Sungai Mandar Masih Mengalir

535
kompadansamandar.or.id

Oleh: Abdul Muttalib
(Pecinta Perkutut di Mandar)

Seorang guru TK Islam Nusa Putra Tinambung di tahun 80-an pernah mengajukan pertanyaan sederhana kepada para siswanya. “Apa yang biasa kalian bawa jika mau mandi di Sungai Mandar?” Kontan pertanyaan itu diserbu jawaban yang beragam. Diantara jawaban yang beragam itu, ternukil sebuah jawaban yang telihat berbeda. “Pakka-Pakka Ibu Guru.”

Kini memori masa lalu anak itu kembali mengalir serupa aliran Sungai Mandar atas tongkat Kama’-nya (bahasa Mandar: bapak) atau pakka-pakka yang dibuat dari dahan pohon bercabang atau meppakka. Selain karib di pancangkan ke pasir di tengah aliran sungai, Pakka-pakka sering menjadi tempat menyimpan sabun dan menyampirkan sarung ketika tengah mandi di Sungai Mandar.

Kaya Simbol

Kenangan yang terus mengalir di benak anak itu, sewaktu membaca ungkapan bijak; ”Kayfa yastaqiinu dzillu wa al-‘ udu a’waj (Bagaimana mungkin bayangan bisa lurus, jika tongkatnya bengkok,” Hal.5) yang termaktub pada buku: “Tuhan lagi Ngapain? (Sapaan Seorang Hamba pada Tuhannya),” karya Annangguru Muhammad Syibli Sahabuddin (MS).

Tongkat yang dimaknai sebagai simbol, ketika merunut sejarah masyur atas peran dan posisi sentral kedua tokoh mulia yakni: Nabi Muhammad S.A.W dan Nabiyullah Isa A.S. Nilai ketokohan yang di simbolkan serupa tongkat dan banyangannya. Tongkat yang karib jadi penyangga, pegangan, sekaligus penunjuk arah sang mpunya tongkat.

Tongkat yang dapat berarti mandat sosial, tanggungjawab sejarah, dan pemandu masa depan atas keterbatasan bayangan. Bayangan yang senantiasa hanya mengikuti pola, gejala dan kecederungan kibasan tongkat. Bukankah kisah tongkat juga masyur mengikuti alur kisah hidup dan kemulian Nabiyullah Musa A.S sewaktu membelah lautan dengan pukulan tongkatnya?

Nabiyullah Musa A.S yang kian tersudut ketika bala tentara Firaun yang dikomandoi Samirin mengejar sampai di tepi laut merah. Sungguh penulis tidak sedang membandingkan kemulian tongkat Nabiyullah Musa A.S dengan tunduknya lautan sewaktu terbelah, melainkan mulai mengamati betapa kekuasaan Raja Firaun sudah berwujud ‘tongkat kekuasaan bengkok’ yang butuh di luruskan dengan tongkat Nabiyullah Musa A.S.

Diskursus tentang kekuasaan juga dapat diamati pada anekdot “Ingat ayat sebelum dapat kursi, dan lupa ayat setelah dapat kursi,” pada tulisan “Ayat dan Kursi” Hal (23), yang ikut menampilkan simbol kursi sebagai perlambangan kekuasaan. Simbolisasi mata air, muara, api, serta Bunga Melati menjadi rangkaian kekayaan simbol yang secara sadar di hadirkan di buku yang memuat 15 esai pendek karya Annangguru MS.

Semerbak Melati

Buku yang sebelumnya pernah terbit di tahun 2015 dan diterbitkan kembali The Sahabuddin Institute bekerjasama Lembaga Mammesa (Media Masyarakat Transparansi Indonesia) di tahun 2020, ikut menampilkan Bunga Melati sebagai metafora yang dalam bahasa Mandar sering disebut bunga Beru-beru. “Tania Beru-beru mappannassa sarrinna Beru-beru, sarrinna dzi tia maannassai Aberu-beruanna.

(Bukan karena ia Bunga Melati sehingga harum semerbak, justru kerena harumnya yang semerbak maka disebut Melati. Hal. 6.) Tidak hanya kaya simbol, buku dengan jumlah halaman sebanyak 147 itu banyak memuat ungkapan dan pepatah bijak. Setidaknya buku itu mengurai banyak ikhwal terkini, dan secara tidak langsung menggambarkan dimensi penghayatan hidup Annangguru MS dalam membaca realitas sosial berbasis hikmah.

Penghayatan  hidup ketika mengamati bunga Melati tidak hanya sebagai bunga yang karib merupkan semerbak keharuman, melainkan seolah mengajak pembaca memaknai lebih dalam tentang Bunga Melati. Bunga Melati bagi orang Mandar, sudah sejak lama identik dengan kehidupan para salik, bahkan tokoh sufi kharismatik seperti KH. Muhammad Thahir (Imam Lapeo) diketahui pernah menukilkan syair indah tentang Bunga Melati.

