Tanpa Keterampilan, PR Harus Minggir

415
Photo by Austin Distel on Unsplash
Ilustrasi/Photo by Austin Distel on Unsplash

Oleh:Emmy Kuswandari

(Praktisi Public Relations)

Siang tadi ada mahasiswa tanya, ke depan apa masih ada ya pekerjaan wartawan itu? Tuntutannya sangat besar, harus menguasai menulis, memotret, membuat video, siaran, dan paling prinsip memiliki kemampuan untuk mendapatkan informasi terkini.  Pokoknya harus bisa semua.

Iseng saya menakuti dengan bilang tidak usah belajar buat berita, serahkan saja pada robot. Beritagar (alm) saja tak perlu wartawan. Cukup mempekerjakan kurator yang sedikit jumlahnya. Buat apa kamu capek-capek belajar jurnalistik?

Kegelisahan ini wajar. Dulu pekerjaan yang harusnya dikerjakan dua-tiga orang, saat ini harus mampu dilakukan sendiri. Ada videographer, ada reporter, ada presenter. Bedanya, dulu alat-alat tak secanggih sekarang. Untuk wawancara perlu recorder sendiri, sekarang cukup pakai HP. Kamera video berat dan kemampuannya terbatas. Sekarang, ambil gambar dengan telepon genggam sudah cukup untuk masuk ke media online daring atau bahkan televisi.

Zaman berubah, peralatan mudah dioperasikan dan hampir semuanya bisa kita lakukan dengan handphone. Jangan minder kalau mau jadi wartawan, mosok kalah sama emak-emak yang canggih buat video dan editan foto demi konten Instagram? Wartawan nggak boleh cengeng.

Tapi saya tahu maksud mahasiswa tadi. Bukan semata-mata harus mempunyai keahlian lebih, tetapi juga berpikir bentuk media akan seperti apa ke depan nanti. Media cetak sudah banyak yang lelah berdiri dan sekarang sujud ke tanah, tumbang. Kerajaan media juga banyak memangkas produk-produk media yang mereka miliki.  Covid-19 membuat keadaan lebih parah lagi; iklan tak ada, karyawan media pun mulai dipangkas sedikit demi sedikit seperti mengiris daging kebab.

Kalau mahasiswa tadi mempertanyakan ilmu yang dipelajarinya berguna tidak untuk masa depannya, saya juga menanyakan hal yang sama. Masih ada tidak sih pekerjaan public relation di masa depan? Tuntutan multitasking tidak hanya untuk wartawan. Bahkan pekerjaan ini harus ditambahi job desk-nya dengan mampu mengorganisasi acara, copy writing dan menyenangkan hati semua bosnya. Eh, tambahan yang terakhir itu dari saya, ding.

Robot bisa menyambut tamu yang datang, ia juga bisa membuat rilis dan mesin bisa menganalisis berita. Lalu ngapain masih ada sekolah PR? padahal jelas-jelas tak ada masa depannya. Upsss…saya bisa dimarahi dosen-dosen komunikasi, nih.

Sebagai praktisi PR, kompetensi memang harus mumpuni seperti paham digital storytelling, visual content creator dan curator, social listening, social purpose, dan pemanfaatan big data. Tak menguasai mainan baru tersebut membuat kita akan terhempas kayak alun di pantai.

Selain kemampuan tersebut, paling utama adalah kemampuan untuk mendengarkan. Mengasah kepekaan terhadap kejadian di sekitar kita. Ini sebetulnya modal utama PR.  Lalu menuliskan temuan-temuan di lapangan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Nah, untuk menguasai berbagai macam tools digital supaya bisa mengemas dan menyampaikan informasi atau bahasa kerennya digital savvy, pelajarilah dengan hati yang gembira.

Gampangnya begini, dulu kita tak tahu bagaimana menggunakan Whatssapp, sekarang terampil kirim foto, dokumen, video call, menulis Italic atau Bold. Bahkan yang paling rendah kastanya, forward informasi yang dikategorikan fake news atau hoax. Percayalah, tak mudah hidup tanpa Whatssapp.

Banyak aplikasi sudah disediakan yang bisa diakses dari HP atau laptop untuk membuat video, kolase foto, membuat e-flyer, undangan bahkan paparan presentasi yang ciamik. Internet memudahkan segalanya, bahkan tutorial bagaimana memisahkan obat nyamuk bakar yang dempeten tanpa mematahkannya barangkali juga ada di Youtube. Saya sukses menemukan tutorial membuat cilok dan cilor yang enak.

Menjadi PR professional tentu tak semudah membuat cilok dan cilor. Jadilah pencerita. Bagaimana membuat data fluktuasi penjualan di perusahaan mudah dimengerti banyak orang, apa dampaknya untuk ekonomi Indonesia, bagaimana sumbangan perusahaan untuk masyarakat. Izinkan data-data njimet perusahaan ini untuk berbicara. Narasikan ia dengan bahasa sederhana.

Kadang justru kita yang membungkam angka-angka untuk bicara dan hanya menampilkannya begitu saja. Berikan panggung bagi angka-angka ini dalam infografis, video dan sudah pasti tulisan. Sebarkan hasilnya di sosial media, koran, media daring dan karyawan. Kadang, yang terakhir ini sering kita lupakan, kita menyebar informasi kepada pemangku kepentingan di luar perusahaan, tetapi tidak memberikan informasi terkini untuk karyawan.

Buat strategi komunikasi yang terukur dengan target yang jelas. Kalau kerja hanya asal kerja, kerbau di sawah juga bekerja. Kalimat satir ini bukan dari saya tapi dari Buya Hamka. Jadi jangan protes. Terakhir, jadilah pemecah masalah. Belajar membuat analisis yang tajam dan jernih untuk mencari alternatif penyelesaian masalah. Ingat, setiap masalah itu unik dan perlu pendekatan masing-masing. Mirip kalau pacarmu ngambek, penyelesaiannya tak selalu sama, bukan?