Tentang Keteraturan dan Jiwa yang Tersamarkan

127
keteraturan
Photo by vision webagency on Unsplash

Tes swab telah menolak hipotesa nul yang biasanya selalu menegasi praduga lainnya. Secara medis diagnosa sudah dapat ditegakkan. Saya posif corona dan itu adalah kenyataan. Namun baiknya tuhan yang sempat-sempatnya menitipkan salam sayang melalui hasil tes lainnya. Hasil tes mas romzi, suami saya. Alhamdulillah hasil tesnya negatif. Itu adalah salah satu kepastian yang melegakan. Saya gandakan pula syukurnya karena kondisi saya dianggap mampu melakukan isolasi mandiri dengan tetap mematuhi aturan perawatan.

Di detik itu saya berjanji pada tubuh dan badan untuk menyayanginya dengan benar. Tidak lagi mengabaikan kebutuhannya atas nama netflix, junk food ataupun produk pop culture lainnya. Saya berjanji tidak lagi menyia-nyiakan kehangatan sinar matahari pagi yang menguatkan. janji tersebut, saya mulai merancang skenario di kepala saya tentang keteraturan yang perlu saya upayakan. Tentang jam biologis yang harus di setting ulang. Ini adalah tentang tidur sebelum pukul 11 malam, bangun tepat waktu, ibadah lebih awal dan lebih panjang, sarapan sehat, berjemur pagi, olahraga ringan, membersihkan badan dan kamar tempat saya melakukan isolasi, sedikit membahagiakan diri, makan dan minum obat sesuai aturan dan kembali istirahat.

Baca juga: Tentang Hidup di Detik Jantung Berdegup: A Reflective Journal.

Syukurnya, saya mampu menyesuaikan diri sejak hari pertama isolasi. Jelas ini bukan karena kehebatan diri. Lebih kepada saya lagi ada maunya sama tubuh ini. Berharap ia menjadi tangguh, pertahanannya kukuh, dan dapat berfungsi dengan penuh. Ditambah lagi ada orang-orang baik di luar sana yang terus mendukung dan mendoakan saya. Macam-macam manifestasi perhatiannya. Ada yang mengirim immune booster, menelepon saya, memberi pesan penguatan, dan lain sebagainya. Sebagian dari mereka mengambil peran supporter lapangan yang meriuhkan pertandingan hingga adrenalin saya terpacu dan akhirnya saya mampu berlari kencang. Sebagian lainnya bersiap diri menjadi asisten coach yang memberi data dan opsi untuk strategi yang akan saya mainkan. Ada juga para pemenang pertandingan yang menginspirasi saya untuk mencapai kemenangan saya sendiri. Semua variable itu bersatu menjadi kekuatan yang tidak main-main di dalam diri saya.

Apalagi setelah saya mendengar berita gembira karena hasil SWAB keluarga saya semuanya negatif. Suka citanya meletup-letup dan mendorong saya untuk terus berupaya. Tuhan amat tidak terhingga baikNya. Keteraturanpun tidak lagi menjadi
perkara. Awalnya..

Hingga setelah 5 hari isolasi mandiri, saya benar-benar menyentuh titik jenuh. Saya lelah bangun pagi dengan kesadaran bahwa tidak ada akvitas yang benar-benar berbeda dari kemarin. Saya akan sarapan, berjemur, olahraga, beribadah, bersih-bersih kamar, menonton netflix atau membaca buku, makan dan minum obat tepat waktu dan mungkin sesekali membuka sosial media. Bagian terburuknya adalah saya harus menjalani hari sendiri sendiri. Lagi.

Kejenuhan ini menyesakkan. Membuat saya tidak berdaya dan kelelahan. Sedikit demi sedikit saya merasa ada yang tersamarkan dari nilai diri saya. Seakan definisi diri saya tak jauh-jauh dari penghuni ruangan 4×7 meter ini. Saya membutuhkan sedikit campur tangan elemen yang mengejutkan. Saya perlu pengalaman yang berbeda. Saya menuntut adanya stimulus yang lebih kaya. Tapi apa bisa? Mengingat kontrol manusia tidak sebegitu hebatnya. Mungkin saya harus fokus dengan bagaimana saya meresponnya.

“Kalau saya tidak mau definisi saya sesempit ruangan ini, mungkin saya perlu menjadikan ruangan ini seluas jiwa saya.“

Saya bergegas.
Mulanya saya beranggapan bahwa ini adalah tentang meningkatkan variasi kegiatan. Saya teringat konsep aktivasi perilaku. Lingkungan (pengalaman) akan mempengaruhi emosi, dan emosi akan mempengaruhi bagaimana kita berperilaku. Perilaku akan kembali mempengaruhi lingkungan dan lingkungan Kembali mempengaruhi emosi yang kemudian mempengaruhi perilaku lagi. Ini adalah sebuah lingkaran dengan hubungan reciprocal yang dak akan berhenti. Di antara ketiga variable inti, perilaku adalah yang lebih mudah kita modifikasi. Bila saya ingin mengoreksi lingkaran depresi ini menjadi lingkaran yang bergerak di rute aktualisasi diri, maka mengubah perilaku adalah kunci. Saya memutuskan untuk menambah kegiatan sebagai sebuah stimulasi.

Saya butuh akvitas ringan yang membuat Bahagia. Belanja online shop adalah Langkah pertama untuk menemukannya. Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Puzzle 3D, coloring, dan sudoku. Setiap siang, saya akan menyediakan waktu untuk menikmati ketiga akvitas ini secara bergantian. Ternyata kegiatan sederhana ini sangat ampuh mengubah atmosfer kamar saya. Membuatnya menjadi lebih ceria meskipun dihuni pasien corona.

Bermain puzzle mengingatkan saya bahwa elemen kecil memiliki makna yang sama hebatnya dengan bentuk keseluruhan. Kenyataannya, keindahan bentuk keseluruhan akan diabaikan bila terdapat elemennya yang hilang. Karena hilangnya akan membentuk ruang hampa yang mencuri fokus pandangan dan menyita perhatian. Ingatan ini menaikkan derajat hal-hal kecil dalam hidup saya. Bisa jadi kita menganggap hidup tidak bermakna karena tidak ada hal besar yang terjadi di dalamnya. Padahal angin yang bertiup menyejukkan, air mineral yang diminum saat kehausan, atau selimut yang menghangatkan adalah hal kecil yang bukan hanya menyamankan, tapi juga menekankan bahwa kita hidup. Dan kehidupan adalah hal besar yang terjadi pada diri kita.

Akhirnya saya mengubah strategi dalam menghadapi kejenuhan di
tengah runitas. Saya perlu melihat segala sesuatunya secara lebih jelas.

“Setiap hal kecil dalam hidup saya adalah pentas. Dimana saya dapat menyaksikan keajaiban yang berkelas. Asal saya membangun kesadaran yang tegas. Maka tidak ada lagi kejenuhan dalam rutinitas. Semuanya tampak seperti diorama hidup dengan ilustrasi yang tidak terbatas.“

Saya berjemur hampir setiap hari. Namun bila saya menyadari segala hal kecil yang terjadi, saya akan melihat perbedaan yang sangat berarti. Pada hari kemarin, Tuhan memberi saya sinar mentari yang terik dan teman kecil berupa belalang yang hinggap di tanaman. Sementara pagi ini, tuhan hadirkan angin yang menari bersama daun kering berjatuhan. Hal-hal kecil yang hadir dalam hidup, membuat saya memiliki pengalaman kaya yang sangat bermakna dan berbeda.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.