5 Fakta Menarik Generasi Milenial tentang Produk Halal

337
Sumber: Kemenkeu

Di Indonesia, BPJPH (Badan penyelenggara Jaminan Produk Halal) adalah institusi negara yang memberikan pengakuan halal atas sebuah produk yang ditunjukkan dengan label/logo halal pada kemasannya. Pengakuan tersebut dikeluarkan secara resmi dengan berdasarkan fatwa halal yang tertulis yang dikeluarkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Labelisasi dengan sertifikat halal sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, namun arus pro dan kontra belakangan ini terlihat menjadi perdebatan terbuka masyarakat terutama di ruang media sosial.

Terlepas dari pro dan kontra masyarakat soal labelisasi halal pada suatu produk, namun yang jelas tren produk yang bersertifikat halal ini memunculkan fakta berupa pengalaman maupun pandangan tersendiri bagi generasi milenial terutama dari kalangan muslim.

Setidaknya ada 5 fakta menarik perihal pandangan generasi muslim milenial terhadap produk halal. Fakta tersebut didapat dari hasil survei Puslitbang Kementerian Agama yang diketuai oleh Dr. Fauziah ini dilakukan melalui sampel yang sejumlah 840 orang generasi muda muslim dari lima Provinsi (DKI Jakarta; Jawa Barat; Banten; Jawa Tengah; dan Yogyakarta).

Responden ini ikut serta dalam survei Indeks Kesadaran Halal dengan penentuan metode sampling non probability, yaitu kriteria responden adalah konsumen muslim yang berusia di atas minimal 17 tahun dan maksimal 25 tahun dan melakukan pembelian berdasarkan pengambilan keputusan sendiri.

Berikut ini 5 fakta menarik pandangan generasi muslim milenial perihal kesadaran terhadap produk halal khususnya di Indonesia:

1. Minat Memilih Makanan dan Minuman Halal

Survei ini menemukan bahwa Level Indeks Kesadaran Halal (IKH) Generasi Muslim Milenial dalam dimensi sadar syar’i sudah termasuk dalam kategori sangat baik dengan nilai hasil IKH menembus angka 90.32.

Lebih jauh, ternyata kesadaran generasi muslim milenial menentukan minat untuk memilih makanan dan minuman yang halal dan meninggalkan yang haram atau pun syubhat (tidak jelas statusnya).

2. Memperhatikan Aspek Higienis

Selain pentingnya status halal pada makanan dan minuman, level IKH juga menunjukkan bahwa generasi muslim milenial sangat memperhatikan aspek “higienis”.

Nilai IKH mencapai angka 88.64 (nilai A). Fakta dari survei ini menegaskan, perilaku hidup bersih dan sehat pada generasi muslim milenial terlihat dari pola konsumsi makanan dan minuman mereka sehari-hari.

3. Aman bagi Tubuh

Dimensi produk yang “aman” ternyata menjadi kesadaran yang dipertimbangkan oleh generasi muslim milenial. Level IKH masuk dalam kategori “Sangat Baik” dengan skor yang didapat adalah 84.04 (nilai A).

Hasil IKH ini menjelaskan bahwa kesadaran generasi ini dalam melihat makanan halal sudah tidak lagi terbatasi pada hukum kebendaannya saja yang halal, melainkan tapi juga lebih secara komprehensif. Dengan kata lain, produk yang halal itu tidak hanya soal higienis, tetapi juga aspek aman bagi tubuh.

4. Kualitas Jadi Kesadaran Penting

Survei ini juga menemukan bahwa Generasi Muslim Milenial menilai “kualitas” menjadi bagian penting dari suatu produk halal. Level IKH dimensi sadar kualitas ini berada pada hasil indeks yang positif atau kategori “Sangat Baik” dengan nilai angka 87.94.

Kesadaran produk halal dengan memperhatikan dimensi kualitas ini meliputi proses awal, mulai dari farming (penanaman dan peternakan) sampai dengan proses akhirnya serving (penyajiannya).

5. Standar Halal yang Komprehensif

Berangkat dari empat dimensi sadar halal yang terdiri dari syar’i, higienis, aman dan kualitas, secara signifikan dikonfirmasi dapat menjelaskan Kesadaran Halal yang komprehensif di kalangan Generasi Muslim Milenial di Indonesia.

Lima fakta di atas menggambarkan label halal tidak hanya sebatas untuk formalisasi, melainkan mempertimbangkan pentingnya dimensi-dimensi yang mengarah pada idealitas standar suatu produk halal dari pangan generasi milenial. (MZN)