Tentang Cinta Dewasa Dalam Hidup Saya

330
Cinta
Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Mungkin benar kalo ada yang bilang jarak terjauh antar manusia adalah ketika keduanya saling mencinta, berada di tempat yang sama, namun tidak berdaya untuk saling menatap muka apalagi memeluk mesra. Ada nyeri di tempat yang tidak bisa diraih saat setiap sore mas romzi menyempatkan diri berkunjung ke rumah dan menyapa saya dari
sisi lain pintu. Nyeri itu hanya satu rasa yang dengan mudahnya tersamarkan oleh ribuan rasa yang meramaikan euforia di dada, akibat perjumpaan yang tidak utuh dan tanpa sentuh. Tapi dak ada keluh.

Karena sejak corona mengambil bagian dalam badan, sore menjadi waktu paling berharga dalam keseharian. Sore menjadi waktu yang sangat saya tunggu-tunggu. Bukan karena ada senja, bukan juga karena jam pulang kerja, apalagi jeda untuk menikmati keramaian kota. Tapi karena usaha yang mas romzi kerahkan untuk dapat memangkas jarak antara kami berdua. Usaha untuk berada dua meter dari posisi berdiri saya, meskipun ia berpijak pada ruang yang berbeda.

Baca juga: Tentang Keteraturan dan Jiwa yang Tersamarkan.

Pada sore-sore itu, cinta menjadi guru terbaik bagi saya untuk mengontrol diri. Tidak ada siapapun atau apapun di sana yang dapat menghentikan saya untuk membuka pintu dan berlari ke pelukannya. Keadaan ini menyadarkan bahwa kontrol diri saya bekerja dengan sempurna. Dan siapa lagi yang dapat melatihnya sebaik ini kalau bukan cinta.

Jarak yang menyiksa ini terasa aneh dan asing mengingat kita terbiasa tinggal di tempat berbeda. Mungkin sebabnya saat ini kita dibatasi oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Atau mungkin saya terbiasa bertumpu padanya saat kalah dan lelah. Butuh dekapannya untuk mentransfer energi pada tubuh saya yang lemah. Entahlah.. semakin difikirkan, semakin membuat saya merasa payah.

Tapi saya bersyukur karena wujud cintanya tidak memanjakan saya. Terbukti pada sore pertama. Bukan coklat apalagi bunga yang dibawanya untuk memberikan penguatan. Tapi sepasang ikan hias untuk saya rawat dan saya beri makan. Ia sadar benar bahwa kekuatan itu ada di dalam diri saya. Dia percaya bahwa dalam titik terendahpun saya bisa bermanfaat untuk yang lainnya. Yang dibutuhkan hanya menggeser fokus perhatian saya agar tidak melulu berpusar pada luka dan duka yang dirasa.

Saya teringat malam pertama Ketika penciuman saya hilang. Terus terngiang di benak saya kata-kata yang mas romzi lontarkan. “Kita hadapi ini bareng-bareng ya dek” dia sampaikan dengan tenang. Ketenangan yang membuat saya takjub namun memang saya butuhkan. Kalimat itu berulang kali disampaikannya saat dan setelah kami melakukan tes swab keesokan harinya. Itu hanya kalimat singkat yang sederhana. Siapapun bisa mengucapkannya. Namun, mendengarnya dari orang terkasih di saat kita merasa sangat ringkih, rasanya seperti ada tangan hangat yang hendak meraih. Terus meraih dan mendekap tanpa letih.

Saya juga merasakan akselerasi luar biasa dalam pertumbuhan cinta saya untuknya. Sejak menyadari hasil tes kami berbeda, saya menyarankan mas romzi untuk pindah sementara ke Pesantren binaan di Pamulang. Tentunya tidak mudah memutuskan untuk berjauhan di saat ego saya meraung-raung minta diperhatikan. Namun saya paham benar bahwa saya akan berkali lipat merasa gelisah dan terluka bila mengabaikan keamanan mas romzi. Pasalnya tidak ada kamar kosong yang tersedia untuk ia tempati di rumah ini.

Saya bohong bila tidak ada kepedihan yang singgah saat mas romzi pindah. Bohong bila tidak ada pemberontakan dari “Id” yang mendesak saya untuk coba mencegah. Namun cinta menuntun saya untuk mencapai pasrah. Meskipun pada prosesnya saya harus terengahengah. Berupaya meletakkan masalah dengan bersusah payah. Namun pada akhirnya kepasrahan memang pelega resah.

“Kepahitan atas perpisahan sementara, justru menunjukkan betapa hadirnya itu berharga.“

Kuasa Tuhan memang tidak terhingga, sampai mampu menciptakan kompleksitas dalam konsep yang kita kenal dengan istilah cinta. Cinta yang katanya memberi makna dan warna dalam hidup, ternyata bukan untuk dinikmati secara pasif.

Cinta adalah energi yang dengan pengelolaan yang tidak tepat akan menjadi impulsif ataupun agresif. Kadang cinta lebih ramah menunjukkan sejatinya saat dilihat dari kacamata sang naif. Apapun itu, cinta jauh dari kata trivial. Sehingga saat ia hadir dalam hidup, kita perlu menyambutnya dengan mengaktivasi kesadaran kita. Mengapa?

Karena seperti energi, cinta dapat bertransformasi menjadi berbagai rasa yang tanpa limit. Hari ini terasa manis, esoknya pahit. Seperti hari ini. Keberadaan cinta mengundang kepedihan dalam diri saya. Pedih pada perpisahan yang sebenarnya hanya sementara. Tidak akan sepedih ini bila cinta dak tertanam di dalamnya. Tapi di waktu yang nyaris bersamaan, cinta juga tidak lupa mengundang kuat dan kokoh di dalam raga. Pun mengundang asa tentang jumpa yang ada di depan sana. Cinta tidak melemahkan kecuali dengan tujuan untuk semakin menguatkan. Untuk mencapai ini, kita perlu mendampinginya dengan kesadaran.

Terima kasih cintanya Rini, terima kasih cintanya Romzi. Terima kasih atas peran signifikannya dalam situasi ini. Terima kasih untuk segala intervensi.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.