Tentang Klitik: Kata yang Tak Boleh Dipisahkan

849

Oleh: Khoirul Anam
(Pegiat Literasi dan Pengampu Kelas Bahasa Indonesia “Ber-Zoom-Pa Bahasa Indonesia” di Zoom setiap Senin dan Kamis, 13.00-14.30 WIB)

Anda tentu pernah mendengar ajaran soal larangan untuk memisahkan apa-apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan. Umumnya, ajaran ini dipahami sebatas larangan untuk memisahkan hubungan sepasang kekasih yang sudah ditetapkan Tuhan untuk bersama, tak boleh diganggu; biarkan mereka berdua bahagia. Kalau ternyata sedang bermasalah, bantu selesaikan, bukan malah diceraikan. Begitu kira-kira isinya.

Namun, sudahkah Anda sadar bahwa perintah Tuhan di atas ternyata juga berlaku untuk urusan tata bahasa. Lah, beneran lo ini. Nggak percaya? baca saja dumelan saya ini sampai habis.

Jadi gini, dalam tata bahasa kita, ada bagian kata yang disebut Klitik. Bagian ini adalah jenis penggalan kata yang harus ditulis serangkai dengan kata yang diikuti atau mengikuti. Singkatnya, klitik tak boleh ditulis terpisah, apapun yang terjadi.

Sama seperti jumlah alis, klitik ada dua; proklitik dan enklitik.

Proklitik adalah penggalan kata yang berada di awal kata, isinya antara lain; pasca-, maha-, anti-, serba-, kau-, ku-, dll. Sementara enklitik ada di bagian belakang, isinya antara lain; -isme, -nya, -mu, -ku, -lah, -kah, -tah, dll.

Karena klitik tak boleh dipisahkan dengan kata yang sudah dipepet dengan sedemikian rupa itu, maka penulisan “anti tembakau” misalnya, salah. Yang benar, “antitembakau”. Perhatikan contoh-contoh berikut. Perhatikan beneran, ya.

  • Pasca melahirkan (salah), Pascamelahirkan (benar)
  • Tuhan ternyata maha asyik (salah), Mahaasyik (benar)
  • Di sini serba ada (salah), Serbaada (benar)
  • Kau buka hatiku (salah), Kaubuka (benar)
  • Ku puja kau setinggi langit (gombal), Kupuja (benar)
  • Jihadis Tata Bahasa bukan Anam-isme (salah), Anamisme (benar)
  • Rumah nya (salah), Rumahnya (benar)
  • Engkau lah yang aku rindu (salah), Engkaulah (benar)
  • Siapa kah yang engkau tunggu? (salah), Siapakah (benar)
Sebagai catatan tambahan, kata “kau” dan “ku” masuk dalam kategori proklitik hanya ketika keduanya diikuti oleh kata kerja pasif. Karenanya, ketimbang ada jarak, ya udah sih disatuin aja. Siapa tahu jodoh.

Nah, kata kerja pasif itu tak selalu berbentuk “di+kan”; dilupakan, ditinggalkan, dimantankan, disesalkan, lalu diajak balikan, dih enak aja!.

Kata kerja pasif adalah kata yang menunjukkan subjek pelaku. Contoh:

  • Kupukul (dipukul oleh aku)
  • Kaukecup (dikecup oleh engkau).

Proklitik di atas tak bisa diikuti oleh kata kerja aktif; kumemukul, kumengecup, dll. Karenanya, jika keduanya diikuti oleh kata kerja aktif, “ku” dan “kau” harus dikembalikan ke bentuk asalnya; aku dan engkau: aku memukul, engkau mengecup.

Meskipun keduanya sama-sama pronomina atau kata ganti, “ku” dan “kau” nyatanya tak bernasib sama. Pronomina “ku” bisa digunakan sebagai proklitik maupun enklitik, sementara “kau” hanya bisa digunakan sebagai proklitik. Contoh lagi, nih.

  • Kujambak rambutmu (proklitik), kau menjambak rambutku (enklitik)
  • Kaujambak rambutku (proklitik), aku jambak rambutmu (bukan rambutkau)
Oke, ya.

Eh, satu lagi. Tentang “maha”. Ada dua aturan untuk kata yang satu ini. Pertama, kata “maha” harus ditulis serangkai jika ia diikuti oleh kata dalam bentuk asli, tak berimbuhan. Contoh: mahatahu, mahamurah, mahasiswa, dll. Karenanya, jika diikuti dengan kata yang sudah berimbuhan, penulisannya harus dipisah; maha mengetahui, maha pemurah, dll.

Meski begitu, ada satu pengecualian untuk aturan ini, yakni penulisan “Maha Esa” yang harus tetap dipisah, bukan “mahaesa” sebagaimana aturan yang berlaku. Kenapa bisa begitu? Macam-macam sih alasannya, yang paling sering digunakan adalah karena kata “Maha Esa” sudah kadung tertulis begitu di teks Pancasila.

Lah, kalau salah kan tinggal diubah, apa susahnya? Ya nggak tahu, boro-boro ngubah teks di Pancasila, mensahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual aja ogah, dih!

Aturan yang kedua, “maha” harus ditulis dengan huruf depan kapital jika merujuk pada Tuhan atau sesuatu yang setara dengan-Nya, contoh: Tuhan Mahaadil terhadap hamba-Nya.

Gitu, ya!

Semoga bermanfaat.