Tentang 3 Wanita Hebat dalam Keluarga

177
wanita
Foto oleh Ketut Subiyanto dari Pexels

Saya tiga bersaudari. Tapi 3 wanita pada judul ini, dak termasuk diri sendiri. Ini adalah tentang Rika, -kakak saya-, mama, dan juga Kiki -adik saya-.

Sosok Rika mengajarkan saya tentang kelembutan yang dapat berteman dengan ketangguhan. Sejak dulu, saya belajar banyak tentang menjadi tangguh darinya. Dalam keluarga, ia adalah wanita yang paling berpotensi berkonflik dengan orang lain. Pasalnya ia tangguh mempertahankan pendapatnya dan tangguh menghadapi konsekuensi berselisih paham dengan siapa saja. Bagi saya, itu bukan sebuah cela. Meskipun kadang terkesan mengedepankan egonya, setidaknya ia memperjuangkan apa yang diyakininya. Namun ketangguhan ini membuat kita merindukan kelembutannya. Bukannya tidak pernah, ia terbiasa mengekspresikan kelembutannya dengan cara yang tidak biasa. Dan bagi kami, itu adalah moment yang sangat berharga.

Baca juga: Tentang Cinta Dewasa dalam Hidup Saya.

Salah satunya terjadi di tengah masa isolasi mandiri. Sempat terbersit di kepala, bahwa ia akan merespon dengan tidak baik perihal kondisi saya. Tentunya saya akan mewajari apapun sikapnya mengingat ia adalah seorang ibu dengan anak kecil yang harus dilindungi. Namun di luar prediksi saya, ia memilih menunjukkan sisi lembutnya untuk menguatkan. Tidak jarang ia berteriak dari dalam rumah untuk sekedar menyapa, menyemangati atau mengajak saya tertawa. Ia tidak sedikitpun menyalahkan karena saya telah membuat suasana rumah menjadi mencekam dan melibatkan anaknya di dalam kerumitan.

Pada saat cuti kerja, ia bahkan meminta untuk menyiapkan saya sarapan. Segala bentuk perhatian ini lebih bermakna dari semua berlian. Dari kelembutan yang dipilihnya dalam berperan, saya menangkap adanya ketangguhan yang penuh perlindungan.

Kemudian Mama. Hampir tidak mungkin saya tidak menangis bila harus mendeskripsikan perannya dalam hidup saya. Karena itu, seringkali saya menghindari topik pembahasan yang mengarah ke sana. Mama seringkali khawatir dan diliputi rasa takut pada banyak hal, tapi dapat bertransformasi dalam sekejap menjadi sosok paling berani Ketika berkaitan dengan kebaikan dan keselamatan anak-anaknya. Mama terbiasa tidur tepat waktu dan terjaga lebih awal untuk berkeluh kesah atau mengucap syukur pada Penolongnya. Meskipun kita jarang meminta, mama selalu menyiapkan narasi tentang kita untuk disampaikan dalam sujudnya. Selama masa isolasi, mama selalu ada di garda terdepan. Saya ingat pesan singkat yang pernah dikirimnya di suatu malam. Menyatakan bahwa ia standby dua puluh empat jam jikalau saya membutuhkan.

“Saya tidak bisa berkata-kata. Tidak berlebihan bila surga Tuhan posisikan di bawah kakinya. Saya yakin tuhanpun mendesain sesuatu yang indah saat menciptakan hatinya.“

Pada suatu siang, saya meminta tolong kiki untuk menjemur baju yang sudah saya cuci. Mama tidak setuju bila saya mencuci di tengah waktu isolasi. Menurutnya, itu adalah pekerjaan berat yang dapat menyita energi. Padahal seharusnya saya focus memulihkan diri. Saya tidak mengambil soal protes kecil yang mama sampaikan. Namun mama serius dan memberi sebuah penawaran. “Mama aja yang cuci bajunya” sebuah statement yang menggetarkan. Terlepas dari penolakan yang dengan cepat saya tunjukkan, saya menerima kasih tak terhingga lewat niat baik yang mama haturkan. Kasih yang bentuknya melampaui semua keterbatasan.

Dan ini dia teman bicara dan pejuang utama selama saya melawan corona. Adik yang juga rekan bisnis saya. Kami berdua dan tante saya merintis usaha yang diberi nama Aulia Patisserie. Seperti identitas yang melekat pada namanya, produk yang kami tawarkan berjenis makanan dan cemilan. Selama isolasi mandiri, Kiki bekerja sendiri. Menerima pesanan hingga memaskan pengantaran. Tapi itu semua belum ada apa-apanya dibanding peran lain yang juga ia mainkan.

Kiki menjadi bukti konkrit bahwa bukan hanya usia yang membentuk kedewasaan. Kedewasaan memiliki rumus yang lebih kompleks dari sekedar selisih hari ini dan hari kita dilahirkan. Nyatanya kiki siap mengambil peran meskipun tidak ada yang mengharuskan. Ia siap menerima beban meskipun selalu ada pilihan untuk mengabaikan. Sambil tetap bekerja di rumah dan berbisnis online, ia memastikan saya mendapat makanan tepat waktu dan terpenuhi segala kebutuhan lainnya. Dalam sehari, saya bisa meneleponnya puluhan kali. Tujuannya bisa jadi untuk berkoordinasi, mencari teman diskusi, atau sekedar memenuhi kebutuhan sosialisasi. Tentunya juga untuk memastikan makanan sudah tersaji. Semua aksi ini tidak dapat dibayar dengan berjuta kebaikan dalam reaksi. Kiki mengajarkan saya tentang kedewasaan dan ketulusan. Selain mereka bertiga, Ada Ibu mertua, adik kaka ipar dan teman-teman saya, yang semuanya berperan dan sangat berjasa. Saya sangat bangga dan punya syukur yang tidak terhingga untuk eksistensi mereka di dunia.

Bagaimana saya dapat mendeskripsikan dengan sempurna sosok yang tidak membiarkan saya terpuruk sendirian? Lebih dari itu, bahkan siap menjadi lelah dan susah dengan mengulurkan tangan agar saya tidak tertinggal di belakang. Sosok-sosok ini menggandeng identas wanita. Dan mereka adalah wanita-wanita yang paling berharga.

Tulisan ini bagian dari “A Reflective Journal” yang ditulis oleh Muharini Aulia, M.Psi. selama menjalankan karantina setelah ia dinyatakan positif Covid19, tulisan ini juga didedikasikan kepada seluruh pejuang Covid19 yang sedang dalam masa karantina dimanapun kalian berada, juga sebagai ucapan terimakasih kepada seluruh dokter, perawat, petugas medis, relawan, keluarga dan teman-teman yang tak pernah lelah memberikan dukungan dan semangat.

Penulis: Muharini Aulia, M.Psi.