Ziarah Kampus Hingga Ke Temple University (Part 2)

247
University
Sumber Foto https://education.temple.edu

Alumni Temple University

Alumni Temple University yang namanya kondang sedunia adalah pelawak Bill Cosby. Pernah saya lihat dia tampil memberikan ceramah di kampus sebagai alumni yang cukup membanggakan. Tapi itu sebelum kasus pelecehannya kepada banyak sekali perempuan di sepanjang hidupnya menyeruak.

Ada satu alumni Temple University dari Indonesia yang sangat dikenal. Yaitu Dr. Alwi Shihab, menteri luar negeri di era kepresidenan Gus Dur. Saya sempat diminta beliau tahun 2014 untuk memindai lengkap disertasinya yang ada di perpustakaan kampus.

Tahun 1991, beliau atas rekomendasi Prof. Mahmoud Ayoub, masuk Temple University untuk menempuh studi S3 dan selesai tahun 1995 dengan disertasi mengenai “The Muhammadiyah Movement and Its Contoversy with Christian Mission in Indonesia.

Prof. Ayoub adalah guru istri saya juga di Hartford Seminary. Beliau asli Libanon. Meskipun tuna netra sejak kecil, tapi beliau lulusan Harvard University yang kondang itu. Setelah pensiun dari Temple, beliau mengajar di Hartford. Istri beliau, Mbak Lina, berasal dari Ciganjur. Kini mereka tinggal di Kanada.

Perjalanan Menuju Kampus

Pagi hari jumat itu, kami menuju kampus naik BSL. Dari Al-Falah, stasiun terdekat adalah Tasker-Morris. Tapi kali ini Pak Rafiq ngajak saya naik dari stasiun yang lebih jauh. Kayaknya beliau butuh jalan kaki sejenak untuk refreshing. Kami jalan hingga lewat dua stasiun. Naik di stasiun Lombard, sekitar 1,5 kilometer dari stasiun Tasker-Morris.

University
Dokumentasi Pribadi

Lima belas menit kemudian kami tiba di stasiun Susquehanna-Dauphin. Sembari menuju gedung tempat Department of Religion berada, Pak Rafiq menelepon ibunya di Banjarmasin untuk minta doa restu. Ibunya hanya berpesan agar jangan lupa kirim Al-Fatihah buat para penguji.

Simak Artikel Sebelumnya, lihat Ziarah Kampus Hingga ke Temple University.

Ketika itu, ujian atas karya tulis penelitian sebagai tugas akhir dalam benak saya seperti suasana di Indonesia. Istilahnya juga mengerikan: sidang. Ada dosen penguji selaku majelis hakim, dan mahasiswa yang diuji selaku terdakwa. Tata letak ruang sidang layaknya ruang persidangan di pengadilan.

Semua serba terasa formal. Apalagi ini disertasi. Saya pun yang cuma sebagai satu-satunya supporter berpakaian sopan, minimal seperti aturan mahasiswa di Indonesia kalau masuk ruang dosen. Berkemeja dan bersepatu. Dan pagi itu saya juga pakai jas!

Perbedaan Sidang dengan Universitas di Indonesia

Tiba di gedung Department of Religion, kami menuju ruang Prof. Khalid sebentar lalu menuju ruang perkuliahan untuk menunggu. Saya mencoba keliling lihat-lihat ruangan di sekitarnya. Saya cari-cari ruang sidang kok nggak nemu. Atau mungkin namanya sesuai istilah di sini. Ujian disertasi biasanya disebut defense. Mempertahankan argumen hasil penelitian.

Tidak ketemu juga tulisan room of defense. Saya pun balik lagi ke ruangan tadi dan Prof. Khalid sudah ada di sana dengan beberapa orang lain.

Ternyata ujian disertasi dilaksanakan di ruang kuliah itu. Meja kuliah ditata melingkar seperti mau diskusi kelompok. Saya pun duduk di tempat yang tersedia di pinggir. Saya perhatikan, ternyata yang pakai jas hanya saya dan Pak Rafiq. Tiga orang penguji dan satu orang external committee lain pakai kemeja biasa. Bahkan satu penguji hanya pakai kaos dan bersandal. Haha.

Ujian dibuka sebentar oleh Prof. Khalid lalu Pak Rafiq pun dengan ringkas menerangkan hasil penelitian disertasinya. Suasana hanya seperti obrolan biasa. Santai. Para penguji bertanya beberapa hal dan memberi saran hal-hal apa yang bisa digali dan dikembangkan dari disertasi itu.

Suasana tidak seperti bayangan saya bahwa Pak Rafiq akan dicecar dan disudutkan atas lobang-lobang dalam penelitiannya. Tidak sekaku dan seseram persidangan. Mungkin karena para penguji sudah dikirimi Al-Fatihah juga. Hehe.

Akhirnya Sidang Disertasi Selesai

Tidak sampai satu jam, saya dan Pak Rafiq diminta keluar sebentar. Para penguji berdiskusi menentukan lolos atau tidaknya. Dan ketika dipersilahkan masuk kembali, ucapan selamat disampaikan para penguji dan juga oleh external comittee yang adalah orang Medan, yaitu Prof. Parsaoran Hutapea.

Beliau ahli teknologi bahan bakar pesawat luar angkasa. Beristrikan orang Jerman, beliau sudah menjadi dosen tetap di Temple University. Pak Rafiq berhasil mempertahankan disertasinya dengan nilai sangat baik.

University
Dokumentasi Pribadi

Enak ya ujian disertasi di Amerika. Kalau teman-teman ingin, siap-siap melalui masa doktoral minimal lima tahun. Harus menguasai dua bahasa lain selain Inggris dan Indonesia.

Serta melalui ujian kompre dengan bahan bacaan minimal 100 buku. Penelitian dan penulisan minimal dua tahun. Kalau nggak bakat sekolah, ya minimal bersuami atau beristri orang yang hobi sekolah, macam saya. Haha.

Penulis: Jamal Jufree Ahmad