Wujud Cinta Tanah Air dari Bilik Pesantren

194
Wujud Cinta Tanah Air dari Bilik Pesantren
Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Kalangan yang dekat dengan pesantren tentu tak asing dengan nama KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai pencipta syair Hubbul Wathon minal Iman  atau dikenal dengan Yaa Lal Wathan sebagai wujud cinta tanah air.

Syair Yaa Lal Wathon (Syubbanul Wathon) atau Pemuda Tanah Air karangan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) almaghfurlah KH Wahab Chasbullah.

Syair ini mulai terdengar di telinga masyarakat luas ketika peresmian Hari Santri Nasional (HSN) pada tahun 22 Oktober 2015 silam. Lagu tersebut sebenarnya sudah lama dinyanyikan kaum Nahdliyyin sebagai bentuk rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia.

Sejarah Syair Ya Lal Wathon

Pada tahun 1916, KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan).

Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air, dan hal ini juga yang menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul ‘Ulama.

Baca juga: Menjadi Golongan Ahlul Hidayah

Syair ini dikarang oleh KH Wahab Chasbullah pada tahun 1934. Syair Ya Lal Wathon ini awalnya dilantangkan para santri setiap hendak memulai kegiatan belajar.

Lagu itu kemudian berkembang dan menjadi penyemangat para pemuda Islam untuk mengusir penjajah Belanda dari Tanah Air.

Bahkan setiap hendak dimulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan syair perjuangan dalam bahasa Arab ciptaan Mbah Wahab sendiri.

Disebutkan bahwa syair itu sengaja dinyanyikan dalam bahasa Arab oleh para santri dan warga NU untuk mengelabuhi kaum penjajah.

Wujud Cinta Santri Pada Negeri 

Kini, syair tersebut sangat populer di kalangan pesantren dan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama (NU), yakni Yaa Lal Wathan yang juga dikenal dengan Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air).

Benih-benih cinta tanah air ini akhirnya bisa menjadi energi positif bagi rakyat Indonesia secara luas sehingga perjuangan tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi pergerakan sebuah bangsa yang cinta tanah airnya untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar yang berdiri tahun 1919.

Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische studie club, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah bagi para ulama muda pembela mazhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, yakni membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah.

Kiai Wahab telah membuktikan diri bahwa internalisasi semangat nasionalisme sangat efektif diwujudkan melalui ranah pendidikan. Hal ini dilakukan dengan masif di berbagai pesantren sehingga peran kalangan pesantren sendiri diakui oleh dr Soetomo (Bung Tomo) sebagai lembaga yang sangat berperan dalam membangun keilmuan kokoh bagi bangsa Indonesia sekaligus dalam pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan.

Momentum kemerdekaan yang menjadi refleksi sejarah dan kebebasan dalam mengekspresikan kemerdekaan inilah yang dirayakan dengan sukacita oleh seluruh rakyat Indonesia,

tak terkecuali kaum santri yang memang dari fakta sejarah diatas rasanya sudah tak perlu diragukan rasa nasionalisme yang dipupuk dan punya fondasi kuat berkat tarbiyah wat ta’lim daripada ‘ulama dan masyayikh terdahulu sehingga terus terjaga eksistensinya dan spirit nasionalismenya hingga saat ini.

Dirgahayu Indonesia,

Dari kami, Kaum Sarungan.

Berikut Syair Ya Lal Wathon dan terjemahannya:

يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن يَا لَلْوَطَن

حُبُّ الْوَطَن مِنَ الْإِيْمَان

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْحِرْمَان
اِنْهَضُوْا أَهْلَ الْوَطَن

إِنْدُونَيْسيَا بِيْلَادِيْ

أَنْتَ عُنْوَانُ الْفَخَامَا

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْمَا

طَامِحًا يَلْقَ حِمَامَا

“Pusaka hati wahai tanah airku

Cintamu dalam imanku

Jangan halangkan nasibmu

Bangkitlah, hai bangsaku!

Indonesia negriku

Engkau Panji Martabatku

S’yapa datang mengancammu

‘Kan binasa dibawah dulimu!”

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)