Tradisi Mencium Tangan Guru

314
Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash
Ilustrasi /Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salah satu ajaran Islam yang sangat penting adalah akhlakul karimah. Sejumlah Al-Quran, sejumlah Hadits Nabi menjelaskan tentang budi pekerti yang mulia tersebut.

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ  مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Kata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, saya diutus untuk menyempurnakan akhlak.

 

Al-Quran menyampaikan dalam sejumlah ayatnya tentang kemuliaan, berinteraksi dengan sangat baik pada sesama manusia terutama kepada orang-orang yang kita hormati.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍۢ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ

Kalau kalian diberi penghormatan maka balas dengan lebih baik, atau balas penghormatan yang minimal sama dengan penghormatan yang kita terima.

Salah satu dalam budaya Indonesia, cara menghormati kepada orang tua itu adalah mencium tangan orang-orang yang kita anggap mulia, mencium tangan kepada orang tua, mencium tangan kepada orang-orang alim, (dan) kepada orang-orang sholih.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menjalani hal yang semacam ini. Sejumlah sahabatnya mencium tangannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satunya adalah  sahabat Zari’ al-‘Abdi, ia datang Bersama delegasi Abdul Qais. Zari’ menceritakan bahwa ketika berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “kami delegasi dari Abdul Qais turun dari kendaraan-kendaraan kami, lalu berebut mencium tangan Rasulullah dan juga mencium kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Meski sejumlah Ulama’ berbeda pendapat, apakah benar Rasululllah dicium kakinya? Akan tetapi para Ulama’ sepakat bahwa Rasulullah pernah dicium tangannya oleh sejumlah sahabat.

Dalam hal ini sejumlah Ulama’ memang ada perbedaan pendapat karena perbedaan di dalam budaya, dalam pandangan, dalam culture. Ada budaya dimana rasanya aneh seseorang mencium tangan orang lain. Akan tetapi di sejumlah budaya yang lain, justru aneh kalau seseorang tidak mencium tangan orang yang dianggap mulia.

Maka perbedaan yang semacam ini sebetulnya tidak menjadi perbedaan yang inti. Karena pada sejatinya, semua sepakat bahwa menghormati orang yang kita muliakan hukumnya adalah diperintahkan oleh Agama.

Sejumlah sahabat juga melakukan hal yang demikian ini. Satu sahabat mencium sahabat yang lain. Dalam sebuah riwayat, Ali mencium (tangan) ‘Abbbas, meski tentu aka ada perbedaan apakah ini benar mencium atau kah Hadits tersebut kurang bisa dipercaya. Tetapi, perbedaan-perbedaan semacam ini tidak menghilangkan bahwa ada budaya mencium (tangan) di tengah para sahabat, meski tidak semuanya.

Orang-orang yang taubat kepada Rasulullah ada Ka’ab bin Malik, (dan) Abu Lubabah. Ketika diterima taubatnya setelah meninggalkan perang tabuk, itu juga mencium Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Imam Malik memang tidak menyarankan untuk mencium tangan karena memang punya budaya yang lain. Ulama’ ketika ditanya tentang bagaimana seseorang istri mencium tangan suami, ini juga menjadi perbedaan. Kalua kita baca sebenarnya perbedaan itu adalah perbedaan culture dan budaya. Bahwa istri menghormati suaminya, tetapi bagaimana cara menghormatinya? satu budaya dengan budaya yang lain tentu saja berbeda.

Yang satu ingin menghormati dengan cara mencium tangannya. Yang satunya (lagi), cara menghormatinya barang kali dengan mencium pipinya, mencium yang lainnya. Ini hanya soal cara. Maka perbedaan yang semacam ini tidak seharusnya kemudian membawa perpecahan di antara umat Islam. Karena memang budayanya sudah berbeda.

Kita melihat sejumlah tulisan di Arab, mengkritik budaya Indonesia dimana seseorang istri mencium (tangan) suaminya, tetapi kalau kita sebagai orang Indonesia, lalu melihat orang Arab tidak mencium (tangan suaminya) itu rasanya juga menjadi aneh. Tetapi kita tidak perlu kemudian mengkritik budaya yang ada di sana, tidak perlu. Karena memang perbedaan-perbedaan semacam ini akan ada dimana saja.

Tetapi bahwa ada budaya mencium (tangan) di antara Rasulullah (dan para sahabatnya), meski tidak semua sahabat melakukannya itu. Jadi perbedaan ini tidak hanya masa sekarang, tetapi juga terjadi pada masa zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam” dan Nabi tidak melarangnya mencium, Nabi juga tidak memerintahkan yang tidak mencium (tangan) untuk mencium.

Karena ini murni masalah-masalah budaya, dan kita sebagai orang Indonesia mempunyai budaya yang seperti ini dan kita anggap ini punya dasarnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Terima kasih. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 *Transkip dari Youtube Chanel mading.id bersama  Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA.