Yoga di Masa Sulit

391
Photo by Ksenia Makagonova on Unsplash
Photo by Ksenia Makagonova on Unsplash

Oleh : Yudhi Widdyantoro

(Praktisi Yoga)

‌Setiap hari kita dengar pengumuman penanganan Covid-19. Angka-angka ODP dan PDP terus bergerak, cenderung naik. Walaupun penambahan yang sembuh semakin banyak, tapi yang meninggal dan persebaran kasus baru tidak sedikit.

Orang awam seperti terancam sakit dan kematian di tengah ketidaktahuan dan kebingungan. Thomas Aquinas –filsuf abad pertengahan pernah berkata, “Kejahatan dan penderitaan adalah alasan terkuat dari kebanyakan orang beriman untuk percaya kepada Tuhan,”. Kejahatan dan penderitaan tidak memiliki eksistensinya sendiri karena pada intinya kejahatan adalah “ketiadaan kebaikan”, tambahnya. Tapi apakah penderitaan dan kebaikan itu? Bagaimana praktisi yoga memaknai wabah di masa sulit ini?

‌Banyak guru yoga mengatakan kebaikan ajaran yoga. Publikasi atau ceramah manfaat latihan olah tubuh yoga sudah bertebaran. Demikian juga tinjauan aspek psikis dan mental, sama banyaknya.

Saat sulit imbas pandemi — berbarengan dengan bulan puasa kemarin. Bagus juga bagi praktisi yoga merenungkan kembali makna latihan yoga. Puasa, fasting dalam bahasa Inggris bisa dijadikan pintu masuk awal. Tujuh kata “FASTING”, F, forgiveness, memaafkan; Acceptence, menerima, penerimaan; Self-control, pengendalian diri, Truth, kebenaran, kejujuran; Integrity, integritas, keutamaan; Nourishment, asupan bergizi–menyehatkan; Grace, keanggunan, kelemahlembutan. Sehingga nilai kebaikan saat puasa harus tetap kita jaga.

Salah satu tanda bahwa kita, sebagai manusia pernah dilahirkan adalah pusar. Pusar ketika dalam kandungan terhubung dengan plasenta ibu kita sehingga janin bisa benafas dan beroleh makanan. Pusar menjadi penghubung dengan nenekmoyang, peradaban dan keberadaan kita saat ini. Kalau kita lupa keterhubungan ini, sekaranglah saatnya memaafkan diri sendiri. Tidak perlu menunggu lebaran. Latihan pernafasan yoga, pranayama erat kaitannya dengan kesadaran pentingnya pusar. Pranayama dan pratyahara menuntun kita pada kepekaan spiritual.

Saat pandemi ini kita dikepung ketidaktahuan. Yogi yang bukan ahli epidemologi perlu mengembangkan sikap penuh, cukup, ‘content’. Salah satu nilai dalam Niyama, yaitu ‘santosa’ sehingga dapat rasa menerima, ‘acceptance’ yang telah disebut di atas. Nilai-nilai lain yang terkandung di tangga kedua Yogasutra Patanjali, maupun tangga pertama erat terkait dengan kontrol diri, integritas, pengelolaan asupan energi yang menyehatkan untuk menjadi pribadi yang penuh maaf, gracious, anggun, terbuka dan lentur dalam pergaulan hidup di masyarakat dengan dasar etika kesadaran akan keunikan setiap orang dan prinsip keberagaman.

Diri kita, tubuh ini, dan sistem organisma di dalam perlu dibaca sebagai kesatuan yang salingbergantung, seperti juga kesalingterhubungan di jagatraya. Tubuh perlu dibaca lagi dan lagi. Sutra pembuka Yogasutra, “atha yoganusanam”, atha, Now, blessing; anusanam, advice, direction. :”Sekarang, saksikan berkah yoga ini sebagai tuntunan hidup.” Sutra pembuka Yogasutra, seperti juga ayat pertama Alquran, Iqra, bacalah. Bacalah tubuh ini, lingkungan, dan alam semesta bekerja agar kita lebih mengenali diri sendiri serta saling menghargai setiap kehidupan.