Ziarah Ingatan di Hari Lebaran Idul Fitri

260
fitri
Sumber Foto CNN Indonesia

Meski telah lulus dari ujian mengelola hasrat duniawi, segalanya masih terasa hambar. Sungguh kemenangan yang masygul. Matahari memang tetap bersinar hari ini, tapi hangatnya tersangkut dalam rimbun gegana. Siapa sangka kita akan pergi ke masjid dengan bermasker, shaf-shaf rumpang dan berpenghalang, jabat tangan urung terulur, serta sekian banyak anomali lain terjadi. Pandemi benar-benar berhasil merevisi agenda kita di hari fitri.

Baca juga: Fakta Menarik di balik Larangan Mudik Lebaran

Aktivitas kinetik yang terbatas, membuka rute perjalanan ingatan ke waktu lalu. Saat gemerlap pesta kemenangan dirayakan sebagian besar insan. Untuk hal-hal yang menyenangkan itulah kita harus bertahan. Bertahan untuk tidak sesuka hati berkumpul riuh, bertahan untuk berdiam diri di rumah, dan bertahan dari rasa bosan serta kesepian. Tak ada jalan pintas untuk mencegah wabah, apalagi jalan tikus.

Nostalgia memperkaya alasan kita agar mampu keluar dari tekanan pembatasan. Untuk semua kenangan baik, tentang kesetiakawanan yang sukar diuraikan logika, tingkah konyol sahabat pemecah kebekuan, kehangatan cinta si dia, dan pertukaran ide di tempat kerja. Seluruhnya masih bisa kita rengkuh setelah kedigdayaan Corona runtuh, kala grafik penyebarannya merosot jatuh.

Titik Nol

Idul Fitri mengajarkan kita bahwa manusia adalah makhluk pemaaf. Serupa noktah hitam pada pakaian, dosa juga bisa dibersihkan. Kebijakan pemerintah yang membingungkan, simpang siur warta media, dan kengeyelan saudara kita silih berganti memompa emosi. Belum lagi prank-prank nirfaedah yang memaksa kita memuntahkan sumpah serapah.

Kelapangan hati memberi maaf sama pentingnya dengan kemampuan mengingat. Lembaran baru selalu putih tanpa noda, catatan kemarin jangan dibuang tapi kita jadikan pegangan. Karena kita belum sepenuhnya menang, bersatu mengenyahkan pandemi bisa jadi solusi. Semoga penyesalan bisa dibarengi dengan perbaikan sikap.

Seperti halnya kisah kotak Pandora di era Yunani Kuno, selain malapetaka, keburukan, dan penyakit, kotak itu juga berisi harapan. Mudah-mudahan kita tak kehabisan harapan, dan kemenangan dapat dirapel esok hari. Kemenangan Idul Fitri, dan kemenangan melawan pandemi.

Penulis: Rifqi Aziz