Ziryab Sang Maestro Musik Andalusia

345
Musik di Andalusia
Photo by Sergio R de Juan on Unsplash

Sejarah Musisi Andalusia

Suatu hari pada awal abad ke-3 H / ke-9 M, seorang musisi muda tiba bersama keluarganya di “al-Jazirah al-Khadra” yang terletak di pesisir pantai Iberia—sekarang Algeciras, sebuah kota di Provinsi Cádiz yang terletak di Spanyol (Andalusia) bagian selatan.

Musisi ini datang untuk mencari perlindungan di istana al-Hakam I, Amir Cordoba dari Bani Umayyah yang bertahta pada 180 –206 H / 796–822 M.

Tatkala menapakkan kaki menuju istana, dia baru mengetahui rupanya sang amir telah meninggal dunia.

Untungnya, dia bertemu seorang utusan dari istana Cordoba, musisi lain bernama al-Mansur yang beragama Yahudi.

Al-Mansur meyakinkan musisi muda itu bahwa seperti ayahnya, sang amir baru, ‘Abd al-Rahman II, yang berkuasa pada 206–237 H/ 822–852M, juga merupakan pencinta musik yang bergairah.

Pada akhirnya, musisi muda itu disambut di Cordoba oleh sang amir baru sekitar awal bulan Muharram 207 H / akhir bulan Mei 822 M.

Sejak saat itu, dimulailah karir seorang musisi dan komposer paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah Spanyol Islam—yang kala itu dikenal dengan sebutan Andalusia.

Kehadirannya di istana Cordoba telah membawa perubahan dramatis dalam budaya musik Andalusia.

Metode pengajaran, repertoar, dan filosofi musiknya telah memengaruhi banyak musisi selama beberapa generasi berikutnya dan menciptakan, hampir dalam sekejap, tradisi musik istana yang canggih di Cordoba.

Nilai Tata Krama Dalam Musik Andalusia

Lebih dari itu, seniman multitalenta ini juga memperkenalkan sejumlah tata krama atau budaya kesopanan yang tak terhitung banyaknya ke Istana Cordoba dalam hal pergaulan, pakaian, gaya rambut, kebersihan, kuliner dan sebagainya.

Pengetahuannya hampir tidak mengenal batas dan dia diriwayatkan memiliki keahlian dalam bidang astronomi, astrologi, geografi, sejarah, dan puisi, bahkan dikenal sebagai seorang pembicara yang berbakat.

Alhasil, sosok legendaris ini telah menjadi personifikasi dari semua karakteristik kesopanan Muslim abad pertengahan: sosok yang merupakan “sahabat baik” (nadim) bagi Amir dan “orang mulia” (syarif) di istana Cordoba, dan juga seorang musisi jenius.

Lahir di Irak pada tahun 789 M, sosok legendaris yang kita bicarakan ini memiliki nama asli Abu al-Hasan ‘Ali ibn Nafi’.

Namun sosok ini lebih dikenal dengan julukan “Ziryab”. Ibn Hayyan al-Qurthubi, dalam kitabnya al-Muqtabis, memberikan dua penjelasan tentang julukannya ini.

Pertama, Ziryab berarti “burung hitam” (tha’ir aswad). Julukan ini diberikan kepadanya karena warna kulitnya yang hitam (suhmat lawnih), lidahnya yang fasih (fashahat lisanih), dan raut wajahnya yang indah (halawati syama’ilih)—mirip dengan burung hitam yang suka bernyanyi di kampung halamannya.

Kedua, Ziryab berarti “emas” (al-dzahab). Julukan ini diberikan kepadanya karena warna kulitnya mirip dengan warna emas.

Penjelasan pertama merupakan versi yang paling sering dikutip dalam kitab-kitab sejarah, termasuk dalam kitab Nafh al-Thib min Ghushn al-Andalus al-Rathib karya Abu al-‘Abbas Ahmad al-Maqqari, yang menyebut Ziryab sebagai “maestro para penyanyi” (ra’is al-mughannin).

Sanad Keguruan Ziryab

Ziryab adalah murid Ishaq al-Mawshili, seorang musisi, komposer dan pemuka para penyanyi (kabir al-mughannin) di istana khalifah Abbasiyah yang terkenal, Harun al-Rasyid.

Bakat dan keunggulan Ziryab dalam musik perlahan-lahan mengambil alih posisi gurunya, yang membuatnya dekat dengan Sang Khalifah.

Ceritanya dimulai ketika Harun al-Rasyid meminta Ishaq al-Mawshili untuk menggelar pertunjukan dan menampilkan musisi muda.

Ishaq lantas menghadirkan muridnya yang berbakat itu ke hadapan Sang Khalifah.

Dalam sesi tersebut, Harun meminta Ziryab untuk menyanyikan lagu dan memainkan ‘ud milik Ishaq al-Maushili.

Ziryab menolak, dan sebagai gantinya meminta untuk memainkan ‘ud miliknya sendiri, yang menurutnya telah dimodifikasi agar cocok untuk memainkan lagu-lagu khusus miliknya yang tidak diketahui orang lain.

Lagu-lagu istimewa inilah yang ingin dibawakan Ziryab untuk Sang Khalifah.

Harun al-Rasyid sangat senang dengan apa yang didengarnya dan terkesan dengan sopan santun dan bakat musik Ziryab.

Setelah debut yang mengesankan di hadapan Sang Khalifah, Ishaq dengan kesal menawarkan Ziryab dua pilihan: tinggal di Baghdad dan menghadapi kemarahan Ishaq atau meninggalkan Baghdad dan tidak pernah kembali.

Awal Mula Hijrah Ke Andalusia

Karena gurunya adalah musisi paling berpengaruh di istana Harun al-Rasyid, Ziryab memilih untuk pergi ke Andalusia.

Menurut versi standar biografi Ziryab, ia ‘dianaktirikan’ di Baghdad dan malah diundang ke Cordoba oleh al-Hakam I.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, setibanya di pesisir pantai Iberia, ia mendengar kabar bahwa al-Hakam telah meninggal dunia dan digantikan oleh putranya, ‘Abd al-Rahman II, yang pada akhirnya menjadi patron utama dalam karir bermusik Ziryab.

Abd al-Rahman II sangat mengagumi Ziryab dan menjadikannya sebagai musisi favorit di Istana Cordoba.

Dia menghujani Ziryab dengan hadiah berlimpah, termasuk gaji bulanan 20 kali lebih besar dari musisi lain di istana (sekitar 200 Dinar emas), fasilitas rumah elok, kendali atas hasil bumi dari beberapa pertanian, dan hak-hak istimewa lainnya.

Fasilitas VIP ini telah memberi kesempatan besar bagi Ziryab untuk menyalurkan bakat dan kreativitasnya secara maksimal.

Dia tidak hanya merevolusi musik, tetapi juga membuat terobosan penting dalam bidang mode dan gaya hidup Abad Pertengahan.

Bersambung…

Penulis: Rahmat Hidayatullah