Terentang Jarak Untuk Saling Mendoakan

817

oleh: Helmi Mustofa
(Sahabat Mading)

Santri bukanlah semata “identitas” yang kelihatan oleh kedua mata lahiriah kita: anak-anak remaja putra bersarung-berpeci atau yang putri berjilbab, membawa kitab atau buku-buku, dan mengaji di hadapan kiai.

Menimba ilmu pengetahuan keagamaan di pondok pesantren memang tugas utama mereka. Tetapi perhatikanlah, lebih dari itu, santri adalah anak-anak yang mengiringi proses belajar mereka di pondok dengan aktivitas yang boleh dikata tak tampak mata yaitu riyadhah rohaniah atau yang biasa disebut tirakat.

Kosakata bahasa Indonesia yang mendekati arti tirakat adalah ‘prihatin’. Dalam keyakinan hidup pada umumnya orang, terdapat pemahaman bahwa jika seseorang ingin meraih sukses atau berhasil mencapai cita-citanya, hendaklah dia berprihatin dahulu. Mirip peribahasa yang mengatakan bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Nah itulah sebabnya, dahulu, jika seorang anak diberangkatkan orangtuanya ke pesantren, orang-orang tua di sekitarnya memahami bahwa si anak itu tidak sedang akan belajar ngaji atau sekolah di pondok saja, tetapi si anak ini dikirim orangtuanya supaya dia menjalani masa-masa tirakat dalam hidupnya, dan pesantren diyakini sebagai salah satu lembaga tempat yang tepat untuk tujuan itu.

Selama menjadi santri di pondok, tirakat yang mereka tempuh bisa berbentuk berbagai pembatasan yang biasa dituangkan dalam peraturan atau tata tertib pondok. Sebagian pembatasan itu adalah hal-hal yang apabila mereka tidak menyandang diri sebagai santri, mereka bisa melakukannya secara leluasa di rumah atau di manapun. Misalnya, tidak boleh pergi kemana-mana setiap saat. Tidak bisa menggunakan gadget saban hari.

Tentu saja pembatasan ini dimaksudkan sebagai bagian dari proses yang mendukung pengasahan dan pendidikan mereka. Para santri dilatih untuk menaati peraturan yang sekilas akan terasa mengekang kebebasan atau keleluasaan. Mereka harus sanggup mengendalikan berbagai keinhinan dan menyesuaikan diri dengan pola kehidupan di pesantren.

Maka, di masa pandemi Corona ini, ketika dunia kesehatan menganjurkan setiap orang untuk melakukan social distancing, stay at home, menghindari kerumunan, serta hal-hal lain yang tidak sebaiknya dikerjakan, ini tak ubahnya kondisi yang memaksa kita untuk tirakat. Apa-apa yang biasanya kita bisa kerjakan dengan enak, tiba-tiba tak boleh kita lakukan.

Saya pun membayangkan berkat pengalaman diasah daya adaptasi mereka di pesantren, para santri memiliki kemampuan penyesuaian diri yang cukup tinggi dalam menghadapi new tirakat ini. Malahan, jika perlu mereka biaa terdepan dalam memberikan contoh. Tak ada kesulitan berarti buat mereka untuk menyesuaikan diri. Ya kan, adik-adik?

Demikian halnya dengan kebutuhan untuk belajar di rumah, para santri tidak kekurangan semangat untuk tetap belajar dengan baik di masa-masa seperti ini. Mereka bisa mengaji kepada para kiai yang banyak menayangkan ngaji daring, baik lewat facebook atau media sosial lain. Mereka bisa mendaras kitab-kitab yang perlu didalami lagi di rumah. Mereka bisa mandiri menyusun silabus belajar mereka di rumah, di luar yang mungkin sudah dipesankan oleh pondok.

Selain berupa pembatasan-pembatasan keseharian di dalam pondok seperti sudah disebut di atas, tirakat para santri juga berbentuk kebiasaan menjalankan amaliyah seperti puasa sunnah Senin-Kamis, memperbanyak dzikir, dan membaca al-Qur’an. Tirakat jenis ini pun dimaksudkan untuk mengiringi proses belajar mereka. Harapannya pastilah agar Allah Swt memberikan kemudahan bagi mereka dalam memahami pelajaran-pelajaran yang sedang dikaji. Biar gampang bleng masuknya ilmu ke dalam kepala dan dada. Mereka sadar bahwa sesungguhnya ilmu akan tertuang ke dalam diri mereka manakala Allah mengizinkan hal itu terjadi.

Tentang tirakat ini, selain yang sudah dicatat di atas, satu hal lagi yang perlu kita highlight. Bila diselami lebih dalam, tirakat para santri ini sebenarnya adalah proses pengasahan diri secara spiritual. Lewat proses ini, para santri  mengasah diri agar dapat berkembang mencapai kematangan emosional dan spiritual.

