Spiritualitas Bung Hatta – Bagian 2

616
Photo Mohammad Hatta On Wikimedia Commons

Oleh: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Jakarta)

Waktu libur kuliah, dengan nilai tukar Gulden Belanda yang jauh lebih tinggi dari mata uang lain, Bung Hatta biasa berlibur ke kota-kota lain di Jerman, Austria, Prancis, dan Skandinavia. Di Hamburg dan Berlin, ia menyempatkan nonton opera dan teater. Di Wina, ia tak luput menonton konser musik klasik. Meskipun menjelajahi kehidupan budaya tinggi di Eropa, ia tetap taat menjalankan tuntutan agama. Dalam pengakuannya, ia mengatkan, “Sebagaimana biasa, aku bangun pagi hari pada jam 6.30. Waktu musim dingin, aku tidur sampai jam 7. Setelah aku bangun dan sembahyang subuh, aku mulai membaca surat kabar.” Bahkan ketika Ir. Fourner dan Ir. Van Leeuwen membujuknya untuk menjadi anggota perkumpulan Teosofi, Bung Hatta dengan halus menolaknya.

“Aku menolak terus terang dengan alasan aku taat pada Islam. Ir. Fourner mengatakan bahwa agama Islam tidak menjadi halangan untuk menjadi orang Teosofi. Teosofi bukan agama, katanya, melainkan ajaran, dan Teosofi memperkuat pendirian Islam untuk mencapai persaudaraan bangsa-bangsa di dunia. Tapi aku terus menolak.”

Keteguhan pendirian akan keyakinan terhadap ajaran Islam membuat Bung Hatta tidak memiliki keberanian untuk menenggak minuman yang memabukkan. Alhasil, ia seringkali menjadi bahan “ledekan” teman-temannya. Perihal pendiriannya ini, ia mengisahkan:

“Selama di Hamburg, masih sempat kami pada suatu malam bersama-sama dengan Dr. Eichele dan Usman Idris melihat opera. Sebelum menontoh opera, kami makan malam dahulu pada sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele dan Usman Idris memesan bir untuk minum, aku pesan air es. Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa. Di masa itu, tiap-tiap restoran memesan bir berbotol-botol sekali pesan, sedangkan es dipesan dari pabrik es setiap kali. Frigidaire di waktu itu belum ada.”

Meski berpegang teguh pada pendirian keagamaannya, Bung Hatta tetap mengembangkan pergaulan yang luas dan luwes. Selama kuliah di Belanda dan menjadi aktivis Perhimpunan Indonesia (PI), ia menjalin hubungan erat dengan aktivis-aktivis berlatar Sumatera (seperti Nazir Pamuntjak), Jawa (seperti Subardjo dan Gunawan Mangoenkoesoemo), Sunda (seperti Iwa Koesoema Soemantri), Indonesia Timur (seperti A.A. Maramis dan Arnold Monotutu), dan Tionghoa (seperti Dr. Liem). Bahkan ia tak segan menjalin komunikasi dengan aktivis-aktivis komunis seperti Tan Malaka dan Semaun. Rentang pergaulannya lantas dikembangkan ke gelanggang internasional dalam liga-liga anti-penjajahan, yang mempertemukannya dengan berbagai tokoh Asia, termasuk Jawaharlal Nehru dari India.

Sebagai akibat perjuangannya di Negeri Belanda, bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datok Pamuntjak, dan Abdulmadjid Djojohadiningrat, ia terpaksa meringkuk dalam tahanan di Den Haag menghadapi tuduhan pihak Belanda untuk antara lain menghasut dan memberontak. Pada momen inilah ia membacakan pidato pembelaannya yang terkenal, “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka), di depan pengadilan Belanda. Ia dibela oleh advokat Mr. J.E.W. Duys (yang juga anggota parlemen Belanda dari Partai Buruh Sosial Demokrat), yang akhirnya membebaskannya sama sekali dari tuduhan. Ironisnya, setelah pulang ke Indonesia pada tahun 1934, ia dibuang ke Digul tanpa proses pengadilan, suatu fakta yang menunjukkan perbedaan antara pengadilan di negeri penjajah dan pengadilan di negeri jajahan.

