12 Teknik untuk Membentuk Tingkah Laku Anak

345
Ilustrasi: Bangkudepan

Pada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan tentang 10 teknik untuk membentuk tingkah laku anak sebagaimana berikut:

1. Memahami
2. Mengabaikan
3. Mengalihkan Perhatian
4. Keteladanan
5. Hadiah
6. Perjanjian
7. Membentuk
8. Mengubah Lingkungan Rumah
9. Memuji
10. Mengajak

Selanjutnya, menurut pakar pendidikan asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Otib Satibi Hidayat dalam bukunya berjudul Pendidikan Karakter Anak Sesuai Pembelajaran Abad ke-21 (2020: 72-75) masih ada 12 teknik lain bagi para pendidik untuk membentuk tingkah laku anak berikut ini.

11. Menantang

Memberi tantangan yang bersifat bersahabat lebih efektif terhadap anak yang dianggap mampu, tetapi kurang motivasi dan sangat efektif untuk anak balita. Cara ini cocok dilakukan untuk tugas-tugas sederhana. Piaget mengatakan, bila anak tidak mengalami benturan dengan lingkungan, tidak ada motivasi dan perkembangannya tidak akan maju. Dalam bersaing, kalah atau menang tidak perlu menimbulkan rasa malu.

12. Menggunakan akibat yang wajar dan alamiah

Membiarkan anak untuk belajar mengalami sendiri konsekuensi wajar dari kesalahan mereka. Kesukaran dan rasa sakit yang dialami mengajarkan banyak arti pada kehidupan anak.

13. Sugesti

Memasukkan suatu pikiran ke dalam jiwa anak. Sugesti tidak melakukan tekanan sehingga anak bebas untuk melakukan Sikap. Lebih efektif bila yang memberikannya adalah orang yang dikagumi. Jadi, sugesti positif akan mengarahkan pada tingkah laku positif, demikian pula sugesti negatif.

14. Meminta

Mengimbau anak untuk melakukan sesuatu bagi orang tua. Anak akan memenuhi permintaan bila ada hubungan positif antara orang tua dan anak. Orang tua harus bersedia menerima jawaban “ya” atau “tidak”, walaupun saat memerintah jawaban yang dikehendaki orang tua adalah “ya”. Dengan demikian, orang tua yang bijak akan lebih sedikit menggunakan perintah dan lebih sering menggunakan permintaan, sugesti, atau ajakan.

15. Kerutinan dan Kebiasaan

Kegiatan ini merupakan penanaman disiplin sehari-hari. Kebiasaan harus dilaksanakan dengan konsisten, baik oleh orang tua maupun anak. Penyimpangan terhadap aturan ini jangan ditoleransi. Dalam hal ini aturan akan lebih efektif jika dituliskan dengan teliti dalam jadwal.

16. Peringatan atau Isyarat

Peringatan bisa berupa verbal atau non verbal serta harus dibedakan dengan omelan. Peringatan bersifat objektif, sedangkan omelan bersifat emosional.

17. Menghadapkan Suatu Problem

Beri tahu anak secara jelas bahwa tingkah laku mereka bisa saja menimbulkan suatu masalah yang tidak menyenangkan orang lain. Mereka harus belajar memperhatikan orang lain. Mereka tidak hanya menuntut untuk dipahami, tetapi juga harus belajar memahami orang lain.

18. Memecahkan Perselisihan

Penyelesaian konflik dengan teman-teman yang lain lebih efektif dengan argumentasi yang logis daripada penyelesaian dengan berkelahi. Caranya meminta argumentasi terhadap poin-poin tersebut dan cari penyebab yang lebih mengena. Mintalah alternatif penyelesaiannya dan dorong mereka untuk mengambil alternatif pemecahannya.

19. Menentukan Batas-batas Aturan

Agar batasan efektif, perlu dilihat hal-hal yang sampai terlalu banyak pembatasan. Batasan harus jelas dan spesifik, contohnya aturan harus konsisten, atau berkata dengan kata yang menunjukkan cara positif.

20. Memberi Hukuman

Hukuman terdiri atas hukuman saat melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, menghilangkan suatu kesenangan, dan memberikan ketidaknyamanan, baik kejiwaan maupun fisik.

21. Penentuan Waktu dan Jumlah Hukuman

Penjatuhan hukuman akan lebih baik jika segera dilakukan ketika perbuatan salah itu dilakukan. Jangan menunda-nunda hukuman. Anak akan lebih cepat mempelajari suatu tingkah laku baru jika mereka diberi penguatan berupa sanksi setiap mereka melaksanakan tingkah laku itu. Hal yang terbaik adalah pemberian penguatan sebanyak mungkin sampai dia menguasai dan memiliki tingkah laku tertentu. Selanjutnya, berilah
penguatan itu sekali-kali saja.

22. Menggunakan Pengendalian

Secara Fisik Metode ini hanya dapat digunakan jika segala teknik untuk memengaruhi anak telah dilakukan dan menemui kegagalan. Sewaktu menggunakan paksaan secara fisik, orang tua harus tetap tenang dan teguh. Jadi, tunjukkan ketetapan hati dan bukan permusuhan, misalnya hindari suara teriakan dan tatapan mata yang melotot.

Demikian pendapat pakar pendidikan asal Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Otib Satibi Hidayat 22 teknik untuk membentuk tingkah laku dengan baik dan terarah. (MZN)