Tiga Bulan Terombang-ambing di atas Kapal Ikan Asing

228
kapal
Gambar oleh PublicDomainPictures dari Pixabay

Dimulai ketika baru saja lulus SMA, saat teman-teman lain melanjutkan masa studi, sementara pilihan membawa saya untuk mengundi nasib dengan mencari kerja. Di tengah kusutnya fikiran mencari pekerjaan, saya sempatkan sowan meminta restu kepada bapak. Saat sowan, tidak seperti obrolan di hari-hari biasanya, dialog bersama bapak kala itu tidak pernah terbayangkan akan sangat intim dan amat membekas. Sore itu juga saya terhenyak, rupanya bapak tidak memberi izin saya untuk bekerja, tepatnya bekerja di tempat yang cukup layak!

Bapak Mengajarkan Saya Untuk Berjuang

Saya sendiri bingung. Ketika beberapa orang tua berharap anaknya mendapat tempat bekerja yang layak, sementara bapak justru sebaliknya. Padahal beberapa kolega bapak yang saya kenal sempat menawarkan kerja di tempat yang cukup layak untuk ukuran anak lulusan SMA seperti saya.

Baca juga: Covid-19: Memilah Kembali Hal yang Esensial dan yang Tidak

Sampai suatu ketika seorang teman bapak yang baru saja tiba dari pelayaran di kapal Taiwan berkunjung ke rumah lantas bicara mengenai keadaan dan hambatan serta perihal keamanan juga kerasnya berjuang di perantauan. Entah mengapa rupanya bapak tertarik untuk mengirim saya ke sana. Bukan melihat besaran materi yang dihasilkan, namun pada upaya mendidik hidup pantang meyerah, kerja keras, serta agar senantiasa bersyukur.

Setelah perbincangan tersebut, akhirnya saya membulatkan tekad dan memberanikan diri mencari peruntungan di negeri orang. Saya urus berkas-berkas bersama dengan saudara yang berusia lebih tua. Tentunya dengan tekad mencari pengalaman, dan saudara yang bersemangat mencari buih penghasilan. Layarpun berkembang, kami berangkat dari kota kami nan penuh kenangan, Kota Tegal bersama 6 orang lainnya. Jangkar kami angkat bergegas menuju Jakarta.

Setelah penerbangan dari Soetta menuju Kota Taipei, lalu kami melakukan transit, sebelum kemudian kembali melanjutkan penerbangan menuju Bandara Kaohsiung Airport. Sesampainya disana, kami dijemput dan langsung di antar ke penampungan untuk sekedar istirahat beberapa hari.

Lembaran Baru Untuk Pengembaraan

Ada kesan menarik ketika pertama kali mendaratkan kaki disana. Kami dapat bertukar cerita dengan orang Filipina, melepas kerinduan sesama perantau kepulauan Asia Tenggara. Seperti kekasih yang melepas rindu, kerabat Filipina melempar gurau perihal fasihnya mendendangkan lagu Oplosan (lagu yang sempat viral saat Caesar masih sering manggung), bahkan dengan Bahasa Jawa yang hampir fasih.

Keesokan harinya, hari pertama lembaran pengembaraan dibuka. Semua awak kabin bersiap menaiki kapal yang bakal jadi rumah tempat kami berteduh, bukan lagi dari hujan, tapi hantaman gelombang dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun kedepan.

Istana berlayar kami ternyata hanya berukuran 5×40 meter, jauh dari ekspektasi. Kami hanya disediakan ruang bermanja untuk sekedar memejamkan mata selebar 80×200 cm, disudutnya terdapat 2 laci yang dapat kami gunakan untuk meyampaikan pakaian, dan tinggi kamar tersebut sekitar 1 meter.

Tempat pembaringan yang terletak di bawah lambung tersebut hanya dapat dimasuki dengan berjongkok, hanya ditutup selembar gorden. Tidur kami pun harus berpacu dengan kerasnya angin dan dentuman ombak, berebut nyenyak dengan suara mesin kapal yang mengaung. Persediaan logistik sudah disiapkan hampir dua minggu secara bertahap. Kami penuhi sembari bercengkrama dengan orang-orang di pasar, berwisata religi rumah ibadah dan sesekali sambil menyejukkan penat ketika berjumpa pantai serta keindahan kota.

Pada akhirnya kapal berangkat menuju ke perairan Jepang, mengangkut 8 orang Indonesia, 1 kapten berkewarganegaraan Taiwan dan 1 orang enginer berkebangsan Taiwan. Semakin jauh pulau terpandang, makin hilang sinyal di genggaman tangan. Baru tiga hari mengambang, saya mengalami mabuk laut, muntah hingga tidak bisa masuk makanan kecuali air putih, jadi selama hampir 4 hari hanya makan 1 helai roti. Makin membosankan karena pagi hingga sore hari pemandangan yang tersaji yaitu laut lepas.

Hari-hari Selama Pelayaran

Setelah 6 hari berlayar, lalu tibalah sampai ke titik dimana kita harus sebar pancing. Dalam proses penyebaran pancing ini membutuhkan waktu kerja dari pukul 01.00 s/d 20.30 waktu setempat, kail pancing yang digunakan lumayan besar, umpannya memakai ikan tongkol yang dipotong jadi dua. Setelah selesai menebar jala, barulah kita beristirahat.

Memasuki pukul 03.00 bel berbunyi dan kita langsung cepat-cepat naik, tidak ada waktu untuk sekedar pergi ke toilet, semuanya harus disiplin seperti tentara. Selesai makan langsung kembali bekerja.

