dari penjual. Pihak toko atau retail juga mendukung konsumen untuk membayar dengan PayLater. Fasilitas PayLater memungkinkan retail untuk menggaet pembeli muda yang sebelumnya tidak dapat berbelanja di outlet mereka karena alasan finansial.

Ketiga, ketepatan momentum. Momen tertentu seperti festival belanja juga mendorong transaksi dengan penggunaan fitur PayLater. Selain itu, riset Katadata Insight Center (KIC) dan Kredivo menunjukkan peningkatan transaksi dan penambahan lebih dari 50% pengguna baru PayLater sepanjang tahun 2020 – saat pandemi Covid-19.

Menyikapi PayLater dan inovasi keuangan digital lainnya

PayLater adalah produk teknologi, sehingga kendali atas penggunaannya tergantung pada manusia. Pada dasarnya kunci utama dalam menyikapi PayLater adalah pengendalian diri. Sebagai produk atau barang mati, PayLater dapat memberikan efek baik dan buruk, tergantung bagaimana konsumen menggunakan produk tersebut. Ia bisa menjadi opsi terbaik pada kondisi darurat, tapi juga ancaman terburuk ketika konsumen kehilangan kendali ketika berbelanja.

Pengendalian diri mungkin terdengar sulit, tapi kita bisa mengubahnya menjadi aksi konkret, dengan memulai dari hal-hal sederhana seperti memanfaatkan budget planner (perencana keuangan) untuk memandu kita berbelanja sesuai kebutuhan. Meski terkesan sepele, disiplin dalam mematuhi anggaran belanja yang sudah dibuat membutuhkan usaha yang tidak mudah serta komitmen jangka panjang, namun berbuah manis.

Ada juga alternatif lain yang bisa kita aplikasikan maupun dijalankan bersamaan dengan metode perencanaan keuangan melalui pemetaan kondisi darurat penting agar kita tidak menganggap semua kondisi bersifat mendesak hingga perlu mendapat dukungan penggunaan PayLater. Contohnya adalah berkenaan dengan keselamatan dan kesehatan.

Jika kita merasa bahwa hal ini terlalu sulit karena besarnya dorongan untuk berbelanja, tidak ada salahnya menghubungi tenaga profesional. Seperti psikolog maupun pakar keuangan. Dengan mencari bantuan profesional, kita akan didampingi dalam penguraian masalah dan dipandu untuk memiliki pengelolaan keuangan yang sehat.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumarhadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang