Tentang Proses Menjadi Utuh Setelah Terjatuh

356
proses
Photo by Emma Simpson on Unsplash

Saya percaya seiring luka yang kita dapatkan, ada kekuatan yang tuhan titipkan. Premis ini melahirkan sikap men-generalisasi bahwa semua orang pasti bisa bertahan. Konklusi tersebut tidak saya nafikan. Namun masalahnya, terlebih dahulu kita perlu mencari dan menggali keberadaan kekuatan ini.

“Karena Tuhan menitipkannya dalam bentuk mentah, dan kita yang harus mengolah. Dalam prosesnya, tidak cukup hanya dengan menyadari clue, tapi kita harus memiliki mau dan laku.“

Dua variable mahal yang tidak mudah dimenangkan. Khususnya bila kita terus mencari excuse dan merasa menjadi korban. Dengan demikian, ada jeda kritis sebelum mau dan laku mengantarkan kita pada akhir yang manis. Jeda di mana kita belum mulai menggali, atau sudah menggali tapi belum menemukan apa yang kita cari. Ini adalah jeda yang menentukan apakah benda yang jatuh akan melambung kembali, atau menyentuh lantai, pecah dan menjadi tidak berarti.

Baca juga: Tentang 3 Wanita Hebat dalam Keluarga

Pandemi menempatkan kita di ujung bukit dengan jurang dalam yang mengelilingi. Kita harus berhati-hati untuk dapat menjaga diri. Memastikan pijakan kita kuat dan mantap. Namun Hasil SWAB positif seperti angin kuat yang menggoyahkan pijakan saya. Membuat saya terhuyung dan akhirnya terjatuh. Gejala yang dirasakan membuat saya lemah untuk mencari pegangan. Sementara pikiran negatif, kecemasan, ketidakpastian, dan kesepian hadir sebagai beban yang membuat kejatuhan saya menjadi lebih cepat. Bagaimana agar saya tidak terseret lebih dalam? Saya perlu memperlambat kecepatannya, dan cara terbaik adalah dengan menghilangkan beban yang semakin mendorong saya ke bawah. Saya menangis, saya bercerita, saya melakukan relaksasi, dan saya berdialog dengan diri sendiri. Semuanya adalah proses melepaskan yang saya butuhkan. Apakah mudah? Awalnya tidak. Karena sebelum dapat melepaskan kita harus benar-benar memahami dan menerima apa yang perlu direlakan.

Awalnya tidak mudah menerima begitu banyak bantuan dari orang terdekat. Ada rasa tidak nyaman dan rasa bersalah yang mendalam setiap kali mama, adik, atau kakak saya menyiapkan makan dan buah- buahan. Ada rasa segan Ketika menyadari mas romzi harus mengeluarkan uang lebih banyak guna membeli obat, peralatan medis dan asupan lain yang dibutuhkan. Rasa bersalah dan tidak berdaya ini menjadi beban yang menyesakkan.

Menarik saya lebih cepat untuk jatuh ke dalam. Hingga akhirnya saya memahami dan mengakui bahwa saya memang sedang tidak berdaya. Saya sedang tidak baik-baik saja. Saya tidak menjadi hancur karena menerima bantuan mereka. Penolakan ini hanya upaya ego saya mempertahankan dirinya. Hanya kesombongan yang menjadi ciri khas manusia. Di titik ini, tali yang mengikat beban tersebut ke tubuh saya akhirnya putus. Terlepas bersama beban yang membersamainya. Tubuh saya menjadi lebih ringan. Kejatuhan saya terasa lebih pelan. Dan akhirnya saya menemukan focus untuk mencari pegangan. Pegangan itu dapat berupa ranting yang menancap di badan bukit, atau pohon kokoh yang mengakar sampai ke inti bukit. Saat saya berhasil meraih pegangan tersebut, saya tau bahwa saya telah melewati jeda kritis. Saya telah berhasil menggali dan menemukan kekuatan yang tuhan titip.

Perjuangan belum berakhir. Saya masih perlu memegang erat tumpuan dan merangkak Kembali ke permukaan. Namun di titik ini, saya sudah menemukan kekuatan yang Tuhan janjikan. Selanjutnya, saya percaya kekuatan itu akan terus tumbuh hingga saya Kembali utuh. Asal saya tetap melibatkan dua tokoh utama, yaitu mau dan laku. Saya mau merangkak dan saya siap bila harus istirahat. Tidak ada yang diburu karena ini bukan kompetisi antara saya dan kamu. Saya harus merawat mau menjadi laku. Karena merangkak ke atas adalah proses fisik yang melibatkan perilaku. Bukan hanya imajinasi semu.

“Selama proses merangkak saya mendapatkan sebuah temuan. Bahwa jangan pernah tidak melibatkan Tuhan. Karena meskipun tubuh saya yang berjuang mengumpulkan energi untuk merangkak dan berpegangan, Tuhan yang memberikan tumpuan. Tanpa kehadiran-Nya maka tidak ada keselamatan.“

Energi dan tumpuan yang saya miliki di sepanjang jalan hadir dalam wujud orang tua, suami, kakak adik dan sahabat terdekat. Bukan hanya terkait sikap dan perlakukan mereka Ketika saya sakit. Tapi terlebih tentang memori dan nilai yang saya dapatkan sepanjang hidup dari interaksi yang terbangun secara terus menerus. Semua mengental dan membentuk sesuatu yang indah yang saya sebut sebagai aspirasi hidup. Saya melibatkan “mau” dengan berdoa, berniat baik, dan berpikir positif. Dan saya melibatkan “laku” dengan berjemur, berolahraga, beristirahat, bersahabat dengan obat, vitamin dan makanan sehat.

Namun dalam setiap upaya memanjat, bukannya tidak mungkin batu-batu kecil membuat kita tergelincir dan kembali tersesat. terpeleset sedikit membuat semuanya tampak lebih rumit. Dalam kasus saya, saya sedang menikmati isolasi mandiri dengan gejala yang mulai berkurang dan melakukan berbagai aktivitas pemacu rasa senang.

Namun dalam setiap upaya memanjat, bukannya tidak mungkin batu-batu kecil membuat kita tergelincir dan kembali tersesat. terpeleset sedikit membuat semuanya tampak lebih rumit. Dalam kasus saya, saya sedang menikmati isolasi mandiri dengan gejala yang mulai berkurang dan melakukan berbagai aktivitas pemacu rasa senang. Di titik ini, saya mulai abai terhadap dinamika rasa. Superego saya mengambil alih kendali dan terus menerus menasehati saya untuk tidak mengeluh karena kondisi saya jauh lebih baik daripada kebanyakan pasien lainnya. Jangan terlihat lemah, ujarnya. Hingga di suatu malam tiba-tiba saya merasa jantung berdetak lebih kencang. Oksigen terasa sulit diraih dan ini membuat saya tegang. Di titik ini saya Kembali resah. Mencoba mencari-cari sumber masalah. Apakah corona atau pikiran negatif yang membuat ulah. Padahal hari ini saya merasa cukup produktif mengerjakan banyak hal. Dari menulis, mencuci, olahraga, yoga dan lain sebagainya. Kenapa malamnya sensasi tidak menyenangkan datang secara tiba-tiba? Akhirnya saya checking reality menggunakan oximeter. Detak jantung dan oksigen dalam tubuh saya normal. Semua tampak baik-baik saja. Perlahan sensasi tidak menyenangkan yang saya rasakan mulai berkurang. Saya mulai evaluasi apakah selama ini ada emosi atau pikiran negatif yang saya abaikan.

Keesokan malamnya, tubuh saya terasa siaga. Mengkhawatirkan terulangnya kejadian yang sama. Berupaya melakukan berbagai antisipasi namun akhirnya tetap terjadi juga. Kali ini saya merasa panik karena dada yang terasa berat seperti ditekan. Seluruh tubuh terasa kesemutan. Saya kenapa? Saya mencoba rileks.

Berulang kali mengecek dengan oximeter dan angka di layar meyakinkan saya bahwa semua baik-baik saja. Tapi kali ini sensasi yang saya rasakan tidak hilang. Menetap melekat dengan erat seakan tak mau dibuang. Saya mencoba berdialog dengan diri sendiri. Rin, apa yang terjadi? Saya hadirkan alternatif fikiran positif untuk menjadi lawan bagi distorsi kognitif. Saya berdzikir. Berulang kali menyebut “Ya lathif..” “wahai yang Maha Lembut.. tolong saya”. Saya perlu menangis. Sudah lama saya tidak menangis.

Saya paksa agar air mata mengalir dan melepas sensasinya. Ketidak berdayaan membuat saya mengontak mas romzi untuk membuka suara. Menceritakan semuanya. Segala kekhawatiran kecil yang tidak saya izinkan tampil di kamar isolasi yang mungil. “sebelumnya kan kamu sudah menerima dan melepaskan semua.. seharusnya tidak perlu ada ruang lagi untuk duka” mungkin itu ujar ego saya kepada konten bawah sadar yang mendesak keluar.

Mas Romzi melakukan konsultasi pada adik ipar saya yang juga seorang dokter. Memastikan apakah ini tentang corona. Sudah diduga, bukan corona tapi Stress dan psikosomatis pelakunya. Saya tau ilmunya. Saya mengerti penanganannya. Namun mengalaminya langsung, tidak pernah ada dalam silabus manapun. Saya meminta maaf pada diri sendiri yang terlalu asik mencari kesenangan di tengah isolasi. Merasa sudah selesai dengan emosi negatif dan preokupasi pada upaya memanjat ke permukaan. Lupa bahwa dalam prosesnya mungkin saja kaki atau tangan saya tergores kemudian menjelma sebagai beban yang kembali memberatkan. Mungkin saja di tengah hari-hari yang terlewati dengan baik, saya menyimpan Lelah, marah dan gelisah. Mungkin juga saya kurang memahami ketakutan diri yang lahir dari rasa bersalah atas segala cela di masa silam, dan syukur yang kurang atau malah dipaksakan. Akhirnya dalam keterpurukan dan ketidak pastian masa isolasi mandiri, saya berpapasan dengan semua yang selama ini bersembunyi.

Kebahagiaan dan kenyamanan mental adalah tentang menerima dan mengekspresikan suka dan luka dengan sebagaimana adanya. Bukan mengabaikan salah satunya dan hanya mengejar bahagia. Saya teringat salah satu pernyataan terbaik Carl Jung “I’d rather be whole than good”. Lebih baik menjadi penuh daripada menjadi baik. Ya.. beberapa hari ini saya memaksa diri untuk menjadi baik.

Menolak lelah, marah dan resah yang hendak mengusik. Sampai detik saya merasakan sensasi yang pelik, saya malah berisik, terburu-buru mengusir panik.

“Saya lebih baik menjadi penuh” Kembali terngiang di kepala saya. Bila formulasi dari diri yang penuh adalah termasuk semua keluh, kenapa saya malah menjadikannya musuh?. Tuhan saja meminta kita berkeluh kesah pada- Nya. Tuhan memberi ruang untuk ketidaksempurnaan kita. Lalu kenapa saya yang hanya hamba enggan mentoleransi diri yang tidak berdaya?. Perlahan namun pasti, segala sensasi yang menggerogoti diri pergi dan tidak terasa lagi.

Berhenti mencoba memperbaiki dirimu rin. Kepanikan ini adalah bentuk “dirimu” yang memberontak pada ego yang tidak bijak. Berhenti menolak dan mulailah menyimak.

Kembali utuh setelah terjatuh tidak terjadi sekejap mata. Bukan hanya tentang upaya dan daya. Ini adalah tentang pemahaman dan kesiapan, bahwa dalam prosesnya mungkin saja kita mengalami kemunduran. Tapi bukan berarti semuanya sia-sia. Kenyataannya, kemunduran itu akan membantu mendefinisikan keutuhan yang akan tercipta pada waktunya. Apresiasi setiap adegannya. Jangan memaksa bagaimana ending yang seharusnya. Karena pemahaman kita belum tentu tuntas dan skenario kita belum tentu pantas, sementara kuasa- Nya tidak terbatas.

Saya tau bahwa tidak ada keutuhan yang sama setelah terjatuh. Akan ada bekas yang membuat perbedaannya menjadi jelas. Namun saya percaya bahwa kejatuhan akan membawa kita pada utuh yang penuh. Tidak sama namun lebih bermakna. Seperti luka akibat gesekan ketika kita berusaha merangkak ke atas permukaan. Bekasnya hanya seperti totem yang mengingatkan kita, bahwa kita pernah ada di titik serendah itu dan memiliki kekuatan sebesar itu untuk bangkit Kembali. Bekasnya hanya menjadi piala yang membuat kita bangga dan berterima kasih atas pencapaian diri. Bekasnya akan menjadi alarm yang mengingatkan kita untuk bersikap bijak saat berpapasan dengan orang yang sedang terisak.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.