Strategi Membangun Ritme Pembelajaran Daring

328
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Dunia pendidikan kita hari ini diancam permasalahan besar. Pandemi yang sudah berjalan satu tahun lebih, ternyata bukan hanya berdampak terhadap sektor kesehatan dan ekonomi. Banyak sekali orang tua yang mengeluhkan anaknya yang merasa keberatan menerima tugas banyak dari gurunya dalam pembelajaran daring.

Sebagian guru bahkan masih ada yang menganggap bahwa pembelajaran daring hanya cukup memberi tugas tanpa memberikan bimbingan atau penjelasan lanjut. Bahkan ada sebagian guru yang memberi tugas begitu saja, tanpa menakar sejauh mana kemampuan tingkat psikologis anak didiknya dirumah.

Dikutip dari Wartakotalive.com, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan Retno Listyarti membenarkan, bahwa tugas atau pembelajaran daring yang diberikan oleh guru selama ini sangat memberatkan siswa serta orang tua di rumah.

Menurutnya, situasi saat ini merupakan situasi yang sulit, ditambah lagi dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa, yang mesti ditemani dan dibimbing oleh orang tuanya. Hal ini membuat siswa dan orang tua menjadi stres dengan tugas yang ada.

Baca juga: Menyebarkan Optimisme Soal Covid-19

Sudah semestinya, guru mampu memperhitungkan waktu pengerjaan tugas, sumber belajar, beban psikis siswa dan keadaan keluarganya di rumah. Fasilitas pendukung juga seharusnya sudah menjadi bahan pertimbangan untuk setiap tugas yang diberikan.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPAI) atau yang biasa dikenal dengan Kak Seto juga menjelaskan, bahwa banyak sekali anak yang stres dan ingin kembali ke sekolah saja daripada mengikuti kegiatan pembelajaran daring.

Ia juga menyayangkan keadaan ini, karena situasi saat ini tidak memungkinkan untuk menggelar dan mengadakan kegiatan pembelajaran di sekolah. Maka seharusnya guru mulai memahami psikologis anak dan keluarganya pada saat dirumah.

Situasi pendidikan saat ini menuntut kreatifitas guru. Dimana seorang guru harus bisa mendesain pembelajaran yang nyaman, menarik, dan dapat memotivasi siswa. Hal-hal tersebut sangat penting karena siswa mengalami kejenuhan bukan hanya soal pendidikan tapi realitas sosial yang dialaminya.

Adanya kretivitas guru dalam mendesain konsep belajar akan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak memberi beban psikis kepada siswa. Ternyata, kretivitas saja, belum cukup untuk menangani persoalan pendidikan ditengah pandemi, guru juga harus bersinergi dengan orang tua yang menjadi walinya ketika pembelajaran daring ini.

Sinergitas antara guru dan orang tua ini bertujuan untuk mengetahui siswanya saat mengalami proses demi prosesnya saat pembelajaran daring ini berlangsung. Hal ini penting, karena monitoring guru saat pandemi tidak bisa intens dengan siswanya, sehingga peran orang tua sangat membantu guru dalam membangun efektivitas pembelajaran.

Ketateraturan ritme belajar siswa hanya bisa dilakukan apabila pembelajaran tersebut menyenangkan dan memotivasi untuk tetap semangat belajar dalam keadaan pandemi. Menyenagkan sendiri memiliki arti, siswa diberi instruksi atau dibuatkan kegiatan yang nantinya membuat suasana hari siswa riang gembira.

Berangkat dari situ, tentu mendesain pembelajaran yang aktif dan kretif harus melalui riset yang dalam mengenai persoalan dilapangan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan.

Strategi Menata Ritme dalam Pembelajaran Daring  

Pertama, metode dan kegiatan yang didesain harus beragam. Keberagaman akan membuat siswa teteap berkonsentrasi dan tidak jenuh. Melalui variasi pembelajaran siswa akan semakin tertantang untuk setiap rintangan.

Kedua, siswa juga harus menjadi student center, jangan hanya guru yang aktif namun siswa juga mempunyai kesempatan yang sama. Berikan siswa kesempatan untuk menganalisis dan memecahkan masalah dengan bimbingan guru.

Ketiga, menciptakan suasana yang kondusif melalui komunikasi yang baik dengan memberikan dukungan dan semangat kepada siswa. Dan lebih menghormati dan mengetahui kondisi ekonomi dan sosial mereka.

Keempat, buat jadwal teratur mengenai proses pembelajaran, libur sekolah bukan berarti berleha–leha. Guru dan orang tua harus selalu mengingatkan kepada peserta didik mengenai situasi yang terjadi bahwa sekolah tetap berlangsung, namun hanya dipindahkan kerumah.

Kelima, Manfaatkan media pembelajaran daring. Disini orang tua bisa mengarahkan anak-anak untuk benar-benar memanfaatkan aplikasi atau situs-situs pembelajaran gratis yang disediakan pemerintah sambari orang tua juga bisa menyiapkan situasi yang nyaman dan menyenagkan.

Keenam, konsentrasi penuh, jauhakan perhatian kita terhadap benda-benda disekitar yang menciptakan distraksi. Seperti, games online atau lainya, yang initinya akan membuat kamu tidak fokus dengan pembelajaran daring. Kosentrasi penuh ini juga berkaitan dengan tidak menunda-nunda seuatu hal lainya.

Baca juga: Memperjuangkan Kepentingan Nasional Melalui Politik Bebas Aktif

Ketujuh, menjaga kesehatan, ini sangat penting ditengah situasi dan kondisi yang seba tidak pasti. Kondisi tubuh yang sehat sangat mempengaruhi produktivitas dalam pembelajaran daring. Untuk memiliki kesehatan yang fit perlu adanya jam tidur yang normal dan cukup, makanan bernutrisi, vitamin dan selalu berolahraga.

Hal-hal tersebut sangat membantu siswa dalam memposisikan diri dan pikiranya ketika pembelajaran daring berlangsung. Kreatifitas guru dan sinergitas guru dengan orang tua menjadi hal pokok yang harus selalu berjalan seiring bersama dengan kesabaran dan ketekunan untuk siswa.

Tentu, wajah pendidikan saat ini sangat memberatkan orang tua, yang dituntut untuk memiliki peran baru dalam mendidik putra-putrinya. Karena kalau hanya mengandalkan guru dan gadget proses pembelajaran masih jauh dari kata yang menyenangkan, semoga para orang tua selalu diberi kesabaran dan kesahatan. Dan yang terpenting semoga pandemi Covid-19 cepat brelalu agar generasi negri ini mendapatkan pendidikan yang optimal.

Penulis: Mukhammad Khasan Sumahadi
(Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)