Spiritualitas Bung Hatta – Bagian 1

485
Photo Mohammad Hatta on Wikimedia Commons

Oleh: Rahmat Hidayatullah
(Akademisi UIN Jakarta)

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang Sepertimu
–Iwan Fals, “Bung Hatta”

Siapa yang tak mengenal Bung Hatta? Dia adalah Sang Proklamator dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama. Dikenal dengan gaya hidupnya yang jujur, ikhlas dan sederhana, Bung Hatta adalah sosok yang memainkan peran sentral dalam pencoretan “Tujuh Kata” (“dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) di belakang Sila Ketuhanan, yang dilakukannya demi menjaga persatuan bangsa.

Dengan pencoretan “Tujuh Kata” itu—yang lebih dikenal sebagai “Piagam Jakarta”—Bung Hatta tidak bermaksud menghilangkan perwujudan syariat dalam kehidupan umat Islam. Baginya, perubahan Sila Ketuhanan itu tidak mengabaikan wajibnya syariat Islam berlaku di Indonesia, karena kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” menggambarkan tauhid, yang hanya dijumpai dalam agama Islam. Sikap iman yang toleran dan terbuka ini hanya dapat dipahami jika kita menelusuri jejak-jejak pengalaman spiritual Bung Hatta sejak kecil.

Bung Hatta lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902, dengan nama asli Mohammad Ibn ‘Atta’. Menurut Nurcholish Madjid, yang lebih akrab disapa Cak Nur, nama ini tampaknya terinspirasi oleh nama Muhammad ‘Atta-i ‘l-Lah al-Sakandari, pengarang kitab Al-Hikam, sebuah karya sufistik yang sangat terkenal di lingkungan pesantren dan surau.

Kisah lain menyebutkan bahwa nama ini merujuk pada nama penyair-sufi terkenal dari Persia, Farid al-Din Attar. Sejak bayi, Hatta selalu dipanggil Attar oleh lingkungan keluarganya, yang berarti parfum dan juga nama penyair-sufi yang disegani itu. Percakapan Minangkabau mengubah nama Attar dengan nama Hatta, sehingga nama Hatta inilah yang lebih dikenal sepanjang hidupnya.

Bung Hatta berasal dari keluarga religius dan terbilang kaya. Kakeknya, Syaikh Abdurrahman yang dikenal sebagai Syaikh Batuampar merupakan pendiri utama Surau Batuampar di Payakumbuh, yang terkenal sebagai pusat pengajaran Tarekat Naqshabandiyyah sebuah tarekat yang dicetuskan oleh Imam Baha’ al-Din al-Naqsyabandi al-Bukhari.

Ayahnya, Hadji Muhammad Djamil, merupakan ulama muda yang terkenal di daerahnya, meski meninggal cepat pada usia 30 tahun, ketika Bung Hatta masih berusia 8 bulan. Hatta kecil kemudian diasuh oleh pamannya, kakak tertua ayahnya, bernama Hadji Arsjad, yang menggantikan posisi sebagai Syaikh Batuampar dan menyandang gelar “Tuanku nan Muda”.

Tak jauh dari rumah keluarga Bung Hatta yang terletak di Aur Tajungkang, terdapat rumah dan surau ulama besar yang amat terkenal, Syaikh Muhammad Dajamil Djambek. Bung Hatta pernah mengenang, “Beliaulah yang membimbing langkahku yang pertama ke jalan pengetahuan Islam. Mengaji Qur’an sampai tamat dipimpin oleh murid-muridnya yang sudah khatam Qur’an beberapa kali dan diangkat Beliau menjadi “Guru-Tua”. Sesudah itu, untuk menanamkan pengertian tentang agama Islam, beliau sendiri yang mengajarkannya.”

Sementara itu, dari Hadji Arsjad, Hatta kecil kerap mendengar nasihat kakeknya tentang jalan spiritual:
“Datukku selalu memperingatkan bahwa jalan ke tarekat baru dapat ditempuh oleh mereka yang sudah cukup pengetahuan agamanya. Ajaran tarekat adalah pengunci didikan agama. Jalan ke situ bertangga-tangga, tidak dapat dilalui dengan meloncat-loncat. Untuk masuk ke dalam tarekat, orang harus insaf benar, bahwa dalam agama tidak ada paksaan la ikraha fi al-din. Jalan ke Tuhan ialah meyakinkan orang lain dan dimulai dengan meyakinkan diri sendiri.”

