Stop Perdebatan Tentang Teori Konspirasi Covid-19

345
konspirasi
Photo by Matteo Jorjoson on Unsplash

Terhitung mulai tanggal 3-20 Juli 2021, pemerintah melalui pernyataan Presiden Joko Widodo resmi menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat untuk wilayah Jawa-Bali. Pemberlakuan PPKM sendiri dilakukan akibat kembali meningkatnya kasus Covid-19 ditengah masyarakat kita khususnya yang berada di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan PPKM ini bukan hanya tentang persoalan ekonomi yang semakin hari semakin memburuk dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 ini sudah berjalan selama lebih dari satu tahun saja, melainkan masih banyak diantara masyarakat kita yang tidak percaya dengan bahaya covid-19 yang sudah menyentuh 2 juta lebih kasus hingga saat ini.

Fenomena Teori Konspirasi Covid-19 di Indonesia

Dikutip dari situs www.idxchannel.com , Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa kejadian ini tak lepas dari para penggemar teori konspirasi yang marak di media sosial. Akibatnya, banyak orang yang tak percaya bahwa penyebaran Covid-19 itu masih terjadi. banyak tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia. Salah satu yang perlu diperhatkian karena kemajuan teknologi.

Baca juga: Dunia Adalah Teater Kepahlawanan

Teori konspirasi yang menjelaskan tentang Covid-19 sendiri sebenarnya sudah berkembang sejak pertama kali virus ini berkembang di Wuhan, Tiongkok. Banyak yang mengkait-kaitan virus ini dengan teori bahwa virus ini merupakan senjata biologis, ada pula orang-orang yang mempercayai bahwa virus ini sengaja dibuat agar dapat menguntungkan beberapa pihak tertentu.

Di Indonesia sendiri, salah satu influencer yang getol menyuarakan tentang teori Covid-19 seperti yang sudah kita semua ketahui yaitu drummer grup musik SID, Jerinx. Jering sangat gencar menyuarakan bahwa Covid-19 merupakan sebuah rekayasa dari kaum elit global. Ia juga sangat tegas mengkritik para influencer lain yang gencar menyuarakan bahaya virus Covid-19.

Memang benar bahwa negara kita menjunjung tinggi kebebasan berpendapat sesuai dengan Pasal 28E UUD 1945, akan tetapi kebebasan berpendapat tidak seharusnya digunakan untuk mengintimasi orang lain apalagi kondisi darurat virus Covid-19 saat ini sangat mempertaruhkan keberlangsungan hidup banyak orang di negara kita tercinta ini.

Bahkan harus kita sadari pandemi covid-19 ini sudah berlangsung selama lebih dari 1 tahun, sedangkan kondisi yang kita alami sekarang bukannya semakin membaik namun semakin memburuk. Sudah banyak orang-orang terdekat kita yang pergi meninggalkan kita selama-lamanya akibat terkena dampak virus ini.

Selain itu kondisi ekonomi yang semakin memburuk serta proses belajar mengajar yang masih dilakukan dengan sistem jarak jauh juga masih dilakukan di beberapa tempat. Keadaan yang semakin memburuk ini tak akan pernah berlalu jikalau masyarakat kita masih saja ribut dengan persoalan asal muasal virus ini muncul.

Sebagai perbandingan, mari kita tengok kondisi pandemi Covid-19 di negara lain misalnya Singapura. Di negara tetangga kita itu, selain kesuksesan pemerintahnya dalam mengambil kebijakan menangani pandemi Covid-19 ini, kesadaran dan ketertiban masyarakatnya tentang bahaya menghadapi virus ini menjadi kunci kesuksesan negeri The Lion City itu.

Bukan hanya Singapura, Selandia Baru yang sebelumnya memegang rekor sebagai negara dengan kesuksesan tertinggi dalam menghadapi Covid-19 juga melalui keterangan Duta Besar RI untuk Seladia Baru, Tantowi Yahya pada situs www.okezone.com disebutkan bahwa setiap orang di negara itu memberi peran masing-masing untuk mendukung pemerintah menghadapi Covid-19.

Membangkitkan Kesadaran Masyarakat Untuk Tidak Menghiraukan Teori Konspirasi Covid-19

Berkaca dari kesuksesan kedua negara tersebut, kesadaran masyarakat tentang bahaya Covid-19 di negeri kita harus terus dibangkitkan lagi. Terlebih bagi masyarakat yang sudah benar-benar menyadari bahaya virus ini harus ikut menyuarakan dan menyadarkan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu agar tidak termakan isu-isu yang tidak akan menyelesaikan masalah ini.

Harus kita sadari bersama, darimanapun virus ini berasal bangsa kita telah merasakan dampak buruk dari bahayanya pandemi virus Covid-19 ini. kalau masih saja meributkan teori konspirasi Covid-19 yang tidak akan menyelesaikan masalah ini. Apalagi sampai saat ini obat dari virus tersebut belum ditemukan.

Pemerintah saat ini juga sedang melakukan proses percepatan vaksinasi Covid-19 di berbagai tempat di Indonesia. Akan tetapi proses ini juga tidak akan berjalan dengan lancar apabila masyarakat kita tidak solid dan masih acuh akan pentingnya vaksin.

Paling tidak, tindakan preventif dalam menghadapi virus Covid-19 ini seperti menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker serta dirumah saja apabila tidak ada keperluan khusus juga harus tetap dilakukan.

Disamping itu, edukasi kepada sesama dan menghentikan perdebatan tentang teori konspirasi pandemi Covid-19 adalah tindakan yang tampaknya sederhana namun tanpa kita sadari dari situlah kunci kesuksesan kebijakan PPKM yang dilakukan oleh pemerintah kita saat ini.

Berkaca dari kegagalan kebijakan PSBB sebelumnya, kesadaran masyarakat masih menjadi problem yang masih sulit untuk diatasi. Apalagi saat ini virus Covid-19 yang kita hadapi sudah bermutasi ke berbagai varian. Mau sampai kapan kita terus menghadapi ketidakpastian ini?

Patuhi protokol kesehatan yang ada, patuhi regulasi PPKM yang dijalankan serta kuatkan iman dan imun  agar kita sekalian tetap aman. Dan sebagai penutup, saya mengajak para pembaca sekalian untuk mengatakan “Stop memperdebatkan teori konspirasi Covid-19, kesehatanmu berarti bagi kesehatan kita semua”.

Penulis: Muhammad Ahsan Rasyid
(Alumni Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)