Beru-beru di Kandemeng meuwake di kollang, ba’bar di jenne, sarombong di sambayang. Bunga melati di Kandemeng (nama dusun di Desa Batulaya Kec. Tinambung Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat) berakar di kolam (mecitrakan akar-kekuatan tauhid), mekar sewaktu mengambil air wudu (citra pembersihan dari segala hadas atau kotoran), semerbak harumnya ketika menunaikan salat (salat sebagai tiang kokohnya agama).

Hikmah lain, terlihat jelas di tulisan berjudul “Bencana Pun Mahluk Tuhan” (Hal.13).  Bencana dengan segala terminologinya dengan ringan dan sederhana didedah dalam perspektif tasawuf. Bisa jadi tulisan ini secara tidak langsung, mengajak kita merenungi hikmah dibalik bencana wabah pandemi covid-19 yang tengah atau masih menjadi momok menakutkan bagi segenap ummat manusia.

Mata Air

Setidaknya kehadiran buku Annangguru MS dengan ilustrasi sampul ‘tangan menengadah’ serupa berdoa, dapat dimaknai sebagai bentuk ikhtiar, pengharapan sekaligus bentuk keterbatasan manusia dalam menera, menakar dan menangkap hikmah dari setiap peristiwa, fenomena, dan segenap pernak pernik persoalan hidup manusia. Persoalan hidup yang seolah tiada bermula dan berpangkal jika tengah didera persoalan hidup yang pelik.

Mungkin serupa Sungai Mandar, terkadang  keruh, terkadang jernih, terkadang dangkal, terkadang meluap. Sungai Mandar yang terus merindu ‘mata air kesejatian’ sebagai upaya manjadi Abduh (hamba), sekaligus khalifah di muka bumi yang awalnya sempat membuat malaikat sangsi atas segala potensi kebaikan dan keburukan yang dimiliki manusia, dan hal itu dapat disimak pada tulisan bernada liris, “Akhirnya Malaikat Takjub” (hal 43).

Jika mengandaikan, mata air sebagai sumber kejernihan, lambang kehidupan dan penghidupan, maka mata air sedianya dapat mengalir ke muara. Perlambangan muara sedianya dapat dimaknai sebagai akhir dari perjalan panjang hidup manusia. Perjalan hidup yang tidak jarang didera rasa lapar dan dahaga.

Lapar dan dahaga secara materi mungkin mudah diatasi. Akan tetapi jika yang dimaksud ‘lapar-dahaga’ spiritual, maka dapat dipastikan larisnya buku agama, menjamurnya majelis pengajian, banyaknya gelaran pengajian akbar, dan ragam jenis arisan yang karib menghadirkan para dai dan ustaz sebagai sumber ‘mata air kebijaksanaan’ terlihat belum mampu membendung gelombang ‘keruhnya’ situasi dan kondisi ke-beragama-an manusia dewasa ini.

Manusia yang gampang menuai konflik. Manusia yang rentang mengobarkan api kebencian. Kebencian yang terus meruncing dan tak jarang bermuara pada pertumpahan darah atas nama agama. “Begitu mudah hari ini ditemukan antar sesama muslim. Membaca syahadat yang sama, mengimani rukun yang sama, malah saling menyalahkan, menyesatkan yang ujungnya saling mengkafirkan,” (Hal.72-73).

 Situasi itu ditengarai bersumber dari sifat api dalam diri manusia yang jika terlalu dominan akan sulit di kendalikan, “Sehingga gampang menyulut prasangka, bahkan membakar asumsi baik dan menumbuhkan sifat buruk sangka,” (Hal.117). Parahnya jika sangka buruk itu tidak hanya menjalari hubungan sosial manusia, tapi ikut menjerumuskan manusia ke prasangka buruk terhadap segenap ketentuan Tuhan.

Ketentuan Tuhan yang jika di ibaratkan serupa mata air yang senantiasa tersenyum pada muara. Muara yang senantiasa rindu kepada ‘mata air kesejatian.’ Mungkin serupa aliran Sungai Mandar yang masih menderas di memori masa lalu anak itu. Anak yang tengah asik mencari jawaban dari pertanyaan filosofis pada judul buku; Tuhan lagi Ngapain?

Wallahu A’lam bish-shawabi..

IDENTITAS BUKU:

Judul Buku      : “Tuhan Lagi Ngapain? (Sapaan Seorang Hamba pada Tuhannya)”

Pengarang       : Annangguru Muhammad Syibli Sahabuddin

Penerbit           : The Sahabuddin Instute dan Lembaga Mammesa

Tahun Terbit   : Cetakan pertama, 1 Januari 2015, Cetakan kedua, tahun 2020.