Tantangan Pembelajaran Tatap Muka di tengah Pandemi

327
pandemi
Sumber Foto Pintek.id

Setahun lebih Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Pandemi yang melanda Indonesia memberikan dampak di berbagai sektor termasuk sektor pendidikan, menjadikan segala kegiatan dibatasi dan semakin sempitnya interaksi manusia. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Sektor pendidikan menjadi salah satu yang sangat terdampak karena pandemi, kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membatasi aktivitas di zona pendidikan, sehingga siswa-siswi seolah dasar hingga menengah atas dan mahasiswa tidak dapat menjalankan proses belajar mengajar di sekolah seperti biasanya.

Baca juga: Kelompok Kriminal Bersenjata: Wajah Intoleransi dari Papua

Pandemi Semakin Lama Pendidikan Kian Merana

Situasi saat ini sangat merugikan dunia pendidikan, hilangnya kesempatan anak untuk dapat belajar secara langsung tatap muka di sekolah menyebabkan anak terlena dan merasa libur tidak sekolah. Berbagai upaya telah di lakukan untuk memindahkan lokasi anak dapat bersekolah dengan jarak jauh melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemerintah mengkampanyekan agar siswa dan guru dapat beradaptasi dengan pembelajaran daring (dalam jaringan) dan jarak jauh sehingga pendidikan tetap berlangsung dengan baik. Namun, satu tahun pandemi berlangsung dan sekolah jarak jauh tetap dilakukan menunjukkan turun nya kualitas pendidikan dan pembelajaran siswa yang tidak maksimal.

Jika dicermati dengan baik, ada beberapa faktor yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan dengan baik, seperti pemanfaatan teknologi kurang maksimal, suasana belajar dirumah tidak kondusif dan tidak mendorong anak untuk belajar serta tidak adanya interaksi antara anak dan guru sehingga tidak terjadi transfer nilai dan karakter kepada anak.

Kondisi pendidikan yang memprihatinkan membuat pemerintah melalui Kemendikbud serta Satgas covid-19 mengevaluasi kebijakan belajar di rumah menggunakan daring. Pemerintah persiapan untuk menghadapi penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Dalam SKB 4 Menteri telah memutuskan untuk menyelenggarakan Sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru Juli 2021. Kebijakan merupakan kebijakan yang berani ditengah ancaman penyebaran covid-19 yang masih tinggi dan setiap waktu dapat terjadi pada anak anak sekolah.

Timbul Berbagai Pertanyaan

Niat baik pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hak anak anak dalam mengenyam fasilitas pendidikan di sekolah dengan baik harus dipersiapkan dan diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi klaster baru pada anak anak.

Pemerintah menganggap dengan selesainya proses vaksinasi kepada guru guru dan tenaga pendidik menjadi acuan kedepannya akan meminimalisir terjadinya klaster baru di sekolah.

Di sisi lain sekolah tatap muka yang mengharuskan anak anak untuk datang ke sekolah dengan kapasitas maksimal 50% menjadi pertanyaan apakah anak anak siap untuk datang ke sekolah tanpa adanya perlindungan vaksin seperti yang di dapatkan guru dan tenaga pendidik? Apakah anak anak akan aman dari potensi terpapar virus? Apakah fasilitas yang disiapkan sekolah dapat mengantisipasi jika anak terpapar virus ? Jika pemerintah dan sekolah sungguh sungguh menerapkan kebijakan sekolah tatap muka, sudah seharusnya memperhatikan keamanan dan kesehatan serta antisipasi kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

Pembelajaran Tatap Muka Menimbulkan Kekhawatiran

Tantangan selanjutnya adalah apakah orang tua murid bersedia mengizinkan anaknya untuk pergi ke sekolah untuk belajar secara tatap muka. Orang tua murid bisa saja menolak memberangkatkan anaknya ke sekolah karena khawatir anaknya terpapar virus yang berasal dari lingkungan sekolah atau dalam perjalanan menuju ke sekolah.

Sekolah bisa saja telah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan disiplin, namun jika keluar lingkungan sekolah anak anak bermain dan berkumpul bersama teman temannya apakah dapat di kontrol dengan baik? Anak-anak merupakan masa dimana mereka dapat bermain dan berkumpul bersama teman-teman, aktivitas yang tinggi dan cenderung abai terhadap protokol kesehatan.

Tentunya pihak sekolah dan orang tua tidak mampu mengawasi apabila anak anaknya main dan berkumpul bersama teman-temannya. Dalam peraturan pemerintah telah di jelaskan bahwa orang tua boleh tidak mengizinkan anaknya pergi ke sekolah dan melakukan proses belajar dan mengajar dari rumah untuk menghindari ancaman penyebaran Covid-19.

Pendidikan menjadi kunci peradaban suatu negara dan bangsa. Terganggu nya jalannya pendidikan karena pandemi menyebabkan ancaman hilangnya kesempatan belajar generasi muda. Pembelajaran jarak jauh yang selama ini di lakukan tidak dapat menjadi solusi jangka panjang bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Interaksi secara tatap muka di butuhkan bagi anak anak sekolah agar mendapatkan pendidikan baik materi maupun pembentukan karakter yang baik di sekolah. Namun pemerintah sebagai regulator dan sekolah sebagai pihak yang mengimplementasikan kebijakan sekolah tatap muka diharuskan mampu menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin sehingga kekhawatiran masyarakat akan penyebaran covid-19 dapat di minimalisir.

Disamping itu, pemahaman kepada orang tua dan wali murid sangat penting dilakukan sosialisasi kepada orang tua agar yakin dan percaya kepada pihak sekolah mampu menjalankan protokol kesehatan dengan baik, sebagai upaya bersama menyelamatkan dunia pendidikan di masa pandemi.

Penulis: Rosyadah Khairani
(Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)