Zoom dan Fenomena New Normal

418
Photo by Allie on Unsplash
Photo by Allie on Unsplash

Oleh: Wendi Wijawardi, S.Pd, M.Ed

(Penggiat Pengembangan SDM, Alumni Faculty of Education and Human Development University of Minnesota Twin Cities )

Siapa yang tidak kenal Zoom? Jika kata itu disebut, asosiasi orang tertuju pada satu hal: aplikasi video call yang sedang naik daun.  Padahal, sebelum Covid-19 datang menyerang, sedikit orang saja yang mengenal Zoom, termasuk saya.

Saya pertama mendengar aplikasi Zoom sekitar pertengahan Februari 2020. Saat itu, seorang Professor di sebuah kampus di Australia membalas email yang saya kirim. Professor itu kemudian mengajak untuk diskusi lebih lanjut via Zoom. “We can schedule a Zoom meeting”, tulisnya di email.

Awalnya saya asing dengan nama itu. Zoom. Zoom meeting. Apa maksudnya? Saya menebak, Zoom mungkin sejenis aplikasi video call sejenis para pendahulunya yang terkenal lebih dulu: Skype, Webex atau Google Hangout.

Saya cari di Google play dan ternyata tebakan saya benar.  Saya langsung unduh aplikasi Zoom saat itu juga, dan percakapan terjadi. Zoom meeting untuk pertama kali.

Tak lama berselang, ketika anjuran bekerja dan belajar dari rumah disuarakan pada pertengahan Maret, Zoom tetiba meraih popolaritas. Ketika orang-orang mencari alternatif penggunaan teknologi untuk tetap belajar dan bekerja, Zoom hadir sebagai pilihan mayoritas.

Hanya dalam jangka waktu satu bulan, Zoom menjadi primadona dunia, termasuk di Indonesia. Belajar, rapat, diskusi dan bahkan pengajian dilakukan melalui aplikasi Zoom.

Dari data yang dikeluarkan oleh Apptopian, konsumen Zoom melesat 67% selama periode Januari-pertengahan April. Bahkan, data rata-rata orang yang menggunakan Zoom meeting melesat dari 10 Juta di bulan Desember 2019 menjadi 300 juta di Bulan Maret 2020.

Saking tenarnya, plesetan seputar Zoom menyeruak. Ada istilah Baby Zoomer untuk menggambarkan generasi Zoom, plesetan dari Baby Boomer. Ada istilah Zoominar, plesetan dari Seminar. Ada juga istilah ‘Ngezoom Yuk’, ajakan untuk ngobrol via Zoom.

Terlepas dari kelemahan sistem keamanan yang terjadi, Zoom adalah fenomena. Zoom adalah contoh dari sekian banyak new normal yang terjadi di era pandemi. New normal merujuk kepada kebiasaan baru yang tetiba terjadi menjadi kebiasaan baru.

Selepas pandemi, saya percaya Zoom dan kebiasaan-kebiasaan baru seperti melakukan Video call untuk belajar, bekerja, dan aneka kegiatan akan terus terjaga . New normal menjadi new habit, new habit akan menjadi new system. New System kemudian akan mendorong para pemangku kebijakan untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang mendukung percepatan.

Zoom dan new normal lainnya akan menciptakan tatanan baru di masyarakat. Dan tidak mustahil, selepas musim pandemi, perusahaan akan memulai budaya bekerja dari rumah, sekolah akan menerapkan belajar dari rumah, dan mungkin birokrasi juga akan melirik sistem bekerja dari rumah. Produktif dari rumah bukan lagi hal utopis. Setidaknya, pandemi Covid-19 mengajarkan kita, bahwa kita bisa tetap produktif meski hanya duduk manis di depan layar komputer dari dalam rumah.