Sejak kecil, Hatta dikenal sebagai anak yang tekun dan disiplin dalam belajar. Ia adalah anak emas dari generasi yang tercerahkan. Kebijakan politik etis yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda memberikan akses kemudahan bagi sebagian kecil kaum pribumi, termasuk Hatta, untuk memperoleh pendidikan terbaik model Barat. Latar belakang pendidikan Hatta sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan dan kesukuan yang dianut dari keluarga ayah dan ibu serta masyarakat Minangkabau pada umumnya.

Dari garis keturunan ayah, Hatta mewariskan tradisi keislaman yang sangat kuat, dengan memprioritaskan pada kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia yang bersifat sementara. Sedangkan dari pihak ibu, yang memiliki latar belakang pengusaha, Hatta mewariskan ilmu ekonomi (ilmu perdagangan) yang kemudian ditempuhnya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Kedua hal itu sangat mempengaruhi pilihan-pilihan studi Hatta.

Semula Hatta hendak dipersiapkan untuk menjadi ulama, dengan rencana mengirimnya untuk sekolah agama di Mekkah dan kemudian diteruskan ke Al-Azhar, Kairo. Tetapi rupanya, suratan takdir membawanya menempuh jalan yang berbeda.

Ketika Bung Hatta duduk di kelas 3 Sekolah Rakyat Inyik Djambek, Paman Arsjad berniat pergi ke Mekkah dan akan membawa Hatta sesuai rencana. Namun ibunya merasa Hatta masih terlalu kecil, sedangkan pengajian al-Qur’an saja belum tamat. Maka, jalan menuju Mekkah pun untuk sementara tertunda. Paman Arsjad, yang semula kecewa, akhirnya sebagai orang tarekat bisa menerima juga. “Ikhtiar dijalani,” katanya, “takdir menyudahi.”

Sementara Hatta menjalani Sekolah Rakyat, Syaikh Djambek terus menggembleng pelajaran agama untuk mempersiapkan jurusan selanjutnya, ke Mekkah dan Mesir, yang tertunda. Namun takdir membuatnya harus segera pindah ke Padang, memasuki sekolah dasar Belanda, Europeesch Lagere School (ELS), dan kemudian melanjutkan studinya ke sekolah menengah Belanda, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Beruntunglah, pada pertengahan 1918, pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan yang memberi kesempatan kepada murid-murid MULO untuk mendapatkan pelajaran agama satu jam seminggu. Di sinilah ia berkesempatan mendapatkan pengajaran agama Islam dari seorang tokoh pembaharu di Sumatera Barat, Hadji Abdullah Ahmad. “Maka bersambunglah kembali pendidikanku yang teratur dalam hal agama, menurut cara baru, setelah terputus 5 tahun lamanya. Pelajaran-pelajaran secara insidentil sering kuikuti di rumah H. Abdullah Ahmad sejak setahun terakhir,” kenangnya.

Selepas dari MULO, Bung Hatta melanjutkan studi ke sekolah menengah ekonomi atas Prins Hendrik Handels School di Batavia. Di kota inilah Bung Hatta banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional, seperti Abdul Muis, H. Agus Salim dan sebagainya, yang telah dikenalnya ketika berada di Jong Sumatrenan Bond (JSB). Pada 1921, Bung Hatta berangkat ke negeri Belanda untuk kuliah di sekolah tinggi ekonomi Handels-Hoogeschool di Rotterdam.

Dengan akar kerohanian yang kuat, dalam menempuh jalan berliku dari kota kecil di Sumatera Barat, menuju kota besar Jakarta, hingga menembus jantung kosmopolitanisme Eropa, Bung Hatta tidak pernah mengalami “goncangan budaya” (culture shock) yang membuatnya harus memudarkan keyakinan.