Lebih jauh lagi, proses pengembangan diri para santri ini ternyata tidak semata ditopang oleh penyerapan ilmu secara kognitif melalui ngaji kitab atau belajar di kelas, serta amalan-amalan dan riyadhoh sehari-hari mereka, namun didukung oleh hubungan antara santri dan kiai itu sendiri.

Disadari bahwa kiai bukan hanya tempat para santri belajar ilmu-ilmu keagamaan yang diperoleh melalui pemahaman atas literatur atau kitab-kitab yang dibacakan dan diterangkan olehnya, tetapi kiai adalah juga uswah atau role model bagi para santri. Akhlak dan karakter terpuji yang melekat dalam keseharian kiai dilihat secara langsung oleh santri. Dalam hal inilah, kiai memegang peran sebagai inspirator karakter bagi para santrinya.

Lewat menyaksikan akhlak dan karakter yang dipancarkan sang kiai, santri menyerap dan kemudian melakukan internalisasi diri dengan sifat-sifat positif yang mereka peroleh dari kiai. Ingatlah penggalan lagu Tombo Ati, “Wong kang sholeh kumpulono.” Dekat-dekatlah dengam kiai supaya kita tergerak melakukan hal-hal baik dan terpuji.

Di sini kita mencatat bahwa anak disantrikan ke pondok oleh orangtuanya nggak hanya supaya pinter, tapi juga agar ketularan ngalim (dalam arti berakhlak mulia) dari kiai. Jadi, kiai kiai dan santri menyediakan satu fungsi yang krusial, yaitu fungsi transformasi psikologis-spiritual. Fungsi ini mengisi satu celah: perkembangan dan perubahan diri tak selalu bisa digerakkan lewat kata-kata, tapi dibutuhkan contoh di situ. Kebaikan, akhlak, budi pekerti, dan sifat-sifat luhur lebih cepat terbentuk melalui keteladanan.

Rentang waktu panjang pada berlangsungnya proses tirakat dan keteladanan dari kiai yang dialami santri selama mondok di pesantren ini harapannya mampu secara intensif mengasah pengembangan diri para santri untuk kelak pada waktunya membuahkan pribadi yang matang secara spiritual maupun intelektual. Dengan kematangan itulah, mereka akan siap merespons dan menyuguhkan kontribusi kreatif dalam menjawab tantangan-tantangan zaman di medan peradaban umat manusia.

Di masa dunia tengah dilanda wabah Corona seperti saat ini, barangkali di antara para santri turut andil dalam melakukan apapun saja yang terbaik buat masyarakat: membantu orang-orang yang membutuhkan disebabkan terdampak oleh situasi pandemi ini. Atau kegiatan-kegiatan sosial dan kesehatan yang terkait. Sesungguhnya dengan suasana ini para santri mendapatkan kesempatan untuk berkhidmat di tengah-tengah kebutuhan masyarakat.

Kemudian, sebentar lagi akan tiba bulan puasa Ramadhan. Mereka pasti telah menyiapkan diri. Bulan Ramadhan kali ini akan dijalani secara berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka mungkin tidak bisa ngaji atau tabarukan di dalam pondok dengan sederetan kitab yang dibaca para kiai, tidak bisa shalat tarawih berjamaah, dan tidak bisa menikmati aktivitas kebersamaan lain di pondok.

Sebaliknya, mereka akan melalui hari-hari puasa Ramadhan itu di rumah masing-masing. Mereka terpisah dari pondok yang mereka cintai dan terpisah pula dari kiai-kiai yang sebenarnya siap mengampu secara langsung ngaji di bulan Ramadhan sebagaimana biasanya. Namun, berbekal semangat dan tradisi tirakat, para santri akan selalu siap sedia menyesuaikan diri. Sementara itu, hubungannya dengan kiai, tetap berlangsung. Memang tak lagi bisa tatap muka langsung untuk sementara waktu, tetapi mereka bisa saling mendoakan.

Para santri mendoakan kiai, dan kiai sebagaimana setiap hari juga tak putus-putus mendoakan para santrinya dalam setiap doa-doa yang dipanjatkannya. Malahan khusus untuk memohon perlindungan dari Allah di masa wabah saat ini, kiai telah memberikan kepada santrinya panduan doa yang perlu mereka baca dan dawam-kan. Dan, di antara para santri pun mereka saling mendoakan satu sama lain.

Di dalam kesunyian doa kiai dan santri, terdengar jeritan panjang permohonan kepada Allah Swt agar wabah ini segera berlalu. Karena, para santri pun rindu kembali ke pondok untuk ngaji, tirakat, dan menjalani hari-hari susah senang bersenasib sepenanggungan di antara mereka sebagai santri.