Spiritualitas Bung Karno – Bagian 2

1293
Maula Nusantara

Oleh: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Jakarta)

Proses pencarian spiritual Bung Karno, sebagaimana direkam Cindy Adams, menemukan momen pematangannya saat ia dipenjara dan diasingkan. Pada 1930, sebagai ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), ia dijebloskan ke Penjara Banceuy, Bandung, karena tuduhan subversif (rencana pemberontakan bersenjata). Dari Penjara Banceuy, Bung Karno dipindahkan ke Penjara Sukamiskin dengan masa hukuman 4 tahun. Berkat bacaan keagamaan dan renungan spiritual yang mendalam selama di penjara, barulah menurutnya ”Aku menemukan Islam dengan sungguh-sungguh dan benar. Di dalam poenjaralah aku menjadi penganut Islam yang sebenarnya.”

Pada 1934, Soekarno diasingkan ke Ende, daerah terpencil di Pulau Flores, yang memberinya banyak waktu untuk merenung dan mematangkan konsepsi ketuhanan dalam kaitannya dengan nilai-nilai dasar kebangsaan secara lebih mendalam. Ia mengisahkan:

”Di Ende yang terpencil dan membosankan itu, aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Di depan rumahku tumbuh sebatang pohon kluwih. Berjam-jam lamanya aku duduk bersandar pada pohon itu, memanjatkan harapan dan keinginan. Di bawah dahan-dahannya aku berdoa dan berpikir, mengenai suatu hari … suatu hari … Itu adalah perasaan yang sama yang menguasai MacArthur di kemudian hari. Dengan setiap sel syaraf berdenyut dalam seluruh tubuhku, aku merasakan bahwa bagaimana pun juga—di mana saja—kapan saja—aku akan kembali. Hanya semangat patriotisme yang menyala-nyala yang masih berkobar di dalam dadaku, yang membuat aku terus hidup.”

Suasana keterasingan menciptakan kesadaran religius dalam diri Bung Karno. Kesadaran ini mendorongnya lebih banyak belajar agama, yang rasa penasarannya sedikit terobati dengan pasokan buku-buku agama dan surat-menyuratnya dengan tokoh-tokoh keagamaan, terutama Ahmad Hassan, pemimpin Persatuan Islam (Persis). Kesadaran religius ini lantas memberikan dimensi tambahan terhadap Marhaenisme, selain asas ”sosio-nasionalisme” dan ”sosio-demokrasi”. Pada titik ini, kandungan Pancasila telah menemukan bentuk awalnya. Dalam pengakuannya, dikatakan:

”Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.”

Dalam perkembangan selanjutnya, Bung Karno tumbuh sebagai pemimpin politik dengan penghayatan spiritual yang dalam. Hal inji tercermin dalam uraiannya seputar Pancasila dan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Salah satu alasan mengapa dasar negara Indonesia terdiri dari lima sila, menurutnya, selain kelima unsur itu memang berakar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia, juga karena angka lima memiliki nilai simbolik dalam masyarakat Indonesia. Ia antara lain menyatakan bahwa ”rukun Islam” pun jumlahnya lima.

Tentang penentuan Hari Proklamasi, Bung Karno juga merujuk pada pengalaman spiritualnya. Meskipun para pemuda terus mendesaknya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Bung Karno tetap tidak mau mengabulkan permintaan mereka. Alasan utamanya karena kemerdekaan Indonesia bukanlah untuk satu-dua hari, tetapi diharapkan bisa terus bertahan. Sebelum memutuskan Hari Kemerdekaan, ia merenung terlebih dahulu dan bahkan sempat meminta nasihat dari KH Hasyim Asy’ari. Sebagaimana dicatat Aguk Irawan, beberapa hari sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim Asy’ari memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhrur (penghulunya bulan).

Dengan bertolak dari perenungan spiritual yang mendalam dan berbekal nasihat dari Kyai Hasyim Asy’ari, akhirnya Bung Karno memutuskan tanggal 17 Agustus 1945—bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H—sebagai Hari Proklamasi, dengan alasan bahwa tanggal tersebut merupakan ”hari yang baik”. Selengkapnya ia menceritakan:

”Aku percaya pada mistik. Aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku. Tetapi aku merasakan di dalam relung hatiku … Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada di bulan suci Ramadhan … Hari Jum’at ini Jum’at Legi. Jum’at yang manis. Jum’at suci. Dan hari Jum’at tanggal 17. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia. Ketika aku pertama kali mendengar berita penyerahan Jepang, aku berpikir kita harus segera memproklamasikan kemerdekaan. Kemudian aku menyadari, adalah takdir Tuhan bahwa peristiwa ini akan jatuh di hari keramat-Nya. Proklamasi akan berlangsung tanggal 17. Revolusi akan mengikuti setelah itu.”