Tiga Pilar Utama Demi Terciptanya Tatanan Kehidupan Yang Ideal.

287
Photo by Jehyun Sung on Unsplash

Dalam menuju tatanan kehidupan yang ideal ada tiga hal yang perlu diperhatikan, ada sebuah pepatah mengatakan :

ثلاثة اذا صلحوا صلحت الدنيا واذا فسدوا فسدت الدنيا وساءت احوال الناس وهم الفقيه والرئيس و الغني

“Terdapat tiga golongan yang apabila mereka baik maka dunia pun menjadi baik. Dan apabila mereka rusak maka dunia dan masyarakatnya pun akan rusak pula. Tiga golongan tersebut adalah ahli agama, pemimpin, dan orang kaya. ”

Ketiga golongan ini merupakan satu kesatuan yang tak boleh dipisahkan (Can’t be Separated). Apabila salah satu dari ketiganya tidak baik, maka akan sulit untuk mewujudkan tatanan dunia yang ideal. Terlebih-lebih apabila ketiga-tiganya sangat jauh dari kategori baik maka bukannya mewujudkan kehidupan yang baik, malah akan menimbulkan kerusakan dimana-mana.

Syair Imam Syafi’i

Dengan alsan tersebut, Imam Syafi’i pernah mengatakan dalam salah satu syairnya :

ان الفقيه هو الفقيه بفعله # ليس الفقيه بنطقه ومقاله

Ahli agama yang sesungguhnya adalah ia yang mengimplementasikan norma-norma agama di kehidupan nyata. Ahli agama bukanlah ia yang hanya berbicara dan berpidato tentang nilai-nilai agama.

وكذا الرئيس هو الرئيس بخلقه # ليس الرئيس بقومه و رجاله

Pemimpin sejati adalah ia yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, seperti keadilan dan kebijaksanaan. Seorang pemimpin bukanlah ia yang sekedar mempunyai banyak pengikut dan didukung banyak golongan.

وكذا الغني هو الغني بحاله # ليس الغني بملكه وبماله

Orang kaya sejati adalah mereka yang kaya dengan perilakunya, seperti suka memberi dan suka berderma. Seseorang yang dikatakan kaya bukanlah dinilai dari banyaknya uang dan barang-barang yang ada di rumahnya.

Baca juga: Uang Panai Adat Dari Bugis Makasar

Apabila ahli agama menerapkan nilai-nilai agama di kehidupan sehari-hari, seperti kewajiban mengikuti pemerintah, ber-akhlakul karimah, (sehingga diikuti oleh para pengikutnya ). Kemudian para pemimpin membuat dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan atas nilai-nilai keadilan dan kebijaksanaan, dan orang-orang kaya tidak hanya sekedar pamer kekayaan melainkan suka memberi dan menyantuni orang-orang miskin yang membutuhkan. Maka semboyan “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” tak hanya utopis belaka.

Penilus: Umam Annahar