Tiap pagi adalah agenda panen terhadap pancing yang kami tebar. Berbagai macam jenis ikan pun kami dapatkan; ikan marlin, tuna, dan hiu. Proses penarikan pancing kami lakukan secara manual menggunakan tangan, dibantu dengan gancu setrum saat sudah mendekati kapal agar hewan buas seperti hiu tidak menyerang. Kerja penarikan pancing kami lakukan selama 7 jam dengan kecepatan kapal mencapai 25 km/jam. Bila di total, kerja kami dari pukul 03.00-20.00 yaitu 17 sampai 18 jam sehari.

Selesai bekerja, kami mulai membersihkan badan kapal, lalu lanjut menyantap masakan, mandi berbasahkan air laut yang di sedot melalui kapal dengan selang sebesar lengan tangan. Beruntungnya, kami memiliki koki yang dapat diandalkan. Ditambah lagi, karena juru masak kapal asli dari Indonesia, racikannya pun cocok di lidah kami yang rindu akan masakan Mama di perantauan. Ia bangun lebih awal dan mempersiapkan segalanya untuk kami.

Kerja kami berasa seperti kerja Romusa, tak mengenal Ramadhan dan Hari Raya. Terkadang tangis pecah saat mendengar gema takbir dari pemancar radio, ingat kampung halaman serta keluarga. Kerja keras hampir 17-18 jam setiap hari, kerja di lautan lepas penuh resiko, panas dan hujan. Bergelut dengan dinginnya suhu 15°C setiap hari, kadang menyentuh 5°C. Tidurpun hanya 5-6 jam sehari dengan ruang tidur yang beraromakan solar, dengan ukuran kamar yang hanya muat untuk meluruskan badan, kasur tipis yang lengket bekas mandi mengugunakan air garam, berbentur dengan kerasnya ombak, dan terbisingkan bunyi disel yang hanya berjarak 6 meter.

Pemandangan pagi hanya menampilkan laut lepas, malam tak ubahnya seperti pagi, hanya bintang-bintang yang berbeda penampilannya seperti saat kita memandangnya dari darat. Di laut bintang-bintang terlihat seperti galaksi.

Selain itu, hampir disetiap pagi kami disuguhkan indahnya sketsa pelangi yang bertumpuk. Orkesta ikan paus tidak kalah menarik, mereka cukup besar, dan klimaks terbaiknya saat menyemburkan air dari atas kepalanya. Sekitar 3 bulanan kami berpijak di laut, melewati Ramadhan dan Hari Raya sebelum akhirnya kembali ke daratan Taiwan.

Melihat daratan adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya buat kami. Menapak daratan membuat kami seperti halnya bayi yang merangkak berjalan karena kami terbiasa menapak kerasnya ombak yang membuat tubuh sempoyongan. Setelah sampai daratan, saya putuskan menelpon orang tua melepas kerinduan, menanyakan kabar.

Keputusan untuk Pulang ke Kampung Halaman

Setelah cukup mendapat pengalaman, saya memutuskan untuk pulang. Saya hanya diberi upah 1 juta oleh kapten kapal karena habis digunakan untuk membeli tiket pesawat. Banyak sekali pemgalaman hidup yang saya rasakan di Taiwan. Pelabuhan Kaohsiung hampir 70% nya orang Indonesia, jadi bahasa Jawa mejadi bahasa sehari-hari ABK disana. Pergaulan disana penuh dengan gemerlap dunia malam dan minuman. Oleh sebab itu, saya putuskan pulang salah satunya agar tidak terkontaminasi.

Setelah diantar menuju Bandara Kaohsiung, kami dilepas begitu saja. Beruntung saja masih ada 2 orang TKI yang balik ke Surabaya dan sudah berpengalaman pulang pergi. Pesawat kemudian lepas landas hingga sampailah kami di bandara Hongkong untuk transit sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Kita berpisah karena beda pesawat. Mereka kemudian memberikan informasi pada kami untuk menaiki kereta listrik yang berada di bawah untuk menuju pintu pesawat yang kami naiki.

Kami hampir tersesat, hanya bermodalkan Bahasa Inggris pas-pasaan. Oleh pertugas keamanan disana, akhirnya kami ditunjukkan untuk melihat informasi keberangkatan melalui layar proyektor untuk memahami tujuan dan pesawat yang akan kami gunakan kembali ke Tanah Air. Akhirnya sekitar pukul 14.30 waktu setempat, kami sampai ke pintu nomor 300, sedangkan pesawat yang kami naiki terbang pukul 18.30.  Dalam keadaan lapar, kami hanya makan roti sisa pagi.

Lalu pesawat berhasil landing di Bandara Soetta, Jakarta pada pukul 00.15 WIB tengah malam. Kami tak membawa rupiah, juga tak ada kartu seluler yang kami pasangkan. Terpakasa kami memohon serta meminjam telepon orang lain untuk menghubungi sanak yang kerja di Cengkareng.

Kami tiba di Jakarta dengan kulit yang lebih hitam dari yang sebelumnya sanak kami ketahui, badan lebih gemuk dan rambut agak gondrong. Tampilan kami ternyata membuat sanak kami lupa. Pada akhirnya kami bertemu juga kemudian singgah di gubuk miliknya sebelum kembali menuju kampung halaman.

Tulisan ini Pernah dimuat di Buntu Literasi
Penulis: Ibnu Rismansyah