Berkat Polemik, Wayang Kembali Dilirik

609
Polemik Wayang
Pixabay

Wayang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia masa lalu yang beragam. Wayang merupakan salah satu seni budaya yang lebih menonjol dibandingkan dengan  karya budaya lainnya. Pertunjukan wayang meliputi akting, suara, musik, bahasa, sastra, lukisan, patung, dan seni ikonik.

Transformasi Fungsi Wayang

Bila menilik sejarah, budaya wayang tampaknya terus berkembang dari waktu ke waktu. Seiring perkembangannya, wayang juga digunakan sebagai media komunikasi sosial yang membantu perkembangan masyarakat pendukung.

Dunia wayang menunjukkan transformasi fungsi dari media pemujaan leluhur, dakwah, informasi, hingga pendidikan moral dan etik, juga pemahaman filsafat, atau sebagai media hiburan belaka.

Wayang sebagai bagian dari kebudayaan dan kesenian nusantara juga memiliki sifat yang netral, tidak ada yang haram dan tidak ada yang bersifat wajib. Kesemuanya tergantung siapa yang memperlakukannya.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Nusron Wahid saat merespon polemik pagelaran wayang di pondok pesantren Gus Miftah. Dalam keterangannya di channel Youtube NWTV, Nusron mengatakan otoritas dalam cerita atau lakon pewayangan terletak pada sang dalang, dan biasanya itu berupa kritik terhadap dinamika sosial di masyarakat, termasuk parodi yang ada di dalamnya.

Instrumen Kebudayaan

Nusron melanjutkan, kebudayaan juga merupakan instrumen. Bisa jadi instrumen pemersatu, instrumen dakwah hingga menjadi instrumen pemecah belah maupun kemaksiatan. Itu semua tergantung dalam yang memainkannya.

Oleh karenanya, Nusron mengimbau masyarakat tidak usah benci maupun risau apalagi marah berlebihan terhadap fenomena wayang. Kalau tidak setuju tidak usah ikut.

“Karena itu saudara sekalian, tidak usah marah berlebihan menanggapi fenomena ini. Kalau ada orang yang menganggap wayang tidak perlu, biarkan saja. Kelak mereka akan dilindas oleh kebudayaan itu sendiri,” katanya.

Nusron juga menyinggung terkait tokoh yang diparodikan wayang akhir akhir ini. Dirinya menganggap hal itu semestinya dijadikan sebagai sesuatu yang biasa saja.

“Dulu ada seorang dalang, Ki Entus Susmono, juga sering memperagakan tokoh nasional, seperti Gus Dur, Amin Rais, Bu Mega, Pak SBY, dan Jokowi diparodikan dengan wayang. Bahkan Obama juga diparodikan.

Nggak ada yang ribut. Namanya juga wayang, tidak usah terlalu sensi. Tontonan yang mengandung nilai-nilai kritis dengan apa yang terjadi di masyarakat,” lanjutnya.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Identitas Nasional

Saatnya Sudahi Polemik

Bila dikaji lebih jauh, wayang memang tak ubahnya sebuah tontonan yang menghibur masyarakat dan dimainkan oleh seorang dalang. Soal lakon apa yang ingin diperankan, tergantung dari dalang itu sendiri. Tema-tema yang kerap kali muncul bukan hanya seperti yang ada dalam kisah Ramayana maupun Mahabharata.

Namun, di zaman sekarang, tema sebagaimana diangkat sang dalang bisa berupa isu dan dinamika yang berkembang di masyarakat. Walaupun tema utamanya masih seputar kisah Ramayana maupun Mahabarata, biasanya tak pernah sepi atau disisipi dengan cerita atau adegan-adegan berupa persoalan-persoalan yang sedang berkembang di masyarakat. Hal ini menjadi cerita dalam wayang tersebut menjadi menarik, lebih hidup, dan menghibur.

Akhirnya, Nusron juga mengajak semua pihak untuk bersama mengambil ibroh dan berharap polemik yang terjadi belakangan ini tidak lagi dibesar-besarkan.

“Ini semua ada hikmah dan pelajarannya. Bagi yang senang wayang ya nggak usah ngaji sama Ustaz Khalid Basalamah. Yang nggak senang dengan parodi wayang ya nggak usah nanggap wayang. Tidak usah sensi dan dibuat ramai. Gitu aja kok repot. Hidup sudah sulit, tak perlu dipersulit,” tutupnya.

Terakhir kita berharap wayang yang sedang menjadi perbincangan dan diskusi publik justru membuat eksistensi wayang itu sendiri semakin melejit. Masyarakat yang sudah melupakan atau tidak mengenal wayang, justru hari-hari ini dengan adanya kontroversi wayang yang sedang berkembang menjadi ingin tahu, apa itu sebetulnya wayang. Tentu ini bagus untuk menjaga dan melestarikan wayang sebagai sebuah budaya asli bangsa ini.

Salam Persatuan
Redaktur Mading.