Tentang Hidup di Detik Jantung Berdegup: A Reflective Journal

287
hidup
Foto oleh Ivan Samkov dari Pexels

Saya masih ingat kejadian malam itu, sepulang rapat persiapan program yang sudah lama diimpikan dan direncanakan. Seperti biasanya, rutinitas setelah keluar rumah saya adalah bergegas mandi dan mengganti pakaian yang dikenakan. Saat mandi, pikiran saya melayang membayangkan empuknya kasur dan hangatnya selimut yang sudah menanti.

Pertama Kali Sadar akan Gejala Covid-19

Selesai mandi, saya mengganti pakaian dan mengambil posisi nyaman di depan meja rias untuk memulai rangkaian skin care malam. Saat mengaplikasikan essence ke wajah, saya menyadari bahwa saya dak dapat mencium aroma dari essence yang biasanya menyengat.

Baca juga: Mengenal Berbagai Istilah Literasi Kitab Kuning Karya Ulama.

Hanya saja saya mengabaikannya. Mungkin karena saya sedang sedikit flu, benak saya. Rangkaian skin care saya jalani dengan mode auto pilot. Kebiasaan terkadang membuat tubuh kita cukup mandiri untuk bekerja tanpa disertai instruksi ataupun evaluasi dari
otak. Selesai.

Sekarang waktunya saya memastikan kamar terbebas dari berbagai variable yang dapat mendistraksi tidur saya. Salah satu variable utamanya adalah nyamuk. Sayapun mulai menyemprot kamar dengan obat nyamuk. Di detik ini saya terusik oleh tidak adanya aroma obat nyamuk yang dapat saya cium.

Dalam sepersekian detik, saya mengumpulkan kesadaran yang tercecer -tersebar memperhatikan masa lalu dan mengandai-andai masa depan. Saya mampu merasakan
otot tubuh yang menegang sebagai reaksi atas kesadaran yang penuh akan kondisi saya saat ini. Saya mengatur nafas yang mulai kewalahan menghirup oksigen berharap ada sesuatu yang bisa ditangkap indra penciuman. Namun nihil.

Mencoba Meyakinkan Diri dengan Gejala yang Saya Alami

Saya mengambil parfum, lalu menyemprotkannya ke tangan dan memaksa hidung untuk menangkap wanginya. Namun tidak ada yang berubah. Bagaimanapun saya memiliki rekaman yang baik tentang memori wanginya, tidak sedikitpun saya mampu mendeteksinya.

Paradoks terjadi di dalam tubuh saya, otot saya menegang namun tubuh saya terasa lemas. Dengan sisa kekuatan yang ada, saya menyampaikan dugaan awal kepada mas romzi “mas.. kayanya aku terinfeksi corona deh..”.

Menyampaikannya secara lisan membuat dugaan tersebut terdengar lebih menyerupai kepastian. Saya tau, ada banyak orang se-usia saya yang berhasil melewati sakitnya dengan baik. Saya juga cukup mengenali profil tubuh saya dengan tanpa adanya poin penyakit kronis yang menyertai. Namun dinamika yang terjadi dalam diri saya lebih kompleks dari sekedar kepastian sehat atau sakit.

Ini adalah tentang kekalahan atas perang panjang yang saya upayakan semenjak Corona datang. Ini adalah tentang penyesalan akan berbagai pelanggaran yang mungkin
pernah saya lakukan. Ini adalah tentang ketidak pastian, yang bukan hanya terkait saya, tapi terkait banyaknya orang yang berinteraksi dengan saya. Dan ini adalah tentang babak baru yang belum pernah saya persiapkan cara melewatinya. Di malam itu, kami memutuskan untuk pisah ruang tidur.

Dingin yang asing, adalah suasana yang saya tangkap begitu mas romzi meninggalkan ruangan. Saya sendirian tapi suara di kepala saya lebih ramai dari normalnya kebisingan pesta yang dihadiri banyak orang. Siapa saja yang berinteraksi dengan saya sebelumnya? Bagaimana bila mama papa tertular? Bagaimana bila tubuh saya tidak cukup kuat? Bagaimana dan bagaimana lainnya yang semakin menumpuk beban ketidak pastian yang harus saya pikul tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mencoba Tegar Meskipun Sulit

Tubuh sayapun memberontak. Terlalu Lelah dipaksa menjawab pertanyaan dari sang otak. Memproduksi energi untuk ratusan kemungkinan masa depan yang meminta untuk disimak. Saya merasa sesak. Saya tidak bisa teriak. Namun perlahan, samar namun tetap terdengar, saya mengingat apa yang pernah disampaikan kawan saya dulu. “Kalau terlalu berat membayangkan hidup sampai hari esok, coba hidup untuk hari ini. Kalau masih tetap berat, coba hidup dari satu shalat ke shalat lainnya.”.

“Saya perlu menjadi penuh untuk diri saya saat ini”

Saya menghela nafas Panjang. Mencoba menerima kepanikan yang menyerang. Saya mencoba untuk diam di dalam. Menyimak apa yang terpendam. Tidak memberi respon apalagi menikam. Saya perlu hidup untuk detik ini.

Bila saat ini saya mengalami kecemasan, maka tidak perlu dilawan. Tapi jangan juga diusik dengan pertanyaan. Biarkan waktu yang melepaskan. Sayapun terlelap tanpa perlu berusaha untuk melakukannya.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.