TikTok; Representasi Dua Sisi Digitalisasi

157
TikTok: Representasi Dua Sisi Digitalisasi
Photo by Olivier Bergeron on Unsplash

Era Digitalisasi dianggap cukup membantu dan memudahkan aktivitas selama pandemi. Tidak hanya mengakomodasi hal-hal sentral, era digitalisasi juga menuntut kita untuk berkomunikasi hanya melalui virtual.

Selain aplikasi penghubung seperti zoom dan google meet, media sosial berbasis hiburan cukup digandrungi oleh berbagai kalangan, TikTok salah satunya. Salah satu alasan terkuatnya adalah tentu kejenuhan selama pandemi, isolasi di rumah selama beberapa bulan tampaknya mulai memunculkan kejenuhan, dan akhirnya menjadi ladang kreativitas dan bahkan ladang bisnis bagi para content creator.

TikTok merupakan media sosial yang berupa audio visual dimana masyarakat bisa melihat visual (gambar) serta audio (suara). Biasanya aplikasi TikTok digunakan untuk membuat video-video berduarasi pendek dan didalamnya berisi fitur-fitur yang cukup menarik seperti filter, musik, dan lain sebagainya.

Sejak awal pandemi aplikasi TokTok mulai hype dikalangan masyarakat, masyarakat mulai tertarik dengan aplikasi TikTok karena apliaksi TikTok dianggap menarik dan bisa untuk mengurangi rasa jenuh selama pandemi berlangsung.

Dua Sisi Saling Berseberangan

Di dalam aplikasi TikTok kita bisa mengetahui semua informasi yang sedang fenomenal dengan cepat dan mudah, biasanya informasi-informasi tersebut disajikan dalam bentuk yang menarik dan kreatif oleh para content creator, sehingga para penonton tidak merasa bosan. Aplikasi TikTok juga disukai masyarakat karena fitur-fitur yang tersedia sanggat menarik seperti efek, musik dan contoh gerakan dari musik.

Jika beberapa tahun belakangan TikTok sempat dihujat pada awal kehadirannya, kini TikTok membawa pengaruh yang cukup besar bagi kondisi sosial budaya masyarakat. Jika awalnya aplikasi TikTok dikenal dengan unggahan video yang hanya untuk senang-senang atau menghibur saja.

Kini, aplikasi TikTok dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk belajar tau mengedukasi, saat ini bisa kita lihat di FYP sudah banyak sekali para content creator yang membuat video edukasi seperti memperkenalkan budaya suatu daerah, tutorial make up daerah, menari tarian daerah dan masih banyak yang lainnya.

Dengan begitu nantinya para penonton yang masih belum mengetahui kebudayaan suatu daerah setelah melihat video-video edukasi tersebut masyarakat menjadi mengerti.

Baca juga: Bagaimana Media Literasi Bertahan di Era Banjir Informasi ?

Manfaat bagi content creator semakin terasa utuk mengasah daya kreativitas masing-masing guna menghasilkan karya yang berkualitas, seperti menyayi, menari, dan masih banyak hal kreatif dalam dunia digitalisasi.

Selain itu, jika content creator ingin mengunggah video yang menarik maka pengguna harus mengedit video konten tersebut sehingga bisa meningkatkan daya kemampuan mereka dalam mengedit.

Walaupun demikian, penggunaan TikTok juga memberikan dampak negatif bagi content creator, seperti para remaja yang kini suka bergoyang ria didepan kamera. Bergoyang ria disini dilakuakan terlalu vulgar oleh kalangan remaja maupun anak-anak karena menggunakan pakaian terlalu minim untuk digunakan serta gerakan-gerakan yang terlalu vulgar. Hal ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan FYP TikTok.

Dampak negatif lainnya dari TikTok yaitu dari aplikasi TikTok sendiri saat ini terdapat banyak sekali video yang tidak pantas untuk ditayakngkan dan memberi contoh yang kurang baik bagi para penonton karena memuat nilai-nilai rasisme.

Beberapa contoh antara lain aplikasi TikTok menjadi pemicu pembanding adanya konten yang memperlihatkan kehidupan sosial dan ekonomi yang menjadikan TikTok sebagai media untuk eksis dan memperlihatkan perbedaan status di masyarakat, yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

Dapat disimpulkan bahwa memang komunikasi di era digital saat ini masih berpusat pada inovasi dari media sosial. Mengesampingkan dua sisi positif dan negatifnya, TikTok dianggap sebagai salah satu platform yang merepresentasikan komunikasi di era digital ini, ada yang pro dan ada yang kontra.

Dari Berbagai Sumber.

Penulis: M. Hilmy Daffa Fadhilah
(Mahasiswa PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)