Transformasi Digital di Indonesia Bagaikan Pisau Bermata Dua

159
Digitalisasi di Indonesia Bagaikan Pisau Bermata Dua
Photo by Kaleidico on Unsplash

Memasuki era globalisasi, arus kehidupan dan informasi digital mengalami suatu akselerasi yang akhirnya menciptakan sebuah tatanan kehidupan baru dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi bukan hanya mempengaruhi aspek ilmu pengetahuan dan teknologi semata, melainkan aspek-aspek lain seperti aspek sosial, perdagangan bahkan spiritual dan kebudayaan.

Akselerasi inilah yang pada akhirnya menciptakan sebuah tatanan budaya yang kita kenal sebagai budaya digital. Budaya digital disini bukan hanya digitalisasi kebudayaan semata, melaikan digitalisasi segala aspek kehidupan yang menciptakan sebuah kebiasaan baru yang pada akhirnya hal itu menjadi sebuah budaya yang lazim kita jumpai di era globalisasi dan modernisasi seperti sekarang ini.

Perkembangan Budaya Digital di Indonesia

Tak bisa dipungkiri, budaya digital di Indonesia saat ini sudah menyebar begitu luas tidak hanya di kalangan generasi muda saja, melainkan arus globalisasi benar-benar dapat menggantikan kebiasaan-kebiasaan lama yang sudah ada,

apalagi dengan kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Mau tidak mau semua orang dipaksa untuk melek teknologi informasi dan akrab dengan dunia digital internet dan sosial media yang ada.

Dikutip dari situs aptika.kominfo.go.id, Sekretaris Jenderal Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dalam pembukaan  Webinar bertema Membangun Budaya Digital untuk Menunjang Transformasi Digital, Selasa (09/02/2021) menjelaskan bahwa budaya digital merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi digital karena penerapan budaya digital lebih kepada mengubah pola pikir (mindset) agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital.

Baca juga: Menyikapi kehilangan Adalah Suatu Kenikmatan

Transformasi digital bukan saja merubah kebiasaan tatanan hidup yang ada, melainkan faktor yang paling utama adalah perubahan pola pikir masyarakat Indonesia terhadap arus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini harus menciptakan suatu budaya digital yang ramah, sehat dan tetap menjunjung tinggi asas kebhinekaan serta harus tetap sejalan dengan amanah undang-undang dasar (UUD) 1945.

Namun seperti yang kita ketahui bersama, arus globalisasi yang sangat tinggi di negeri kita belum mampu menciptakan suatu budaya digital yang ideal di kalangan masyarakat kita ini.

Kasus pelecehan, penipuan elektronik serta penyebaran informasi hoaks masih menjadi makanan empuk di kalangan terdekat kita. Kebiasaan masyarakat internet atau netizen yang cenderung begitu saja menelan informasi tanpa menyaringnya terlebih dahulu masih sulit untuk dikontrol.

Hal ini diperparah dengan kelakuan beberapa oknum netizen kita yang gemar menghujat satu sama lain bahkan sampai menyerang unsur-unsur personal yang seharusnya tidak patut untuk dikomentari menjadi penyakit paling serius yang sering kita jumpai di beberapa media sosial,

Serta masih maraknya kasus penipuan yang terjadi. Beberapa alasan inilah yang akhirnya menjadi pertimbangan oleh pemerintah untuk melahirkan undang-undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE).

Walaupun pada kenyataannya, UU ITE masih menjadi perdebatan karena terdapat beberapa pasal karet yang dapat disalahgunakan oleh beberapa oknum,

namun harus kita sadari bersama bahwa penting bagi kita sekalian untuk mulai belajar bijaksana dalam bermedia social, serta mulai mengupayakan agar budaya digital yang tumbuh di kalangan masyarakat kita mampu menjadi pemicu kemajuan peradaban bangsa Indonesia ini.

Pembenahan Budaya Digital di Indonesia

Dikutip dari kilaskementerian.kontan.co.id, Danu Anggada Bimantara (Aktor & Pegiat Seni Tradisi) menjelaskan bahwa adanya budaya tutul (digital) seperti dunia digital, menjadi medan penting dalam pertukaran informasi dan pergaulan.

Oleh sebab itu, dunia menjadi saling terhubung (borderless) dan umat manusia menyatu dalam desa adibesar yang sering disebut (global village).

Ia juga menambahkan bahwa sebelum kita menggunakan suatu media, kenali, pahami, dan kuasai dulu media tersebut, supaya pesan kita tersampaikan dengan tepat.

Prinsip dasar pada literasi digital adalah pemahaman, saling ketergantungan, faktor sosial, dan kurasi. Pentingnya kecakapan dalam pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi, dan jaringan internet harus ditekankan mulai dari hal-hal yang paling dasar.

Baca juga: TikTok; Representasi Dua Sisi Digitalisasi

Dimulai dari control orang tua terhadap anaknya, walaupun pada hakikatnya tidak ada batasan bagi kita semua khususnya bagi anak untuk akrab terhadap dunia digital, malah kalau perlu sudah diperkenalkan sejak dini.

Akan tetapi yang terpenting adalah menanamkan unsur moralitas dan mengedepankan aspek pengetahuan sehingga dapat memunculkan kesadaran bermedia sosial dengan bijak bagi anak tersebut.

Bagaimana hari ini generasi muda kita harus lebih dewasa dalam berkecimpung di dunia digital atau bahkan dapat menjadi pribadi yang lebih dewasa karena bijak dalam bermedia sosial.

Nilai-nilai moral yang hari ini masih kurang harus diperbaiki dan ditingkatkan lagi, agar budaya digital yang hari ini ada di kalangan masyarakat Indonesia mampu tumbuh menjadi sebuah kebudayaan yang benar-benar menggambarkan unsur toleransi dan keberagaman.

Paling tidak, gelar yang disematkan oleh masyarakat global kepada kita yaitu netizen paling tidak sopan di dunia hari ini bisa kita putar balikkan dan kita buktikan kepada dunia bahwa inilah Indonesia sebenarnya.

Karena salah satu modal sebuah negara agar dapat dikategorikan sebagai negara maju adalah bangsa negara tersebut harus menjunjung tinggi moral dan kedewasaan dalam pola pikir dan berbudaya.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid
(Alumni Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)