Bukan Peralatan Elektronik, Kita Butuh Alat Produksi

304
ELEKTRONIK
Photo by Thom Milkovic on Unsplash

Saya masih ingat betapa takjubnya saya setiap kali ayah saya membeli peralatan elektronik seperti televisi. Betapa saya ingat detil televisi itu dipilih, diturunkan dari mobil (bukan mobil saya), lalu ketika kardusnya dibuka perlahan lalu televisinya disetel hingga malam. Demi menyesuaikan perkembangan teknologi, total ada 5 televisi yang ayah beli: dari televisi analog, analog bisa disambungkan ke vcd player, lcd, lcd berukuran besar, dan LED.

Memulai dengan Rasa Takjub

Saya patut bersyukur ayah saya bisa membelinya, karena sebagai PNS, tiap kali gajinya naik, selalu ada tuntutan dari Pemerintah untuk konsumtif, membeli sembako yang lebih berkualitas dan peralatan elektronik yang baru.

Sehingga saya bisa berharap-harap cemas bahwa setahun sekali akan ada peralatan elektronik baru di rumah saya. Setelah membeli televisi misalnya, bapak memang sudah menabung untuk membeli peralatan elektronik lain di tahun selanjutnya.

Dari kulkas, magic jar, setrika, mesin cuci hingga kipas angin. Yang setiap kali dibeli lagi-lagi membuat saya takjub. “Kok mesin cuci bisa mencuci baju lalu mengeringkan baju?”, “Kok bisa ya setrika menghasilkan panas?”, “Kalau saya memakai kipas semalam suntuk bakal masuk angin tidak, ya?” Rasa antusias, takjub dan selalu ingin tahu ini berlanjut hingga saya kuliah.

Sayangnya setelah lulus dan bisa membeli barang dari hasil keringat sendiri, rasa takjub saya pelan-pelan pudar. Apalagi setelah teman saya yang sama-sama merantau ke Jakarta menikah. Saat saya berkunjung ke rumah kontrakannya, semua peralatan elektroniknya komplet, bahkan AC saja sudah dipasang sejak malam pertama.

Saya kira teman saya ini sungguh kaya raya, tapi ketika saya tanya gajinya berapa, kok ya tidak beda jauh dengan saya. Ternyata selain kado pernikahan yang makin mahal, teknologi kartu kredit dan paylater membuat semua peralatan elektronik yang dulu bisa saya jumpai setahun sekali sekarang bisa terbeli semua dalam setahun.

Modal Kehidupan

Saya juga mengalaminya saat saya menikah, tapi untungnya saya tidak perlu mencicil karena teman kantor istri saya patungan membelikan kulkas dan mesin cuci, teman-teman kami membelikan kipas angin dan magic com, dan saya cuma kebagian membeli televisi. Di hari pertama saya menikah kok ya sudah komplet.

Saya sungguh berterima kasih pada mereka, tapi saya jadi berpikir, di zaman dahulu sebelum ada peralatan elektronik aneh-aneh ini, apa sih kado yang diberikan pada pasangan yang baru menikah?

Bapak saya saat menikah dibekali tiga hal oleh kakek saya: lahan untuk dibangun rumah (wisma), pendidikan hingga dia bisa bekerja (turangga), dan sepeda motor sebagai kendaraan (kukila). Sementara saat ini, ketika Indonesia yang pendapatan domestik brutonya sudah 10 besar dunia seperti sekarang, saya hanya kebagian pendidikan dan motornya saja.

Sayangnya pendidikan saya tidak menjamin saya mendapat pekerjaan dan motor pun kalau dijual harganya kurang dari gaji saya sebulan, bedakan dengan motor pemberian kakek ke bapak yang dijual oleh ayah saya di tahun 1992 untuk membangun rumah lagi!

Dan kalau bisa dirunut lebih jauh, kakek saya tentunya mendapat bagian yang lebih besar dari kakek buyut karena mendapat sawah dan pekarangan yang amat luas untuk keperluan produksi. Jadi selain mendapat gaji bulanan dia juga mendapat hasil pertanian setiap kali panen.

Sementara peralatan elektronik yang sejauh ini saya miliki tidak bisa (atau memang tidak didesain) untuk sarana produksi. Saat saya tidak memiliki pekerjaan seperti sekarang, kalau mau buka laundry ya nanggung karena kuota mesin cuci yang saya miliki terbatas, dan saya tidak bisa jualan es karena freezer yang saya miliki terbatas. Bisa dibilang, selain laptop saya, hanya handphone saya yang bisa digunakan untuk sarana produksi.

Elektronik Pemicu Budaya Konsumtif

Alih-alih sarana produksi, peralatan elektronik rumah tangga zaman sekarang ialah alat untuk menjadikan manusia makin konsumtif. Kulkas yang lebih besar misalnya, membuat orang-orang bisa menimbun makanan lebih lama, hingga bosan lalu bahan makanan disimpan hingga amat lama, hingga busuk dan harus membeli lagi (padahal agar makanan bisa disimpan lama, ibu-ibu diharuskan membeli toples).

Mesin cuci yang dilengkapi dengan lubang untuk memasukkan pewangi dan pelembut pakaian, tidak cukup detergen. Dispenser yang memudahkan pembuatan minuman sachet. Belum lagi ditambah vacuum cleaner, oven, microwave dan juicer.

Lalu apakah saya harus menghindari pemakaian semua barang elektronik ini? Ya tentu tidak dong. Untung kado nikah, terus terang kalau disuruh beli sendiri saja saya belum tentu mampu, kok. Mahal.

Saya bersyukur dan saya pakai setiap hari. Apalagi saya merasakan manfaatnya dan benar-benar memanfaatkannya. Oleh karena menganggur, dari pagi hingga petang saya yang bertugas belanja kebutuhan dapur, mencuci piring, menyapu dan mengepel.

Saya lalu menyikapi peralatan elektronik ini sebagai teknologi yang membantu pekerjaan rumah tangga agar saya punya waktu luang sehingga bisa fokus memproduksi sesuatu melalui handphone (bisa itu tulisan, konten grafis maupun video).

Eh iya, sebagai petugas pencuci piring di rumah, saya juga sering mengeluh karena kami tidak memiliki rak piring. Meski belakangan saya tidak mengeluh lagi karena sadar keuangan kami sedang pas-pasan. Eh kok tidak disangka-sangka, kemarin malam istri saya mengabulkan permintaan saya. Membelikan rak piring. Dibayar langsung tanpa mencicil.

Adegan berikutnya, mirip seperti yang dulu saya lakukan ketika bapak membeli televisi baru, hingga pagi berikutnya saya masih antusias, takjub, minum kopi sambil mengamati rak piring yang jelek tapi benar-benar saya butuhkan ini. If you really need it, you wait for it, and you have all the fun!

Penulis: Affix Mareta
(Dosen Informatika Universitas Bunda Mulia)