Tiga Kebaikan dalam Islamic Parenting

840
https://media.islamicity.org/istock

Oleh: KH. Muhammad Riza Azizy M.EIB (Gus Riza)

Pada dasarnya setiap orang tua menginginkan pendidikan yang layak dan terbaik. Ingin masa depan anaknya jauh lebih baik. Sebab salah ikhtiar untuk merubah kualitas hidup  ekonomi keluarga, pendidikan jadi jalur yang harus ditempuh. Maka dari itu, kita berharap semua orang tua maupun anak didik itu sendiri , jangan sampai mengabaikan pendidikan. Sebab menuntut ilmu dimulai dari turun ayunan sampai masuk keliang kubur.

Pendidikan Islam terhadap pertumbuhan anak harus diperhatikan bagi seluruh orang tua: islamic parenting. Setidaknya ada dua hal  penting yang harus dimengerti dan jadi pegangan. Internalisasi dua nilai, yaitu iman kepada Allah Swt dan penanaman budi pekerti (Akhlakul Karimah) harus bersemayam dalam diri anak. Tidak mengherankan Nabi dan para sahabatnya senantiasa mengajarkan keimanan terlebih dulu sebelum mengajarkan pengetahuan lainnya kepada anak.

Hadits riwayat Jundab bin Abdillah menjelaskan “ketika kami bersama nabi dalam masa remaja, kami belajar tentang keimanan terlebih dulu sebelum mempalajari Al-Qur’an. Kemudian kami pelajari Al-Qur’an sehingga iman kami pun bertambah“ (HR. Ibnu Majah).

Setelah belajar dan diajarkan tentang keimanan, selanjutnya anak harus dibekali tentang  budi pekerti. Sebab budi pekerti adalah bagian terpenting sebagai umat muslim. Sebelum orang melihat siapa kita lebih jauh, setidaknya perilaku baik, bermoral bagus harus jadi landasan hidup. Dalam hal ini setidaknya terbagi menjadi tiga hal yang menjadi pokok pengamalannya.

Berbuat baik pada diri sendiri

Dalam hal ini kita harus mengingat bahwa dirinya adalah entitas yang harus selamat dunia akhirat, maka manusia harus bisa menundukan nafsunya. Sebab mujahid nan cerdas adalah mereka yang mampu mengelola nafsunya untuk orientasi perjalanan panjangnya menuju Allah Swt.

Berbuat baik kepada kerabat terdekat dan tetangga

Sabda Nabi Muhammad SAW, “sebaik-baik kalian adalah mereka yang berbuat baik untuk keluarga dan kerabatnya, sedangkan aku adalah yang terbaik untuk keluargaku“ (HR. Ibnu Majah). Nabi juga bersabda “demi diriku yang berada pada kekuasaan-Nya, tidaklah seseorang memenuhi hak-hak dalam bertetangga kecuali Allah akan memberikan rahmat padanya“ (HR. Baihaqi).

Berbuat baik kepada makhluk secara luas

Mulai dari yang terkecil yaitu menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain (kafful adza). Selanjutnya adalah memberikan manfaat kepada orang lain. Nabi bersabda seluruh makhluk adalah ‘keluarga’ Allah dan yang paling dicintai-Nya adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya (HR. Baihaqi). Sedangkan yang tertinggi adalah bersedia membantu bahkan menanggung masalah yg dihadapi oleh sesamanya (ihtimalul adza). Di sinilah posisi siddiqqin yang digambarkan oleh Nabi dalam sebuah hadits:
يا اباهريرة عليك بحسن الخلق, قال أبو هريرة رضي الله عنه وما حسن الخلق يا رسول الله؟ تصل من قطعك وتعفو عمن ظلمك وتعطي من حرمك
Artinya: “Ya Abu Hurairoh tetapilah budi pekerti (khusnul khuluq), apa yang disebut khusnul khuluq ya Rasulullah? Menyambung silaturrahim orang memutuskannya, memaafkan orang yang menyakitimu dan memberikan sesuatu kepada yang menghalangimu“.

Pantas saja Nabi mengisyaratkan bahwa mayoritas penduduk surga adalah mereka yang dapat menjaga imannya dan memiliki keluhuran budi pekerti (Wallahu A’lamu bi as-Showab). Demikian catatan sederhana yang bisa dibagi, semoga bermanfaat serta seluruh anak kita menjadi bermanfaat dunia dan akhirat. Amin

*KH. Muhammad Riza Azizy M.EIB (Gus Riza), Pengasuh Pondok Pesantren Assidiqiyyah 10 Cianjur-Jawa Barat