Bung Hatta tidak hanya mempelajari Islam sebagai sebuah doktrin, tetapi juga bersikap dan bertindak sebagai seorang Muslim. Ia tidak keras membela Islam, tetapi semua tindak-tanduk dan tingkah lakunya, termasuk secara pribadi, dan dalam perjuangannya mewujudkan cita-cita politik, sosial, dan ekonomi, ia selaraskan dengan spirit Islam. Ia juga tidak terpengaruh oleh pergaulan bebas, termasuk ketika bermukim di Negeri Belanda. Baginya, ajaran Islam itu tidak hanya memandu tingkah lakunya, tetapi juga membentuk pandangannya tentang kehidupan masyarakat dan negara. Di kalangan Islam, ketaatannya beribadah mempunyai catatan tersendiri. Di zaman Jepang, ia pernah ditawari oleh pihak Nahdlatul Ulama untuk memimpin organisasi ini.

Ada dua hal yang sangat mempengaruhi Hatta dalam melihat dan memahami Islam, yakni iman kepada Allah (habl min Allah) dan kepedulian sosial (habl min al-nas). Dalam hal pertama, praktis ia tidak berteori. Ia tidak mempertanyakan seseorang termasuk dirinya sendiri mengapa dan kenapa beriman. Ia benar-benar beriman, percaya kepada Allah. Ia tidak mengkaji bukti keberadaan Tuhan.

Menurut Hatta, rasa percaya kepada Allah itu harus dipupuk dan ditindaklanjuti dengan amal dan perbuatan. Maka, sesuai dengan QS. Al-Muzammil/73, pemupukan ini antara lain dilakukan dengan “mengerjakan salat pada malam hari dan membaca al-Qur’an dengan bacaan yang bagus dan terang” dan “dengan sepenuh hati,” ia menambahkan. Ia menghubungkan hal ini dengan QS. Al-Muddatstsir/74: 1-7, yang bagi Hatta ini berarti “membersihkan hati, pikiran, dan perasaan, serta budi pekerti dan kelakuan.” Secara umum, hal ini sebagai perintah “kepada manusia untuk berbuat baik kepada sesamanya, karena Allah.”

Dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat dan negara, Bung Hatta merujuk pada praktik kehidupan Nabi di Madinah. Baginya, ayat-ayat al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah “memberi petunjuk dan cara bagaimana pemimpin Islam berjuang. Maka, selama di Madinah, Nabi tidak saja sebagai pemimpin masyarakat, tetapi juga sebagai kepala pemerintah.” Hatta mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sementara. Karena itu, bumi haruslah dipelihara dan ditinggalkan dalam keadaan yang lebih baik dari masa kita hidup. Ini berarti kita perlu membangun masyarakat dan negara.

Hatta merujuk pada QS. Ali Imran/4: 109 dalam hal ini. Bagi Hatta, berjuang untuk membela tanah air, bangsa, dan masyarakat bagi seorang Muslim tidak mengandung pilihan lain, karena hal ini menyangkut soal tugas hidup sebagai manusia. Ini ia buktikan dengan sikap dan perbuatannya. Penahanannya oleh pemerintah di Negeri Belanda dan pembuangannya ke Digul dan Banda Neira tidak menyurutkan tekad dan semangatnya. Malah sepanjang hidupnya ia berbuat positif bagi tanah air, bangsa, dan negara, baik sebagai manusia biasa maupun ketika memegang jabatan.

Bung Hatta memang hidup di antara kamar Islam dan kamar kebangsaan, tetapi ia senantiasa berusaha mewujudkan kedua kamar ini dalam satu rumah, dengan membaktikan dirinya kepada Allah dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, ia tidak gembar-gembor dengan dua macam cita-cita ini. Dengan latar belakang sufisme yang menekankan dimensi batin dan akhlak agama ketimbang dimensi lahiriah dan formalisme keagamaan, ditambah dengan bacaan dan pergaulan yang luas, Bung Hatta menjadi seorang Muslim yang teguh dengan tetap bersikap inklusif dan toleran. Ia memberi tamsil bahwa cara beragamanya tidak ingin seperti memakai “gincu”, begitu jelas terlihat namun kehadirannya tidak bisa dirasakan orang lain. Cara beragamanya ingin meniru “garam” dalam larutan, tidak terlihat namun kehadirannya bisa dirasakan oleh setiap orang.