Tak Ada Kata Penolakan untuk Emban Tugas Negara

350
Tugas Negara Paskibraka
Dokumentasi Istana

Perjuangan Demi NKRI

Untuk sebuah tugas negara, tidak ada istilah penolakan. Apapun rintangan yang menghalangi harus dilewati.

Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh seorang siswa kelas XII IPA Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 4 Rejang Lebong, Bengkulu, yakni Sudrajat Prawijaya.

Ia kembali terpilih sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Kepresidenan pada tahun ini bersama tujuh rekannya yang lain.

“Karena ini tugas negara dan drajat lakukan dengan segala pengorbanan dan perjuangan juga kak demi NKRI,” katanya kepada Mading.id pada Kamis (3/9/2020).

Ia yang di tahun sebelumnya menjadi Paskibraka bersama 67 siswa lain dari seluruh provinsi di Indonesia itu terpilih lagi setelah dihubungi oleh pelatihnya.

Di situlah, ia pun diuji kemampuannya oleh sang pelatih mengenai gerakan baris berbaris dan wawancara mengenai keadaan daerahnya, serta kesiapannya bertugas lagi.

Ia pun diizinkan orang tuanya untuk mengemban tugas negara tersebut meski dalam kondisi pandemi seperti saat ini.

“Selang beberapa hari kemudian keluar surat dari Kemenpora langsung bahwa drajat bertugas kembali di Istana Negara di tahun 2020,” kata Pembentang Merah Putih pada peringatan Upacara Hari Kemerdekaan Ke-75 Indonesia di Istana Kepresidenan pada 17 Agustus 2020 itu.

Kabar kembali terpilihnya menjadi Paskibraka tentu membuatnya campur aduk bahagia plus khawatir. Hal serupa dirasakan oleh keluarganya.

Pasalnya, tentu ia senang dengan kembali mengemban tugas negara tersebut, tetapi juga khawatir karena harus menjaga kesehatan secara ekstra karena pandemi.

Niat Usaha dan Doa

Ia menjelaskan bahwa niat, usaha, dan doa menjadi kunci keberhasilannya mencapai titik tersebut.

Sebab, lanjutnya, banyak orang yang ingin menjadi Paskibra, mengibarkan bendera Merah Putih dan mengenakan pakaian putih yang membuatnya terlihat gagahnya saja, tetapi tidak ingin melalui semua proses-prosesnya, sering mengeluh, dan tidak ada semangat.

“Jadi, yang paling penting modal untuk menjadi paskibraka itu niat, ikuti semua prosesnya. Karena semua tidak ada yang instan, from zero to hero,” katanya.

Pelaksanaan pengibaran bendera pusaka pun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dilakukan oleh pasukan berjumlah 68 orang menjadi hanya delapan orang saja, pun dengan latihannya.

Biasanya cukup dengan jarak satu lengan, tetapi di tahun ini harus berjarak dua sampai tiga meter.

“Itu memengaruhi jarak pandang, tapi tidak membuat kami menyerah.

Kami selalu semangat walaupun dihalangi jarak yang jauh kemudian masker yang selalu dipakai,” kata pelajar kelahiran Curup itu.

Bekal Menjadi Kopassus

Keaktifannya di Paskibra terdorong oleh orang tuanya yang siap sedia berkorban dan berjuang untuknya.

Drajat, sapaan akrabnya, tentu tidak ingin membuat perjuangan dan pengorbanan orang tuanya itu sia-sia dan berujung mereka kecewa.

Rasa ingin tahu yang menggebu, semangat yang membara, dan sikap enggan menyerah terus ditunjukkannya.

Tak ayal, proses tersebut mewujudkan citanya berada di barisan Paskibraka hingga melengkungkan senyum kedua orang tuanya.

Menjadi Paskibraka bukanlah akhir dari cita-citanya.

Itu merupakan justru awal dari harapannya menjadi bagian dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), sebuah satuan terbaik di Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Baginya, Paskibra memberikan bekal yang lumayan untuk memasuki dunia militer.

“Setidaknya nanti pada waktu ikut tes tentara, Drajat gak kaget lagi karena sudah ada bekal di Paskibra,” ujar pelajar yang masih berusia 17 tahun itu.

Sebab, ia pun pernah mengalami nikmatnya hukuman di Paskibra karena melakukan suatu kesalahan.

Tetapi, hal tersebut ia anggap sebagai sarana menambah wawasannya karena ada pengetahuan baru yang didapatnya.

Deras kucuran keringat saat berlatih dan menerima hukuman adalah bagian yang tak bisa terhindarkan dan menjadi satu keseruan tersendiri bagi Drajat.

Penulis: Syakir NF