Catatan Pengembaraan di Timur Tengah

408
Timur Tengah
Photo by Jametlene Reskp on Unsplash

Kilas balik di timur tengah membuat konsentrasi di perpustakaan tiba-tiba terpecah saat membuka pesan elektronik dari kampus. Harapan tidak sesuai eskpektasi dari yang selama ini dia inginkan. Semua rencana yang telah dibuat dan dibayangkan berubah menjadi pertanyaan dan rintangan, bahkan menjadi sebuah masalah.

Pergantian destinasi pertukaran pelajar selama satu tahun ke negara paling aman di Timur-Tengah yaitu Maroko berubah ke negara yang notabene dianggap rentan akhir-akhir ini apalagi setelah terjadinya ledakan pada tahun 2020, iya apalagi kalau bukan negara Lebanon.

Pertukaran Pelajar

Dia, Fahri Khalid seorang pelajar Indonesia di Kota Lyon, Prancis yang mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke timur tengah untuk menyelesaikan studi tahun terakhirnya.

Diberi waktu satu minggu untuk mengkofirmasi kepergiannya ke Lebanon, akhirnya dia menerima tawaran itu setelah berkonsultasi dengan mahasiswa Indonesia yang ada di Lebanon.

Awal musim gugur tepatnya pada bulan September, dia menginjakkan kakinya ke ibu kota Lebanon yaitu Beirut yang dikenal juga dengan Paris of the middle east. Suasana saat keluar bandara benar-benar berbeda dengan apa yang dia rasakan di Eropa yang terkenal dengan rapih dan bersih.

Keadaan jalan, gang kecil, warung-warung dan anak-anak yang berlalu lalang di jalan dengan sepeda kecil mereka mengingatkannya dengan jalanan di Indonesia. Suasana itu bak foto-foto yang tersimpan di dalam memori yang terbuka kembali di dalam imajinasinya.

Tidak perlu waktu istirahat, dia langsung pergi ke kampus dimana dia akan menghabiskan kesehariannya disana untuk mengurusi masalah administrasi dan juga menanyakan izin tinggal yang diberikan oleh imigrasi Lebanon dengan waktu satu minggu saja.

Iya satu minggu untuk visa pelajar, memang terdengar aneh tapi ini nyata. Hal ini lah yang membuat dia diinterogasi selama tiga puluh menit oleh pihak imigrasi bandara Lebanon.

Kejadian Tak Terencana

Setelah beberapa bulan tinggal di negara yang penuh kejutan ini, dia telah terbiasa dengan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kota yang tidak pernah bisa diprediksi setiap harinya membuat pengalaman ini terasa menarik untuk diceritakan di kemudian hari.

Budaya agama yang sangat kuat telah mengakar ke penduduk Lebanon yang ada di utara hingga selatan. Ada sesuatu yang unik dari negara ini, pengaruh agama di dalam masyarakat menjadi sebuah landasan pembagian kuota politik.

Presiden mereka harus dari Kristen maronit, Perdana Menteri mereka seorang Sunni, sedangkan komunitas Syiah mendapatkan kuota sebagai ketua parlemen.

Orang disini terlihat sangat ramah dan suka menyapa orang-orang seperti halnya di tanah air kita. Kebiasaan mereka di pagi hari terbilang cukup tidak aneh untuk kita, mungkin sangat aneh untuk orang Eropa yang mempunyai kebiasaan sehat.

Di depan teras, orang dewasa hinga kakek-nenek menghirup shisa mereka ditemani dengan sarapan pagi yang berat seperti Pizza, Manusye atau Falafil. Perbedaan budaya memberikan kunci untuk membuka pintu pengetahuan tentang sejarah yang telah dialami oleh orang-orang sekitar kita sebelumnya.

Masalah ekonomi yang sedang menghantui Lebanon saat ini sangat menyengsarakan masyarakatnya. Terjadinya krisis disini menjadikan kelas atas menjadi kelas menengah, kelas menengah menjadi kelas bawah dan kelas bawah menjadi tidak teridentifikasi keadaannya. Pendapatan rata-rata penduduk Lebanon saat ini setara dengan 100 Dollar padahal sebelumnya mereka bisa mendapatkan sekitar 1500 Dollar setiap bulannya dengan kurs 1.500 lira per Dollar.

Baca juga: Sepenggal Kisah Menarik dari Alumni Al-Azhar Mesir

Menelan Kenyataan Pahit

Kenyataan yang sangat menyakitkan untuk diterima, dengan jumlah uang seperti itu setiap bulannya sangat tidak memungkinkan untuk hidup memenuhi kebetuhan sehari-hari, tetapi sifat tolong menolong, keramahan, ketabahan, keinginan bertahan hidup memberikan kekuatan untuk tetap menjalani hidup dengan apa adanya.

Krisis ekonomi pasti melahirkan sebuah masalah di dalam masyarakat, kasus kekerasan, kejahatan, penipuan serta angka perceraian kian meningkat setiap harinya. Naiknya harga barang pokok hingga makanan siap saji, dengan gaji yang telah disebutkan tadi sepertinya tidak mungkin untuk membeli makanan yang diinginkan, bahkan hasrat untuk membeli sereal dengan harga tiga ratus ribu rupiah pun sudah hilang setelah melihat harganya.

Naik turunnya Dollar setiap harinya seperti sebuah permainan judi sebelum menukarkan Dollar ke Lira Lebanon. Karena hal itu, banyak dari toko swalayan dan restaurant yang tidak mencantumkan harga. Para pembeli harus menanyakannya ke kasir atau pekerja yang ada disana sebelum membeli, suatu hal yang sangat sudah membuat kita was-was dan ruwet di dalam toko.

Berbicara dengan mahasiswa dan masyarakat disini membuat hati ini sangat teriris, banyak dari mereka mengatakan tidak ada masa depan di tempat ini. Satu hal yang mereka inginkan adalah pergi secepatnya dari tanah air mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Banyak yang menanyakan kepada mahasiswa internasional mengapa mereka datang kesini sedangkan masyarakat lebanon ingin meninggalkan negara ini.

Kabar Burung Media

Pertanyaan yang masuk akal jika dilihat dari sisi luar, tetapi salah satu tujuan sebenarnya dari pengembaraan ini adalah untuk memahami bagaimana keadaan sebenarnya negara timur tengah yang selalu dikabarkan buruk oleh media yang ada.

Pengembaraan di tempat ini memanglah sangat luar biasa, mencari apa yang belum diketahui dari sisi budaya, ekonomi, politik, sejarah hingga dunia pendidikan di Lebanon merupakan sesuatu hal yang harus diteguk untuk menyegarkan wawasan yang belum terbasahi dengan air lingkungan timur tengah.

Memahami keadaan yang terjadi di timur tengah menjadi sebuah patokan untuk memahami keadaan politik dunia saat ini yang sedang dalam keadaan genting dengan terjadinya peperangan disana-sini.

 

Salam
Muhammad Fahri Kholid
(Mahasiswa Université Lumiére Lyon 2)