Tentang Kepastian Dan Ketidakpastian : A Reflective Journal

315
Ketidakpastian
Gambar oleh Anrita1705 dari Pixabay

Dalam ketidakpastian kita bergerak dan mengarahkan berbagai daya untuk mencapai kepastian. Sebuah kepastian yang tidak pasti kapan datangnya, tidak pasti bagaimana bentuknya, dan tidak pasti apakah kita akan menyukainya. Sebuah Kepastian yang kedatangannya pasti diiringi dengan rentetan ketidakpastian lainnya. Itu mengapa pertanyaan “kapan” akan tetap terlontar, sejauh dan sebanyak apapun kita berhasil mengoreksi kepastian. Tapi kita tetap mencarinya.

Baca juga: Tempat Terbaik di Dunia dari Kacamata Antropolog.

Menganggapnya sebagai cara terbaik untuk menjalani hidup, pertahanan terbaik untuk keberlangsungan hidup, dan penggerak terbaik untuk menikmati kejayaan hidup. Hasrat mencapai kepastian ini kita distribusikan dalam bentuk agenda dan rutinitas, atau dalam bentuk yang lebih ekstrim, janji dan sumpah.

Kita memodifikasi dan memanipulasi. Berupaya menjadikan kepastian sebagai sesuatu yang dapat dikondisikan. Bagi beberapa orang yang tidak memiliki kontrol untuk memodifikasi masa kini agar menjadi sesuatu yang pas, mereka memutuskan untuk dak melepaskan masa lalu dan segala yang telah berlalu.

“Karena masa lalu adalah satu-satunya kepastian yang tidak perlu kita upayakan. Apapun yang kemarin terjadi, adalah ketetapan di hari ini. Kemarin adalah pasti, yang menyisakan pertanyaan yang jawabannya perlu kita cari. Kepastian untuk ketidakpastian”

In my case, I found something certain for a second, and I’m suffocated by many other possibilies in the next second. Positif Covid19 adalah sebuah kepastian yang saya hadapi saat ini. Kepastian yang datang menggantikan kepastian lain yang adanya di dalam fikiran, lahir dari sebuah keyakinan berdasarkan bukti yang mapan.

“Selama ini saya baik-baik saja”, “sejauh ini saya tidak ada gejala”, “sementara ini saya selalu menjaga protocol Kesehatan” dan percakapan internal lainnya yang terjadi antara saya dengan tubuh, yang menjadikan sehat dan negatif sebagai sebuah kepastian di dalam pikiran. It is what it is, until it isn’t. Kepastian yang baru membantah kepastian sebelumnya. Kepastian saya hari ini adalah virus corona telah berhasil mengalahkan pertahanan tubuh saya, meskipun kemenangannya tidak mutlak.

Kepastian juga bagi saya telah menjadi satu di antara 165 ribu warga Jakarta yang tercatat turut bertanding dalam kompetisi 14 hari yang mungkin saja mendapat perpanjangan waktu bila kita tidak sanggup mengungguli. Kompetisi ini memiliki wajah yang berbeda-beda.

Bagi beberapa orang, kompetisi ini lebih menyerupai pertandingan persahabatan. Kita masih bisa tertawa dan bercanda dan dengan mudah memenanginya. Bagi beberapa lainnya, kompetisi ini tampak seperti ada dalam klasemen Liga Inggris sehingga suasananya lebih memacu adrenalin. Untuk menang, kita perlu memfokuskan atensi pada tujuan dan memberikan effort yang lebih.

Kompetisi adalah Tentang Hidup dan Mati

Sementara bagi peserta spesial, kompetisi ini hadir dalam wujud Hunger Games di mana kemenangan dan kekalahan adalah tentang hidup dan mati. Hadir dalam bentuk apapun, setiap kompetisi pasti menyajikan lawan dan tekanan. Tidak ada jalan terbaik untuk memenanginya selain dengan memainkannya.

Menang dan kalah adalah ketidakpastian yang lahir dari kepastian sebuah pertandingan. Dan ini adalah satu dari sekian banyak ketidakpastian baru yang hadir dalam hidup saya hari ini. Ketidakpastian lainnya adalah tentang bagaimana kekalahan sementara ini akan mempengaruhi orang-orang di sekitar saya. Apakah saya telah menyeret orang terdekat untuk turut bermain dalam pertandingan?. Lagi-lagi Kembali kepada ketidakpastian.

Hanya dibutuhkan satu detik untuk memaparkan sebuah kepastian, dan kurun waktu yang tidak dapat ditentukan untuk menghadapi ketidakpastian lainnya. Pada akhirnya semua hanya akan mengarahkan kita pada kelelahan yang tidak terelakan atas upaya mencapai ujung yang dak berujung, kecuali, dan hanya kecuali, bila kita dapat melewati setiap fasenya dengan kesadaran dan perhaan yang penuh.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.