Toto Sudarto Bachtiar Sastrawan sekaligus Pejuang

250
toto
Gambar oleh Carola68 Die Welt dari Pixabay

Toto sudarto lahir di Cirebon tanggal 12 Oktober 1929, ia dikenal sebagai penerjemah yang andal. Sejumlah naskah drama, kumpulan cerpen, dan novel para sastrawan dunia pernah ia terjemahkan. sebuah upaya membanggakan pada masa itu sekaligus warisan berharga untuk perkembangan sastra Indonesia. Pada saat perang kemerdekaan ia tergabung dalam tentara pelajar korps pengawal divisi siliwangi di Tasikmalaya dan ia juga bergabung dengan polisi tentara detasemen 132 batalyon 13 di Cirebon.

Sejak Kecil sudah Gemar Mempelajari Bahasa

Sejak kecil ia sudah gemar mempelajari bahasa, baik bahasa indonesia maupun bahasa asing, ia juga gemar menulis. waktu menjadi mahasiswa di Jakarta ia bekerja juga sebagai redaktur majalah Angkasa dan mulai menulis sajak, menerjemahkan cerita pendek, esai, artikel kebudayaan, sastra, politik dan masih banyak lagi. Pernah menjadi redaktur majalah Menara di Jakarta, lalu pada tahun 1964 turut mendirikan majalah Sunda di Bandung. Terakhir ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Kebudayaan provinsi Jawa Barat.

Baca juga: Perempuan dan HAM: Dalam Kekerasan Gender di Indonesia

toto
Toto Sudarto Bachtiar

Toto sudarto bachtiar hadir sebagai penyair lirik yang kalem ketika berbicara tentang rumah, dalam syairnya ia membuktikan bahwa ada kepemilikan dan keintiman penyair pada rumah yang memberinya ruang estetika untuk menulis puisi (kisah manusia). Penyair yang sadar menganggap rumah adalah dualisme pamrih hidup. Rumah yang ditinggalkan dan rumah yang didiami memiliki energi berbeda yang bisa diolah dan dikisahkan penyair. Kesadaran rumah toto membuka fragmen biografi penyair Indonesia yang memiliki rumah berbeda-beda. Berikut kekaleman toto dalam puisi berjudul Rumah:

Kulihat dari cahya bulan di perkarangan
Serambiku kelam dan berudara sepi
Tidak ada suara, dada pula bayangan
Kecuali sahabatku, semuanya pergi

Terkadang terasa perlunya ke rumah
Atau terasa perlunya tak pulang ke rumah
Bercerita dan berkaca pada hari-hari kupunya
Di rumahku besar sekali nubuah sebuah kisah

Kalau aku tiba terdengar suara berdetak tiba-tiba
Malu-malu hati sahabatku rupanya ikut bicara
Tanpa tekanan yang mendesak atau tinggi hati
Alangkah cintanya dia padaku

Terkadang sebelum masuk rumah
Aku melihat ke atap dan bertanya-tanya
Adakah dia di dalam, masihkah dia cinta
Alangkah besar rasanya hidup, bila hatiku tak gelisah.

Etsa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1976

Puisi: Rumah
Karya: Toto Sudarto Bachtiar

 

Beliau sempat terkena serangan jantung pada tahun 1998, kemudian pulih kembali, lalu pada hari selasa tanggal 9 Oktober 2007 penyair senior seangkatan W.S. Rendra tutup usia, beliau meninggal di rumah salah seorang saudaranya di Cisaga, Ciamis. kemudian disemayamkan di rumah duka Jalan Situ Batu no.6 Kompleks Geologi, Buah batu, Bandung, kemudian beliau dikuburkan di pemakaman umum Gemuruh, Buah Batu, Bandung.

Karya-karya Toto Sudarto Bachtiar

Kumpulan sajaknya yaitu: Suara (1956), memperoleh Hadiah Sastra Nasional tahun 1957. Etsa (1958), Ibu Kota Sendja (1951), Perjantaan (1955), Kaki Langit (1953), Tentang Kemerdekaan (1953), Pekarangan (1953), Pahlawan Tak Dikenal (1953), Keterangan (1955), Pada Sangkala (1955) dan masih banyak sajak lainnya.

Beliau juga mempunyai karya terjemahan, terjemahan hasil karya Toto sudarto bachtiar anta lain, Pelacur ( D Sartre, 1954), Sulaiman yang Agung (Harold Lamb, 1958) terjemahan bersama Sugiarta Sriwibawa, Pertemuan Penghabisan (Hemingway, 1976), Malam Terakhir (Rabindranath Tagore, 1976) dan masih banyak lagi.

Toto merupakan penyair legendaris yang karya-karyanya tak lekang oleh waktu. Meski ia hidup di zaman perjuangan, ia mampu menerbitkan karya-karya yang membawanya menjadi sastrawan yang luarbiasa. Beliau juga pernah membela sang merah putih yang tergabung dalam Tentara Pelajar Korps Pengawal (TPKP) Divisi Siliwangi di Tasikmalaya dan juga pernah bergabung dengan Polisi Tentara Detasemen 132 Batalyon 13 di Cirebon.

Penulis: Dimas Ikbar, Apipah Sukri, Ratih Sanipah.
(Siswa Kelas X Bahasa SMAN 1 Karawang 2016)