Tauladan Mengasihi Sesama Dari Kisah Burung Emprit

2252
Photo by James Hammond on Unsplash

Oleh:
Muhammad Aqib Malik
(Founder Al Maliki Center)

Di dalam kitab Ushfuriyyah, karya Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri, ada kisah suritauladan yang menarik dan patut kita renungkan dan sangat masyhur di kalangan pesantren. Kisah ini datang dari Sahabat Umar bin Khattab. Suatu hari Khalifah Umar berjalan menyusuri kota di Madinah, di sebuah desa, beliau melihat seorang anak kecil yang lagi memegang dan memperminkan burung emprit, karena Khalifah Umar merasa kasihan dan iba, beliau membeli burung emprit dari anak kecil itu, kemudian melepaskannya di alam bebas, setelah melakukannya beliau merasa lega dan bahagia. Setelah Sahabat Umar wafat menghadap sang khalik, beberapa ulama bermimpi dan bertemu beliau, terjadilah perbincangan dalam mimpi tersebut.

­“Apa yang telah Allah lakukan kepadamu wahai Umar?” tanya mereka.

Kemudian Umar menjawab, “Allah memaafkanku dan mengampuni semua kesalahanku.”

“Apakah Allah mengampunimu karena kedermawananmu, keadilanmu atau kezuhudanmu?”

Umar menjawab, “Tak lama setelah tubuhku dikubur dalam tanah, lalu orang-orang meninggalkanku sendirian, datanglah kepadaku dua malaikat yang menyeramkan, keduanya kemudian memegang, mendudukanku dan kemudian hendak menanyaiku, namun kemudian ada suara yang berkata, “Tinggalkanlah hamba-Ku itu, dan jangan kalian menakutinya, sesungguhnya aku telah mengampuni dosa-dosanya sebab ketika di dunia, ia menyayangi seekor burung”.

Menjadi Orang Yang Mengasihi

Kisah Sahabat Umar yang mengasihi seekor burung emprit, menghadirkan pelajaran yang luar biasa kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita diperintahkan untuk mengasihi kepada makhluk Allah lainnya, kalau mengasihi kepada seekor burung emprit saja bisa mendatangkan rahmat Allah kepada hambanya, apalagi ketika kita bisa mengasihi dengan orang-orang di sekeliling kita, baik itu keluarga, teman, tetangga dan semuanya. Jangan sampai di tengah lingkungan masyarakat kita, antara satu dengan lainnya saling bertikai dan tidak bersatu, ketika itu terjadi, maka kerusakan dan kehancuran sebuah wilayah akan segera datang. Maka kunci untuk menghindari hal tersebut adalah dengan menumbuhkan kesadaran untuk saling mengasihi, menghargai dan menghormati dengan sesama.

Mengasihi kepada makhluk lainnya dalam kisah ini juga mempunyai arti kepedulian, yaitu menyadari bahwa kita sebagai makhluk sosial harus saling membantu, bahu membahu ketika orang lain sedang membutuhkan. Termasuk dalam kondisi akhir-akhir ini, yaitu mewabahnya virus covid 19 atau corona. Kita ketahui bersama, dampak dari mewabahnya virus corona tidak hanya pada sektor kesehatan saja, akan tetapi juga berdampak kepada kondisi kehidupan yang semakin sulit. Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya karena di PHK, ada juga yang penghasilan usahanya menurun drastis sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dan masih banyak fenomena yang lainnya.

Dalam situasi seperti ini, saatnya kita membuktikan untuk menjadi orang yang bisa mengasihi sesama, yaitu orang yang mau uutuk saling membantu dan peduli dengan orang lain yang membutuhkan, kalau kita mempunyai rezeki lebih, tidak ada salahnya menyisihkan uang kita untuk mengurangi beban mereka, kalau kita tidak punya harta benda, kita juga bisa berbagi dengan pikiran atau tenaga yang kita punya. Mengasihi merupakan hal yang sangat luar biasa dan mendatangkan kebahagiaan, kebahagiaan untuk orang yang mengasihi, dan juga kebahagiaan bagi orang yang dikasihi.

Semoga kita semua bisa menjadi golongan orang-orang yang mengasihi sesama, sehingga nantinya kita termasuk orang orang yang dikasihi para penghuni langit, sebagaimana hadis Nabi dari Abdullah bin Umar, Rasulullah bersabda: “Para penyayang akan disayangi oleh sang maha penyayang, maka sayangilah semua makhluk yang di muka bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapapun yang ada di langit”.